Oleh: Suci Rahmawati Siregar
Luti gendang merupakan salah satu makanan khas Tarempa, Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau. Nama luti gendang berasal dari cara masyarakat keturunan Tionghoa setempat melafalkan kata roti menjadi luti, sedangkan kata gendang digunakan karena bentuk makanan ini lonjong dan menyerupai alat musik tabuh gendang. Camilan ini berbahan dasar adonan roti, yang biasanya diisi dengan serunding ikan. Hingga kini, proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional, mempertahankan cita rasa autentik yang telah diwariskan turun temurun.
Beberapa waktu lalu, salah satu toko oleh oleh di Batam sempat mengklaim bahwa luti gendang adalah makanan khas Batam. Klaim tersebut langsung mendapat protes dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Kepulauan Anambas, sebab luti gendang sejatinya merupakan makanan asli Kepulauan Anambas. Meski sangat populer di Batam dan mudah dijumpai di sana, luti gendang sebenarnya bukan berasal dari kota tersebut, melainkan dari daerah Tarempa, Anambas, Kepulauan Riau.
Bahan pembuatan luti gendang terdiri dari tepung terigu, telur, gula putih, mentega, ragi roti, ikan, bawang, garam, dan cabai. Setelah adonan mengembang dan diangkat, luti gendang diisi dengan olahan ikan tuna yang dibumbui bawang, cabai, serta rempah rempah. Ada pula variasi isian menggunakan abon sapi, daging ayam, maupun isian lain sesuai selera. Selain ikan tuna, isian roti ini juga bisa memakai jenis ikan laut segar lainnya, seperti tenggiri atau kakap. Untuk menghadirkan rasa pedas, biasanya ditambahkan cabai merah keriting dan cabai rawit merah. Proses memasaknya dilakukan dengan cara digoreng, dan paling nikmat disantap selagi hangat.
Dari segi bentuk, luti gendang berupa roti lonjong panjang dengan tekstur renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam. Bentuk bulat lonjong inilah yang menjadi ciri khasnya, berpadu dengan cita rasa gurih dari isiannya. Biasanya luti gendang disajikan bersama secangkir kopi atau teh panas saat sarapan pagi maupun sore hari, dan juga cocok dinikmati sebagai makanan pendamping atau camilan santai.
Penganan berbentuk roti berisi olahan ikan dan bumbu ini juga sangat cocok dijadikan buah tangan. Untuk oleh oleh, luti gendang yang biasa dibeli wisatawan umumnya masih dalam kondisi setengah matang, sedangkan yang sudah matang lebih nikmat disantap langsung di tempat, ditemani segelas teh tarik atau teh susu dingin. Jika disimpan di kulkas, luti gendang dapat bertahan hingga empat hari, sedangkan jika disimpan di freezer bisa bertahan hingga tiga minggu.
Luti gendang banyak dijual di warung warung kopi di Provinsi Kepulauan Riau, seperti Batam, Tanjungpinang, dan Karimun. Kuliner ini menjadi salah satu incaran wisatawan domestik setelah otak otak dan mi lendir, dengan harga yang sangat terjangkau, berkisar antara Rp2.000 hingga Rp3.000 per buah. Saat ini, luti gendang juga mulai dikembangkan menjadi produk UMKM unggulan dan oleh oleh khas Kepulauan Riau yang dikemas lebih modern. Beberapa produsen lokal telah melakukan inovasi dalam pengemasan vakum dan sistem pendingin agar roti ini dapat dikirim antarkota, bahkan antarnegara, terutama ke Singapura dan Malaysia yang memiliki populasi Melayu serumpun.
Luti gendang merupakan representasi dari pengaruh budaya Melayu dan interaksi budaya yang terjadi di Kepulauan Riau. Dengan kombinasi antara nilai sejarah dan cita rasa otentik, luti gendang bukan sekadar camilan biasa, melainkan simbol kekayaan budaya pesisir yang terus hidup di tengah modernisasi kuliner tanah air. Jika berkunjung ke Kepulauan Riau, mencicipi luti gendang adalah salah satu cara terbaik untuk merasakan langsung cita rasa khas Melayu yang autentik.
Redaktur: Frianka Raya Sitanggang
Leave a comment