Home Kabar Kampus Mahasiswa USU Padukan Seni dan Aksi Sosial di Art & Fundraising Exhibition 2025
Kabar Kampus

Mahasiswa USU Padukan Seni dan Aksi Sosial di Art & Fundraising Exhibition 2025

Share
Dokumentasi: Suara USU

Reporter: Ines Eliyana dan Siti Aisyah
Suara USU, Medan.
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Bahasa Mandarin menggelar Art & Fundraising Exhibition 2025 di Manhattan Times Square lantai 3, Medan, Minggu (22/6). Kegiatan ini menggabungkan pameran seni, budaya Tionghoa, dan aksi sosial dalam satu rangkaian acara.

Ketua panitia, Nabila Syafitriani, menyebut acara ini merupakan pengembangan dari kegiatan serupa yang biasanya digelar di lingkungan kampus. Tahun ini, mahasiswa menambahkan unsur penggalangan dana dan donor darah. “Kami ingin karya seni juga bermanfaat secara sosial. Tidak hanya dinikmati, tapi juga berdampak,” ujarnya.

Berbagai booth budaya ditampilkan dalam pameran ini, seperti kaligrafi Mandarin (shūfǎ), dekorasi Imlek, dan make a wish booth yang mengusung simbol harapan dalam nuansa khas Tionghoa. Selain itu, pengunjung juga disuguhkan pertunjukan seni seperti drama, musik, tari, dan lukisan. Seluruh mahasiswa tampil dalam balutan busana tradisional Tionghoa yang memperkuat kesan etnis dan tematik.

Menurut Meilan, asisten dosen pengampu mata kuliah, acara ini diikuti mahasiswa lintas fakultas dan angkatan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk latihan tanggung jawab dan kolaborasi. “Ini bukan hanya tugas akademik, tapi juga ruang untuk membangun solidaritas dan kreativitas lintas prodi,” jelasnya.

Salah satu bagian acara yang menarik perhatian adalah aksi donor darah, hasil kerja sama dengan RSUP H. Adam Malik dan Lions Club Medan Bintang. Sebanyak 15 tenaga medis disiagakan untuk melakukan skrining ketat selama tiga hingga lima jam. Hasilnya, 33 pendonor dinyatakan lolos dan mendapat apresiasi berupa goodie bag, tumbler, es krim, dan minyak goreng.

Panitia donor, Niza Ayuningtias, menyatakan bahwa kegiatan ini membuktikan bahwa seni juga bisa menjadi sarana menyelamatkan nyawa. “Kami ingin tunjukkan bahwa aksi sosial dan seni bisa berjalan beriringan,” ujarnya.

Redaktur: Jesika Yusnita Laoly

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.