Home Life Style Menolak Hustle Culture, Selamat Datang Soft Life
Life Style

Menolak Hustle Culture, Selamat Datang Soft Life

Share
Sumber: pexels.com/Vitaly Gariev

Oleh: Debora Gracia Nauli Siregar

Suara USU, Medan. Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak masa pandemi, semakin banyak individu yang merasakan kelelahan akibat gaya hidup yang serba terburu-buru dan penuh tekanan. Hal ini terutama dirasakan oleh generasi Z (gen Z) yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, sehingga menghadapi tuntutan untuk terus produktif dan meraih kesuksesan sejak usia muda. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, muncul sebuah gaya hidup baru yang dikenal dengan istilah “Soft Life”. Gaya hidup ini semakin diminati oleh gen Z karena dianggap lebih santai dan mampu mengurangi tingkat stres. Namun, perlu dipahami bahwa konsep Soft Life berbeda dengan Slow Living, meskipun keduanya sama-sama menampilkan kesan hidup yang tenang.

Soft Life sebenarnya bukan istilah baru, hanya saja eksistensinya baru populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama lewat media sosial. Istilah Soft Life pertama kali banyak digunakan oleh perempuan kulit hitam di Nigeria dan Afrika Selatan, yang memulai tren ini sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial dan ekonomi yang mereka alami. Mereka menggunakan istilah ini untuk menggambarkan gaya hidup yang penuh kenyamanan, ketenangan, dan bebas dari tekanan atau kerja keras berlebihan. Mengacu pada artikel dari Forbes, pada awalnya gaya hidup ini merupakan bentuk penolakan terhadap budaya kerja keras yang tidak seimbang, sebelum akhirnya menyebar secara global.

Gaya hidup dengan konsep Soft Life muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap Hustle Culture. Hustle culture ini sendiri merupakan budaya yang menilai seseorang dari seberapa sibuk dan produktif dirinya. Seolah-olah jika kita tidak bekerja keras dari pagi sampai malam, kita dianggap pemalas dan tidak punya masa depan. Padahal, menurut banyak psikolog, Hustle Culture justru bisa menyebabkan seseorang burnout, stres berat, bahkan depresi.

Menurut artikel dari PGSD FIP UNESA, Soft Life adalah gaya hidup yang mengutamakan kenyamanan emosional, ketenangan batin, dan lebih menghargai waktu istirahat daripada memaksakan diri untuk terus terbenam kesibukan. Artinya, orang yang menjalani Soft Life tetap bisa bekerja dan memiliki impian tanpa harus mengorbankan kesehatan mental demi kesuksesan.

Dikarenakan masih banyak orang yang masih salah paham dan mengira bahwa Soft Life itu sama dengan Slow Living, patut diketahui bahwa keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Slow Living lebih berfokus pada gaya hidup yang memperlambat ritme hidup, menikmati proses, dan menjalani hari dengan penuh kesadaran. Biasanya, Slow Living dilakukan oleh orang-orang yang ingin hidup lebih tenang, jauh dari kebisingan kota, dan dekat dengan alam. Aktivitasnya pun cenderung sederhana dan minim gangguan teknologi. Sedangkan, Soft Life jauh lebih fleksibel sebab seseorang tetap bisa tinggal di kota, bekerja di startup tertentu, atau bahkan jadi content creator, dengan mengetahui kapan harus berhenti, istirahat, dan memanjakan diri. Orang yang menjalani Soft Life tidak memaksakan diri untuk terus produktif, melainkan memberi ruang untuk istirahat, me-time, dan hal-hal kecil yang membuat hati senang. Jadi, Soft Life bukan soal hidup lambat, tapi tentang hidup lebih damai di tengah dunia yang sibuk.

Menurut laporan dari Metro TV, banyak Gen Z sekarang lebih memilih kualitas hidup yang baik daripada hanya mengejar uang dan jabatan. Mereka melihat bahwa hidup bahagia bukan cuma soal materi, tapi juga tentang mempunyai waktu untuk diri sendiri dan merasa cukup.

Di Indonesia sendiri, kita bisa melihat banyak Gen Z yang mulai memilih kerja freelance, remote job, atau bahkan bisnis kecil-kecilan yang sesuai dengan minat mereka. Sehingga dapat dikatakan, mereka tidak lagi terlalu terobsesi dengan kerja kantoran yang padat. Ini juga karena mereka menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental.

Menjalani Soft Life bukan berarti hidup jadi santai terus tanpa arah, apalagi jadi alasan untuk bermalas-malasan. Soft Life justru mengajarkan kita untuk merancang hidup yang lebih seimbang, di mana kerja keras tetap ada, tapi tidak sampai mengorbankan diri sendiri. Hal-hal sederhana seperti bangun pagi tanpa buru-buru, menikmati secangkir kopi dengan tenang, bekerja seperlunya, lalu memberi waktu untuk diri sendiri di sore hari, merupakan rangkaian yang menjadi wujud nyata dari Soft Life. Di akhir pekan, tidak masalah kalau kita memilih beristirahat, membaca buku, atau menonton film favorit tanpa harus merasa bersalah.

Gaya hidup Soft Life ini juga memberi kita peringatan, bahwa kita layak untuk merasa cukup dan damai, meski hidup belum sepenuhnya sempurna. Dalam Hustle Culture, sering kali kita merasa tidak pernah cukup, terus membandingkan diri dengan orang lain. Tetapi lewat kehadiran Soft Life, kita diajak untuk lebih menyayangi diri sendiri, serta juga lebih mendengar kebutuhan tubuh dan pikiran kita. Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling sibuk, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap bahagia dan utuh di tengah dunia yang cepat. Dan mungkin, dengan memilih hidup yang lebih lembut, kita bisa benar-benar menikmati hidup ini, bukan hanya menjalani.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.