Oleh: Melly Saragih
Suara USU, Medan. Guna mengintegrasikan pemahaman teoretis dari ruang perkuliahan ke dalam realitas penanganan masalah sosial, Melly Saragih (NIM 230902007), mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara (USU), merampungkan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) 1 berupa pendampingan individu terhadap Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di UPTD Pelayanan Sosial Anak Remaja (PSAR) Tanjung Morawa sejak 4 Maret hingga 29 Mei 2026. Agenda berlokasi di Jalan Industri, Tanjung Morawa Pekan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Melalui penerapan metode intervensi mikro (social casework), praktikan berfokus mentransformasikan nilai, etika, dan keterampilan klinis untuk memulihkan kontrol emosi serta meningkatkan keberfungsian sosial penerima manfaat secara optimal.
UPTD Pelayanan Sosial Anak Remaja Tanjung Morawa sendiri memegang peran krusial sebagai pilar rehabilitasi sosial, pembinaan, perlindungan, serta ruang mediasi bagi anak maupun remaja yang didera kompleksitas permasalahan kesejahteraan. Sepanjang pelaksanaan praktikum di lembaga ini, praktikan berkesempatan untuk mendampingi seorang anak yang berkonflik dengan koridor hukum. Dalam publikasi ini, penerima manfaat disamarkan dengan inisial “M” demi menjunjung tinggi asas kerahasiaan identitas dan menjaga keluhuran kode etik profesi pekerjaan sosial.
Guna membantu “M” dalam mengurai benang kusut persinggungan hukumnya, analisis yang digunakan adalah metode casework yang dikonseptualisasikan oleh Zastrow. Pendekatan individual ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas personal agar penerima manfaat mampu beradaptasi dengan tuntutan lingkungan, menyelesaikan konflik internal, serta meraih kembali kesejahteraan emosionalnya yang sempat goyah. Berikut adalah dinamika tahapan intervensi yang dijalankan secara terstruktur di lapangan:
1. Tahap Engagement, Intake, Contract
Tahapan pertama yang dilakukan adalah Engagement. Langkah awal diisi dengan membangun kepercayaan (rapport) profesional yang dilandasi ketulusan, rasa empati, dan sikap inklusif yang tidak menghakimi. Mengingat kepercayaan adalah fondasi utama dari sebuah proses pertolongan, saya berusaha menciptakan ruang komunikasi yang teduh agar klien merasa aman dan perlahan luluh untuk menumpahkan pengalaman kelam yang mengganjal pikirannya.
Setelah hubungan awal terbentuk, proses dilanjutkan pada tahap Intake.Proses pengumpulan data dasar bergulir untuk memetakan latar belakang domestik keluarga, relasi sosial, jejak pendidikan, serta kronologi perkara hukum klien. Informasi berharga ini dihimpun melalui metode wawancara mendalam, observasi perilaku, dan diskusi terarah dengan pihak-pihak terkait di dalam lembaga.
Selanjutnya dilakukan tahap Contract. Tahap awal ini dikunci lewat perumusan kesepakatan dua arah antara saya dan “M”. Kami menyelaraskan tujuan pendampingan, memetakan bentuk intervensi yang akan dijalani, menyusun jadwal pertemuan berkala, serta menegaskan peran serta tanggung jawab masing-masing pihak agar proses pemulihan berjalan komitmen dan terarah.
2. Tahap Asesmen
Asesmen dijalankan sebagai instrumen pengkajian mendalam untuk membedah masalah klien secara komprehensif. Menggunakan pendekatan biopsikososial dan spiritual, saya menelusuri faktor-faktor penentu yang memicu deviasi perilakunya, sekaligus memetakan potensi internal dan eksternal yang bisa dijadikan modal pemulihan. Hasil diagnosis merekam bahwa rapuhnya benteng lingkungan pergaulan, kaku atau renggangnya hubungan keluarga, tipisnya regulasi emosi, serta trauma masa lalu membentuk kerentanan sosial yang kini dialami diri penerima manfaat.
3. Tahap Perencanaan (Planning)
Pada fase ini, ruang diskusi partisipatif dibuka lebar agar “M” terlibat aktif dalam menentukan arah masa depannya. Kami bersama-sama merancang strategi perubahan serta target yang realistis untuk dicapai dalam kurun waktu praktikum. Kerangka perencanaan ini sengaja difokuskan pada penguatan kesadaran diri (self-awareness), bimbingan kecakapan mengontrol emosi, pemulihan relasi sosial yang sehat, serta meningkatkan kembali motivasi internal agar klien optimis dalam menata kembali lembaran hidupnya selepas keluar dari lembaga.
4. Tahap Intervensi (Intervention)

Masuk pada tahap intervensi, rencana yang telah disepakati diimplementasikan secara intensif melalui bimbingan sosial dan konseling individu secara berkala. Saya mengalirkan dukungan psikososial, suntikan motivasi harian, serta teknik pengkondisian perilaku positif guna membantu “M” berdamai dengan situasi dirinya. Melalui konseling, klien dibimbing untuk mengenali aset dan potensi terpendam dalam dirinya yang selama ini terabaikan, sehingga potensi tersebut dapat diaktualisasikan sebagai modal utama dalam menggerakkan roda perubahan perilaku yang lebih adaptif.
5. Tahap Evaluasi
Evaluasi berkala diterapkan sebagai alat ukur untuk memantau grafik perkembangan klien sekaligus menilai efektivitas teknik intervensi yang telah disalurkan. Melalui pengamatan perilaku sehari-hari dan evaluasi dialogis, terekam adanya perubahan yang sangat positif pada diri “M”. Kemajuan nyata ini ditandai dengan meningkatnya kedewasaan klien dalam mengendalikan letupan emosi, cara berpikir yang mulai rasional dalam memandang masalah, serta tumbuhnya komitmen diri untuk tidak mengulangi kesalahan di masa lampau.
6. Tahap Terminasi (Termination)
Sebagai akhir dari pertolongan, proses pendampingan ditutup dengan tahap terminasi. Pemutusan hubungan profesional ini dilakukan secara terencana karena indikator keberhasilan intervensi dinilai telah tercapai dengan baik, dan kontrak kerja sama telah rampung seiring dengan habisnya masa praktikan. Rangkaian agenda PKL 1 di UPTD Pelayanan Sosial Anak Remaja Tanjung Morawa ini telah memberikan modal pengalaman lapangan yang luar biasa berharga untuk mematangkan kesiapan mental serta keterampilan profesional saya sebagai calon praktisi pekerjaan sosial di masa depan.
Rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada Ibu Novita Sari, S.Sos, M.Kesos selaku supervisor sekolah, atas segala curahan ilmu, bimbingan metodologis, serta arahan bimbingan yang sangat berharga selama proses praktikum hingga penyusunan laporan ini selesai. Ungkapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Ibu Diah Noor Betty, S.H. selaku supervisor lembaga di UPTD PSAR Tanjung Morawa, yang telah membukakan pintu kolaborasi, mendampingi dengan penuh kesabaran, serta memfasilitasi kelancaran seluruh rangkaian aktivitas praktikum saya. Apresiasi tinggi juga saya tujukan kepada segenap jajaran staf pegawai lembaga, serta seluruh anak binaan yang telah bersedia terlibat aktif dengan penuh kehangatan sepanjang proses belajar ini berlangsung.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Praktikum Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment