Oleh: Ghefira Mannawa Salwa
Suara USU, Medan. Di tengah kehidupan yang berjalan semakin cepat, banyak orang sering kali terlalu sibuk menunggu waktu yang dianggap tepat. Menunda mengambil kesempatan, ragu memulai sesuatu yang baru, atau bahkan takut gagal menjadi alasan mengapa banyak peluang akhirnya terlewat begitu saja. Pesan itu disampaikan lewat lagu yang berjudul “Satu Kali” ini dinyanyikan oleh Tulus.
Lagu ini dirilis pada Kamis, 3 Maret 2022 lalu, dan masuk ke dalam albumnya yang berjudul Manusia. Lagu ini dibawakan dengan aransemen yang sederhana, lembut, dan menenangkan. Namun, dibalik melodinya yang ringan, tersimpan pesan yang begitu dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama generasi muda yang sedang berada dalam fase menentukan arah hidup.
Masa muda sering kali dipenuhi oleh berbagai kesempatan. Kesempatan untuk mencoba organisasi, mencari kesibukan dengan magang ataupun kerja paruh waktu, mengikuti perlombaan, mengambil beasiswa, kegiatan sukarelawan, hingga mengejar impian yang selama ini diinginkan. Sayangnya, tidak sedikit yang memilih menunggu karena merasa belum cukup siap. Padahal, tidak semua peluang akan datang untuk kedua kalinya.
Salah satu bagian lirik yang paling mencerminkan makna tersebut berbunyi
Untuk matamu yang basah tak berhenti
Untuk tawa yang datang sesekali
Di titik gelap dan terang yang berganti
Gemuruh angin berbagai penjuru
Ringkihlah asa
Hilanglah harap
Terbuanglah waktu
Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Hiduplah kini
Lirik tersebut menggambarkan bahwa kehidupan selalu dipenuhi oleh berbagai fase. Ada masa ketika seseorang merasa bahagia dan penuh semangat, tetapi ada pula saat di mana harapan terasa rapuh dan langkah menjadi ragu. Tulus tidak berusaha menggambarkan hidup sebagai sesuatu yang selalu indah, melainkan mengajak pendengarnya untuk menerima bahwa suka dan duka merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan setiap manusia.
Melalui penggalan “Ringkihlah asa, hilanglah harap, terbuanglah waktu”, Tulus seolah mengingatkan bahwa terlalu lama larut dalam rasa takut, penyesalan, ataupun keraguan hanya akan membuat waktu terus berjalan tanpa bisa kembali. Waktu adalah sesuatu yang terus bergerak, sehingga setiap kesempatan yang dilewatkan berpotensi menjadi penyesalan di kemudian hari.
Pesan itu kemudian ditegaskan melalui lirik “Kecil hanya sekali, muda hanya sekali, hiduplah kini.” Kalimat sederhana tersebut menjadi inti dari lagu ini. Masa muda bukanlah sesuatu yang dapat diulang, begitu pula kesempatan yang hadir di dalamnya. Oleh karena itu, menikmati hidup bukan berarti menjalani semuanya tanpa arah, melainkan berani mengambil langkah, mencoba hal-hal baru, belajar dari kegagalan, dan memanfaatkan setiap peluang yang datang selagi masih ada waktu.
Merangkak dua langkah kecil pertama
Kini dia lari dan tergesa-gesa
Terenyuh dia buah manis pertama
Kini ilusi pahit mewah rasa
Jutaan ragu
Juta keliru
Puji ilusimu
Penggalan lirik tersebut menggambarkan perjalanan hidup manusia dari masa kecil hingga dewasa. Tulus mengibaratkan seseorang yang dahulu belajar melangkah dengan perlahan, tetapi seiring bertambahnya usia justru menjalani hidup dengan terburu-buru. Di tengah perjalanan itu, muncul berbagai keraguan dan kesalahan yang menjadi bagian dari proses bertumbuh.
Bagi generasi muda, lagu “Satu Kali” tepat sekali untuk dijadikan sebagai pengingat bahwa kesempurnaan bukanlah syarat untuk memulai. Tidak perlu menunggu merasa paling siap untuk mengejar mimpi, karena pada kenyataannya, banyak pengalaman justru mengajarkan seseorang menjadi lebih siap. Kesalahan, kegagalan, dan rasa takut merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Dengan demikian, “Satu Kali” bukan sekadar lagu yang menemani pendengarnya dengan melodi yang menenangkan. Lagu ini membawa refleksi bahwa hidup hanya dijalani satu kali. Waktu akan terus berjalan, usia akan terus bertambah, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Karena itu, selama masih diberi kesempatan untuk mencoba, belajar, dan berkembang, jangan biarkan rasa takut mengambil alih. Sebab, seperti yang diingatkan Tulus, muda hanya sekali, maka hiduplah kini.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment