
Oleh: Priyanka Az Zahra
Suara USU, Medan. Walaupun pekerjaan rumpun jurusan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics) menunjukkan peningkatan pesat di seluruh dunia, namun sangat disayangkan bahwa polemik gender masih cukup krusial di sektor ini. Karena hal itu, digaungkanlah Woman in STEM. Woman in STEM adalah istilah atau komunitas yang merujuk pada wanita yang belajar dan mempelajari rumpun ilmu STEM atau akrab dikenal SAINTEK. Istilah ini juga dinilai sebagai bentuk dukungan atas polemik gender yang masih ada di rumpun ilmu dan pekerjaan STEM atau SAINTEK.
Permasalahan ini juga tidak terlepas dari sejarah yang bertuliskan laki-laki lebih mendominasi bidang STEM sejak beberapa dekade lalu. Hal ini dibuktikan dengan munculnya ilmuan laki-laki di bidang teknologi dan kedokteran yang sukses menghasilkan penemuan-penemuan baru, seperti Presiden RI ke tiga, B. J. Habibie yang sukses merancang pesawat Gatot Kaca dan Prof. Dr. Farid Anfasa Moeloek yang sukses memperkenalkan metode micro-surgery di dunia OBGYN Indonesia untuk pertama kalinya.
Walau demikian, Indonesia sendiri banyak mempunyai putri bangsa yang mampu membuktikan bahwa perempuan juga bisa sukses belajar dan berkarir di bidang STEM. Contohnya, Alvia Delitriana yang merancang beberapa jembatan megah di Indonesia, Adi Uratini yang menemukan solusi pencegahan DBD dengan inovasi bakteri Wolbachia, Moorissa Tjokro yang sukses menginovasi sistem kemudi otomatis dan penyimpanan energi dari Amerika Serikat, dan masih banyak lagi.
Pada 2020, International Labour Organization UNESCO membeberkan bahwa angka perempuan Indonesia yang bekerja di sektor STEM hanya menyentuh 37%. Situs STEM Woman juga menuliskan bahwa perbandingan ketimpangan yang paling jauh antara mahasiswa dan mahasiswi ada di rumpun keteknikan dan teknologi, yakni mahasiswa (79 orang) dan mahasiswi (21 orang).
Salah satu contoh yang sering terjadi yakni masih ada orang tua yang melarang anak perempuan mereka untuk masuk ke jurusan Teknik Pertambangan. Menurut mereka, Tambang adalah sektor yang pekerjaannya sangat “laki-laki” karena dianggap harus sering bermalam di lingkungan yang jauh dari penduduk, jarang bisa pulang ke rumah, hingga tahan segala tuntutan yang dianggap hanya untuk lelaki. Adapun contoh lainnya, perempuan banyak di remehkan untuk belajar dan berkarir di bidang Information Technology (IT) karena dianggap kurang telaten di bidang itu dibandingkan dengan laki-laki. Padahal kenyataannya, di era sekarang minat perempuan untuk bergabung di rumpun ilmu IT sedang meningkat.
Di Indonesia sendiri, memang banyak sekali mahasiswi yang mengambil jurusan di rumpun SAINTEK atau STEM. Namun hanya segelintir dari mereka yang memilih berkarir di rumpun ilmu yang sama dengan bidang keilmuannya. Banyak dari orang-orang yang mengganggap bahwa akan banyak kendala yang dihadapi perempuan dalam berkarir di bidang STEM. Entah itu tuntutan pekerjaan, waktu kerja yang tidak fleksibel, hingga peluang karir masa depan perempuan itu sendiri.
Jika semua permasalahan ini semakin dibiarkan, akan ada tantangan besar untuk negara kita di masa yang akan datang. Salah satu contohnya yakni semakin berkembangnya prasangka STEM hanya untuk maskulin. Hal yang dianggap sepele namun sangat berdampak besar bagi perkembangan sektor STEM di Indonesia. Dengan berkurangnya dominasi perempuan di Indonesia, peluang untuk mengembangkan teknologi dan bidang keilmuan lain yang berkaitan dengan STEM akan melambat. Di era maraknya penggunaan sosial media, kita dapat dengan mudah melihat bahwa banyak dari perempuan yang mempunyai potensi bagus, namun angka persentase dominasi perempuan di bidang STEM tetap jauh dari kata marak.
Solusi untuk permasalahan ini tentu harus didukung oleh banyak pihak, entah itu negara, perusahaan, masyarakat, sampai individu itu sendiri. Yang pertama, edukasi sosial dibutuhkan untuk menumbuhkan minat perempuan generasi muda tertarik dengan bidang STEM. Dengan adanya langkah mentoring atau bimbingan, perempuan cenderung lebih sukses untuk berkarir di bidang STEM. Hal ini terbukti bahwa ada penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas bimbingan ini juga mendatangkan manfaat pada mentor bimbingan secara statistik. Solusi kedua, yakni semakin dikuatkannya hak-hak perempuan di tempat kerja. Hak-hak ini misalnya hak fleksibilitas jam kerja untuk perempuan, jaminan keamanan, cuti haid, hamil dan melahirkan yang layak akan semakin meyakinkan perempuan untuk berkarir di bidang STEM. Solusi terakhir yakni adanya peran Kementerian Pendidikan dan Kementerian Ketenagakerjaan amat sangat diharapkan dalam keberhasilan solusi ini. Dengan adanya ke-melekkan dan kolaborasi dari Kementerian-Kementerian ini, akan ada langkah besar untuk memberi rangkulan kepada perempuan untuk berminat belajar dan berkarir di bidang STEM.
Terlepas dari seluruh masalah ini, peran-peran dari pihak perusahaan, hingga individu itu sendiri amat berpengaruh dalam mengatasi permasalahan ini. Dengan tersolusikannya masalah ini, maka perempuan bisa mengepakkan sayap bebasnya untuk berkarir di bidang STEM tanpa adanya stereotip apapun. Selain itu, sektor STEM di Indonesia bisa semakin meningkat, masalah global bisa teratasi, hingga tercapainya tujuan SDGS: Kesetaraan Gender.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment