Home Musik Melawan Standar Kesempurnaan Lewat “Pretty Isn’t Pretty” Olivia Rodrigo
Musik

Melawan Standar Kesempurnaan Lewat “Pretty Isn’t Pretty” Olivia Rodrigo

Share

Oleh: Dinda Sri Aulia

Suara USU, Medan. Standar kecantikan yang dianggap sempurna sering kali membuat seseorang merasa tidak cukup dengan dirinya sendiri. Keinginan untuk memiliki wajah, tubuh, dan penampilan yang sesuai dengan gambaran ideal justru dapat menimbulkan rasa tidak aman yang terus berulang. Persoalan tersebut diangkat Olivia Rodrigo melalui “Pretty Isn’t Pretty”, salah satu lagu dalam album GUTS yang dirilis pada 8 September 2023. Melalui lirik yang jujur dan emosional, Olivia menggambarkan bagaimana usaha untuk memenuhi standar kecantikan tidak selalu berakhir pada rasa puas, tetapi justru dapat membuat seseorang semakin sulit menerima dirinya sendiri.

“Pretty Isn’t Pretty” membawa pendengarnya pada pengalaman seseorang yang terus berusaha memperbaiki penampilan agar merasa cukup. Riasan, perubahan tubuh, hingga berbagai cara untuk mengatasi rasa cemas menjadi bagian dari usaha tersebut. Namun, semakin banyak hal yang diubah, rasa kurang terhadap diri sendiri justru tidak kunjung hilang. Olivia seolah menunjukkan bahwa persoalan sebenarnya bukan terletak pada penampilan, melainkan pada standar yang digunakan seseorang untuk menilai dirinya.

Tekanan tersebut bahkan mendorong seseorang melakukan berbagai cara untuk menutupi kekurangan yang dirasakannya. Pemahaman tersebut tercermin dalam bait pembuka lagu berikut:

Bought a bunch of makeup, tryna cover up my face

I started to skip lunch, stopped eatin’ cake on birthdays

I bought a new prescription to try and stay calm’

Cause there’s always somethin’ missin’

There’s always somethin’ in the mirror that I think looks wrong

Lirik tersebut menggambarkan bagaimana keinginan memenuhi standar kecantikan dapat membuat seseorang mengubah kebiasaan dan terus mencari kekurangan dalam dirinya. Cermin yang seharusnya menjadi tempat mengenali diri justru menjadi sumber kecemasan karena perhatian terus tertyju paa bagian yang dianggap kurang.

Upaya memperbaiki penampilan pun tidak berhenti pada satu hal. Keinginan untuk terus mengubah diri tergambar dalam bait selanjutnya:

And everybody’s keepin’ it up, so you think it’s you

I could change up my body and change up my face

I could try every lipstick in every shade

But I’d always feel the same

‘Cause pretty isn’t pretty enough anyway”

Bagian tersebut menjadi inti persoalan yang diangkat Olivia. Keinginan mengubah tubuh, wajah, dan penampilan tidak serta-merta menghilangkan rasa tidak aman. Kalimat “so you think it’s you” menunjukkan bagaimana seseorang dapat lebih mudah menyalahkan dirinya sendiri ketika tidak mampu memenuhi standar yang terus berubah.

Rasa tidak aman tersebut kemudian menemukan bentuk yang lebih jelas melalui perumpamaan tentang pertempuran dan perang. Olivia menyampaikannya dalam bait berikut:

You can win the battle, but you’ll never win the war

You fix thе things you hated and you’d still feel so insecure

Analogi tentang pertempuran dan perang menunjukkan bahwa memperbaiki satu kekurangan fisik hanya menjadi kemenangan sementara. Ketika satu bagian dianggap telah diperbaiki, rasa tidak aman dapat kembali muncul pada bagian lain. Selama cara pandang terhadap diri sendiri belum berubah, usaha mencapai kesempurnaan akan terus berulang.

Tidak hanya berasal dari dalam diri, tekanan terhadap penampilan juga hadir melalui lingkungan dan berbagai media. Gambaran tersebut diperlihatkan Olivia dalam bait berikut:

And I try to ignorе it, but it’s everythin’

I seeIt’s on the poster on the wall, it’s in like every magazineIt’s in my phone, it’s in my head, it’s in the boys

I bring to bedIt’s all around, it’s all the time, I don’t know why I even try

Poster, majalah, ponsel, hingga lingkungan pergaulan menjadi gambaran bagaimana standar kecantikan terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Paparan tersebut membuat seseorang tanpa sadar membandingkan dirinya dengan gambaran ideal yang dilihat di sekitarnya. Standar yang semula berada di luar diri akhirnya ikut memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Dari rangkaian pengalaman tersebut, “Pretty Isn’t Pretty” tidak hanya berbicara tentang keinginan untuk terlihat cantik, tetapi juga tentang tekanan ketika penampilan dijadikan ukuran keberhargaan seseorang. Standar yang terus berubah membuat seseorang sulit menemukan rasa cukup karena selalu ada hal baru yang dianggap perlu diperbaiki.

Pada akhirnya, lagu ini menjadi refleksi tentang penerimaan diri. Perubahan pada wajah, tubuh, atau penampilan tidak selalu menyelesaikan rasa tidak aman apabila penilaian terhadap diri masih bergantung pada standar dari luar. Yang perlu diubah bukan selalu penampilan, melainkan cara seseorang memandang dan menghargai dirinya sendiri.

Sebab, seseorang tidak harus memenuhi standar kesempurnaan untuk menjadi berharga. “Pretty Isn’t Pretty” mengingatkan bahwa rasa cukup tidak lahir dari keberhasilan menjadi sempurna, melainkan dari keberanian untuk menerima diri di tengah standar yang terus berubah.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.