
Oleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Pernahkah kalian mengalami situasi dimana tugas menumpuk, deadline semakin dekat, akan tetapi, tubuh terasa berat untuk memulai aktivitas? Mata sudah terbuka, laptop sudah menyala, tetapi otak seakan-akan tidak dapat berfungsi secara optimal. Kondisi inilah yang disebut dengan ‘mental block’. Mental block adalah kondisi dimana seseorang merasa terjebak secara mental, sehingga otak kesulitan berpikir, mengingat dan berkonsentrasi. Menurut hipnoterapis Joy Philabella, mental block dapat diartikan sebagai pengekangan terhadap pikiran atau memori seseorang. Sementara itu, Tony Robbins, seorang motivator terkenal menjelaskan bahwa mental block sebagai kondisi dimana seseorang kehilangan motivasi dan tidak mampu berkonsentrasi.
Namun, perlu diingat bahwa mental block berbeda dari kondisi malas atau bosan. Sebab, kondisi malas atau bosan masih bisa dikendalikan, tetapi tidak demikian dengan mental block yang sering datang tiba-tiba tanpa dapat dikendalikan. Hampir semua mahasiswa pasti pernah mengalami fase ini. Rasanya terjebak di titik yang sama, berputar-putar tanpa ada progres yang berarti. Hal yang membuat frustasi adalah bahwa kita menyadari ada banyak hal yang harus dilakukan, tetapi entah mengapa tubuh dan pikiran seperti mogok bersamaan.
Nah, sobat Suara USU, sebelum kita mencari solusi, penting untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi karena memahami akar masalah merupakan setengah dari solusinya. Pertama, perfeksionisme yang berlebihan. Hal ini merupakan penyebab yang paling sering terjadi. Ketakutan akan hasil yang kurang sempurna membuat seseorang tidak berani memulai. Pikiran seperti, “bagaimana jika hasilnya buruk?” atau “bagaimana jika tidak sesuai dengan ekspektasi?” justru berujung pada prokrastinasi atau kebiasaan menunda tugas yang seharusnya dilakukan.
Kedua, kelebihan informasi. Otak manusia memiliki kapasitas terbatas sama halnya seperti smartphone dengan RAM yang ada batasnya. Ketika terlalu banyak tugas yang harus dikerjakan bersamaan, otak akan “shut down” sebagai mekanisme pertahanan diri. Ketiga, lingkungan yang tidak mendukung. Kadang masalah bukan berasal dari dalam diri sendiri, melainkan dari faktor eksternal seperti ruang belajar yang berantakan, gangguan dari lingkungan sekitar, atau bahkan masalah pribadi yang mengganggu konsentrasi. Terakhir, yaitu burnout yang tidak disadari. Seringkali kita tidak menyadari tubuh dan pikiran sudah mengalami kelelahan. Kita terus memaksakan diri tanpa istirahat cukup yang justru akan menurunkan produktivitas secara drastis.
Setelah kita mengetahui akar permasalahan dari mental block, berikut adalah beberapa strategi dalam mengatasi mental block dan membangun lifestyle yang lebih sehat:
- Kenali Pemicu
Cobalah untuk mengobservasi diri sendiri. Kapan biasanya mental block ini muncul? Pada pukul berapa? Saat mengerjakan tugas apa? Dengan mengenali pemicunya, anda dapat lebih siap menghadapinya.
- Pecah Tugas Menjadi Bagian Kecil
Tugas besar seperti puzzle 1000 keping yang sering kali membuat pusing. Namun, jika dipecah menjadi bagian-bagian kecil, akan menjadi lebih mudah dikelola. Misalnya, untuk membuat makalah 20 halaman, dikerjakan step by step, hari pertama cari referensi dan buat outline, hari kedua tulis pendahuluan, dan seterusnya.
- Terapkan Teknik Podomoro
Teknik ini terbukti ampuh. Caranya adalah tetapkan waktu 25 menit untuk fokus mengerjakan satu tugas, setelah itu istirahat 5 menit, ulangi 3-4 kali, kemudian ambil istirahat panjang 15-30 menit. Teknik ini efektif karena otak mengetahui ada ‘deadline’ dalam waktu dekat, sehingga lebih termotivasi untuk fokus.
- Prioritaskan Aktivitas Fisik
Olahraga bukan hanya untuk fisik, tetapi juga untuk otak. Cukup 30 menit berjalan kaki atau jogging ringan dapat membantu pikiran menjadi lebih fresh. Jika enggan keluar, yoga atau stetching di kamar sudah cukup membantu.
Nah, yang paling terpenting adalah mengubah mindset. Berhentilah melihat mental block sebagai musuh yang harus dilawan. Sebaliknya, anggaplah sebagai sinyal dari tubuh dan pikiran yang sedang membutuhkan perhatian. Progres lebih penting daripada perfection. Lebih baik mengerjakan 50% dengan konsisten daripada mengejar 100%, tetapi tidak selesai-selesai. Ingatlah ‘Done is Better than Perfect.’ Selain itu, nikmati prosesnya. Setiap kesulitan yang dihadapi saat ini merupakan investasi untuk masa depan. Kita sedang belajar problem-solving skills yang akan berguna seumur hidup.
Jangan lupa untuk bersikap peduli terhadap diri sendiri. Perlakukan diri kalian seperti memperlakukan sahabat terbaik. Jika sahabat sedang struggle, kita pasti akan memberikan dukungan dan semangat, begitu juga kita harus memperlakukan diri sendiri. Kunci utamanya adalah bersabar dengan diri sendiri dan mengambil tindakan secara konsisten. Ini bukan tentang menjadi mahasiswa yang sempurna, tetapi tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri, dengan menerapkan lifestyle sehat dan strategi yang tepat, mental block dapat diatasi dan bahkan dijadikan peluang untuk mengembangkan ketahanan mental yang lebih kuat.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment