
Oleh: Muhammad Fathur Ammar
Suara USU, Medan. Perkembangan remaja melibatkan aspek fisik, kognitif, dan emosional secara terpadu. Anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi sering mengalami hambatan dalam pengembangan dirinya, tetapi dukungan emosional dari keluarga dapat menjadi kunci keberhasilan. Dalam penelitian ini, subjek yang ditangani adalah seorang remaja laki-laki berinisial MZ, berusia 14 tahun, siswa kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP), yang berasal dari keluarga kurang mampu di kawasan padat penduduk Medan Marelan, Kota Medan. Penelitian ini dilakukan di Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN RO Medan, sebuah lembaga sosial yang memiliki program penguatan keluarga (family strengthening) untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera. Praktik intervensi dilakukan dalam rangka Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Sumatera Utara (USU), yang dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari 3 Maret hingga 20 Juni 2025.
Metode utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Fokus intervensi menggunakan teknik casework atau pekerjaan sosial individual yang menekankan pada penggalian kekuatan klien (strength-based). Intervensi dilakukan secara bertahap mulai dari tahap penggalangan hubungan (engagement), pengkajian masalah (assessment), perencanaan program (planning), pelaksanaan (intervensi), pemantauan dan evaluasi (monitoring and evaluation), hingga tahap akhir yaitu penghentian hubungan profesional (terminasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana dukungan emosional dari keluarga, meskipun dalam keterbatasan ekonomi, dapat menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan potensi anak remaja. Selain itu, penelitian ini juga ingin menunjukkan efektivitas metode casework dalam membantu remaja mengatasi hambatan psikososial dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.
1. Tahap Engagement
Tahap ini dilakukan selama dua minggu pertama dengan pendekatan informal seperti percakapan santai dan kegiatan non-formal agar klien merasa nyaman. Klien yang awalnya pemalu menunjukkan tanda-tanda keterbukaan secara perlahan. Hubungan saling percaya mulai terbangun, yang memungkinkan pekerja sosial mendapatkan informasi awal terkait minat, kebiasaan, dan situasi keluarga klien.
2. Tahap Assessment
Pengkajian mendalam dilakukan terhadap kondisi ekonomi keluarga, interaksi sosial, pendidikan, dan karakter kepribadian klien. Ditemukan bahwa klien memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar, tetapi di lain sisi menunjukkan kecerdasan tinggi dan ketertarikan pada seni visual, terutama menggambar. Faktor pendukung teridentifikasi dari peran ayah dan ibu yang meskipun ekonomi terbatas, tetap memberi perhatian dan motivasi secara konsisten. Selain itu, kakak kandung juga berperan sebagai model inspiratif bagi klien.
3. Tahap Planning
Perencanaan disusun berbasis prinsip SMART. Tahapan kegiatan antara lain yaitu, menggali cita-cita melalui diskusi dan membuat bagan cita-cita, pelibatan anggota keluarga dalam sesi dukungan, dan pemberian ruang untuk menyalurkan bakat menggambar. Setiap aktivitas dipilih untuk memperkuat rasa percaya diri dan memberikan pengalaman keberhasilan kecil.
4. Tahap Intervensi
Pendekatan dilakukan secara langsung melalui sesi konseling pribadi, edukasi, dan aktivitas kreatif. Pekerja sosial berperan sebagai fasilitator dan pendukung yang membimbing klien tanpa tekanan. Hasil awal menunjukkan klien mulai aktif mengungkapkan pendapat, menunjukkan hasil gambar tanpa malu, dan berani berbicara dengan pekerja sosial serta orang tua. Klien juga mulai membuat jadwal belajar sendiri serta menceritakan rencana masa depannya.
5. Tahap Evaluasi
Evaluasi dengan pendekatan Context, Input, Process, Product (CIPP) :
- Context: Situasi ekonomi rendah, tapi potensi klien tinggi.
- Input: Program berbasis kekuatan diri, didukung lingkungan.
- Process: Progresif, partisipatif, dan disesuaikan dengan karakter klien.
- Product: Klien menunjukkan peningkatan signifikan: percaya diri, komunikasi efektif dengan keluarga, mulai mengembangkan jaringan sosial seperti komunitas hobi menggambar, dan memiliki rencana mengikuti lomba seni.
6. Tahap Terminasi
Terminasi dilakukan secara bertahap. Klien menyampaikan perasaan bangga terhadap perkembangan dirinya. Orang tua mengonfirmasi perubahan sikap dan semangat anaknya. Refleksi dilakukan bersama untuk menguatkan pencapaian yang sudah diraih dan memotivasi klien melanjutkan proses pengembangan secara mandiri dengan dukungan dari sekolah dan yayasan.
Metode casework berbasis kekuatan efektif dalam mengembangkan potensi remaja dari keluarga ekonomi terbatas. Dukungan emosional orang tua dan pendekatan sosial yang tepat menjadi faktor penting keberhasilan intervensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga memperkuat potensi positif yang telah dimiliki oleh klien.
Artikel ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sumatera Utara (USU).
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment