Oleh: Muhammad Ar Rofi Nst
Dulu dianggap gagal, kini namanya menjelma menjadi maestro dunia, Vincent van Gogh. Beliau wafat dalam kemiskinan dan dianggap gagal, namun kini karya-karyanya menjadi sorotan di seluruh dunia. Van Gogh lahir di Groot Zundert, Belanda, pada 30 Maret 1853, dari keluarga seorang pendeta. Sebelum benar-benar terjun ke dunia seni, ia sempat berpindah-pindah profesi, mulai dari pedagang lukisan, guru, hingga pengkhotbah di tambang batu bara Belgia. Baru pada usia 27 tahun, sebuah usia yang tergolong terlambat untuk standar pelukis besar, ia memutuskan untuk sepenuh hati menggambar dan melukis. Dalam waktu kurang dari satu dekade setelahnya, ia menghasilkan lebih dari 2.100 karya, termasuk sekitar 860 lukisan cat minyak.
Perjalanan hidupnya begitu kompleks, terutama dalam pergumulannya dengan kesehatan mental. Para sejarawan seni dan psikiater yang menelaah lebih dari 800 suratnya, yang sebagian besar ditujukan kepada adiknya, Theo van Gogh, mencatat gejala yang konsisten dengan depresi berat serta kemungkinan gangguan bipolar atau epilepsi lobus temporal, meskipun diagnosis pastinya hingga kini masih diperdebatkan di kalangan akademisi. Insiden paling terkenal terjadi pada Desember 1888, ketika ia memotong sebagian telinganya sendiri setelah pertikaian dengan sesama pelukis, Paul Gauguin, di Arles, Prancis Selatan.
Karya-karya paling ikonik Van Gogh justru lahir di tengah periode tergelap dalam hidupnya. The Starry Night, lukisan langit malam berpilin yang ekspresif itu, ia ciptakan pada 1889 saat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Saint Paul de Mausole. Ia melukisnya dari jendela kamarnya sebelum matahari terbit, mengandalkan ingatan dan imajinasi karena tidak diizinkan melukis di luar ruangan. Begitu pula dengan Sunflowers, seri bunga matahari yang ia buat untuk menyambut Gauguin ke studionya di Arles, sebuah simbol harapan dan persahabatan di tengah kesepian yang ia rasakan.
Mahakarya yang ia ciptakan memiliki karakteristik yang kuat, seperti sapuan kuas tebal dan ekspresif melalui teknik impasto, penggunaan warna-warna cerah yang kontras, serta garis-garis bergelombang yang seolah memberi kesan gerak pada objek diam. Gaya ini kemudian dikenal sebagai bagian dari aliran Post-Impresionisme dan menjadi fondasi penting bagi lahirnya Ekspresionisme pada awal abad ke-20. Namun ironisnya, semasa hidupnya hanya satu lukisan yang tercatat terjual, yaitu The Red Vineyard, dan itu pun dengan harga yang jauh dari layak. Pengakuan besar justru datang setelah kematiannya pada 29 Juli 1890 akibat luka tembak yang diyakini ia lakukan sendiri di Auvers-sur-Oise.
Salah satu ungkapan Van Gogh yang dapat menjadi refleksi adalah “I try more and more to be myself, caring relatively little whether people approve or disapprove” (“Saya semakin berusaha menjadi diri saya sendiri, dan tidak terlalu peduli apakah orang lain setuju atau tidak”). Ungkapan ini merefleksikan keteguhan seorang seniman untuk tetap setia pada dirinya, sekaligus menunjukkan optimisme terhadap tujuan ke depan tanpa harus terikat pada penilaian orang lain.
Kisah Van Gogh bukan sekadar tentang seniman yang terabaikan, melainkan juga menjadi pengingat bahwa nilai sebuah karya tidak selalu sejalan dengan pengakuan yang diterima penciptanya semasa hidup. Kerentanan manusia, alih-alih menjadi penghalang, justru dapat menjadi sumber ekspresi paling jujur dan abadi. Barangkali itulah alasan mengapa hingga kini, lebih dari 130 tahun setelah kepergiannya, dunia masih terus menatap langit malamnya yang berpilin dan menemukan sesuatu yang begitu manusiawi di dalamnya.
Redaktur: Frianka Raya Sitanggang
Leave a comment