Cerpen

Kembali

Share

Oleh: Suci Rahmawati Siregar

Aku sedang dalam perjalanan. Sudah banyak transportasi yang aku naiki, mulai dari pesawat, kereta api, bus, sampai ojek pangkalan.

Mungkin kalian bertanya tanya, “Memangnya mau ke mana?” “Untuk apa menghabiskan waktu dan tenaga?” “Memangnya tempat yang kamu kunjungi itu istimewa?” Pertanyaan pertanyaan itu wajar saja, dan aku tidak keberatan menjawabnya satu per satu, meski mungkin jawabanku tidak akan memuaskan semua orang.

Baik, aku akan menjawab pertanyaan yang terakhir.

Istimewa. Begitu istimewa. Mungkin menurut kalian biasa saja, dan ya, tidak apa apa. Tapi karena aku memang keras kepala, aku akan tetap bersikukuh ini istimewa.

Aku tidak tahu apa yang mas mas ojek ini bicarakan. Telingaku sudah menempel pada benda asing yang sedang memutar lagu penyanyi legendaris dari Inggris, The Beatles. Selera musik ini diturunkan dari Ibu. Sedari kecil, ia menjejaliku dengan begitu banyak musik, dan menurutku, ini selera yang bagus.

Oh, membahas tentang Ibu. Benar. Tempat yang ingin aku kunjungi adalah tempat aku tumbuh besar, ditemani Ibu. Sekarang aku pergi ke sana sendirian, sebagaimana sebelumnya aku pun hidup berkelana sendirian.

Kalau kalian bertanya lagi, “Ke mana Ibumu pergi?” Jawabannya, Ibu pergi ketika aku beranjak remaja.

Krekk. Bunyi deret pagar besi yang sudah berkarat diterpa hujan. Mataku memandang halaman rumah yang cukup terbengkalai. Rumput liar tumbuh menyebar, semak belukar yang mungkin di baliknya menyembunyikan hewan buas.

Aku tidak terlalu peduli akan itu. Aku melanjutkan langkah untuk memasuki rumah. Bisa kalian tebak, debu menyeruak, aroma tempat yang sudah lama tak dihuni terasa sangat asing. Tapi perabotan masih tersusun lengkap di dalamnya, seolah waktu berhenti tepat di hari terakhir Ibu meninggalkan rumah ini. Di pojok ruang tamu, ada meja dengan mesin jahit di atasnya, terselimuti debu tipis yang enggan aku sentuh terlalu cepat.

Aku tidak cengeng, tapi aku ingin menangis saat itu juga.

Bisa dibilang, Ibu menghabiskan banyak sekali kenangan di meja ini. Ibuku seorang penjahit, bekerja keras, bertungkus lumus dengan mesin jahit itu.

Aku tersenyum melihat mesin ini. Walau ia tidak bisa melihatku, karena ia hanya benda mati, mungkin jika ia punya nyawa, ia akan mengenaliku. Aku adalah anak kecil yang dulu sering duduk di lantai dekat kaki Ibu, mendengarkan bunyi mesin ini seperti mendengarkan lagu pengantar tidur, terkantuk kantuk menunggu selesainya jahitan Ibu.

Ibu selalu bilang, “Sebentar lagi, sebentar lagi.” Tapi sebentar versi Ibu bisa berarti satu jam. Aku tidak pernah protes. Malah ketiduran duluan di lantai, beralaskan kain kain sisa jahitan yang menumpuk.

Kalau sudah begitu, Ibu akan berhenti sejenak, menyelimutiku dengan kain kain itu, lalu kembali menjahit. Aku tahu, karena setiap kali terbangun, selalu sudah ada kain di tubuhku. Tidak pernah aku tanya dari mana asalnya. Tidak perlu.

Aku menyusuri isi rumah lagi. Aku sadar masa kecilku mungkin tidak menarik bagi orang lain, sebab aku tidak banyak bermain dengan teman teman seumuranku. Bukan karena tidak diizinkan Ibu, tapi karena aku sadar waktuku bersamanya tidak mungkin selamanya.

Mungkin aku terlalu tua untuk ukuran anak kecil waktu itu. Atau mungkin aku hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari.

Aku melangkah ke kamar. Kasur yang sama, lemari yang sama, bahkan gorden yang sama pun masih terpasang di sana, dengan motif bunga bunga kecil yang warnanya sudah pudar dimakan matahari bertahun tahun. Dulu aku benci gorden itu, karena tidak ada motif kartun seperti milik teman temanku. Aku pernah merengek meminta diganti, tapi Ibu hanya tertawa dan bilang bunga bunga itu lebih tahan lama daripada tokoh kartun yang gampang bosan diikuti zaman. Sekarang aku mengerti maksudnya, dan aku tidak bisa berhenti memandanginya.

Menurutku, keputusan untuk kembali itu benar. Aku merindukan Ibu, dan pulang ke rumah ini cukup mengobati kerinduan itu. Ingin rasanya aku memeluk rumah ini, tapi aku bukan raksasa yang bisa mendekapnya penuh.

Jadi aku peluk saja apa yang bisa aku jangkau, yaitu tiang pintu kamar yang catnya mengelupas, dan kusen jendela yang kayunya sudah sedikit lapuk. Mungkin terlihat konyol. Tapi tidak ada yang melihat, jadi tidak apa apa.

Di luar, hujan mulai turun. Aku duduk di lantai kamar, meletakkan punggung agar bersandar ke kasur, memandang gorden bunga bunga kecil itu bergoyang pelan ditiup angin yang menyusup dari celah jendela.

Ibu, aku sudah pulang.

Ibu, bisakah Ibu melihatku?

Ibu, aku rindu Ibu.

Tidak ada yang menjawab. Tentu saja tidak ada. Aku tahu itu, tapi tetap saja aku menunggu, seolah diam yang panjang ini bisa saja, sekali ini, membalas.

Sudah berapa lama aku duduk di sini, aku tidak tahu. Yang aku tahu, hujan di luar belum berhenti, dan aku belum ingin beranjak dari lantai kamar ini.

Mungkin besok aku akan membereskan rumah ini. Menyapu debu, memangkas rumput liar di pekarangan, membersihkan mesin jahit Ibu. Atau mungkin tidak. Mungkin aku biarkan saja semuanya seperti ini, seperti terakhir kali Ibu ada, supaya kalau suatu hari aku kembali lagi, aku masih bisa menemukan jejaknya persis di tempat yang sama.

Hujan di luar belum juga berhenti. Aku masih duduk di lantai yang sama, memandang gorden yang sama, menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa. Mungkin menunggu bukan untuk dijawab. Mungkin menunggu, kali ini, hanya untuk merasa dekat lagi dengan Ibu.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Redaktur: Frianka Raya Sitanggang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.