Home Opini Museum Tak Intagramable, Maka Ia Tidak Dilirik
Opini

Museum Tak Intagramable, Maka Ia Tidak Dilirik

Share
Ilustrator: Emmi Simatupang

Oleh: Ines Eliyana Br Ginting

Suara USU, Medan. Di era ketika setiap pengalaman hidup ingin dibagikan di media sosial, museum perlahan-lahan berubah dari ruang edukatif menjadi tempat yang kurang menarik karena satu alasan tidak cukup estetik. Alih-alih dikunjungi karena isinya yang sarat sejarah dan makna, museum kini dinilai berdasarkan latar fotonya. Kalau tidak instagramable, maka museum itu dianggap tak layak dikunjungi.

Fenomena ini memang menyedihkan, tapi tidak mengherankan. Masyarakat, khususnya generasi muda lebih tertarik pada tempat-tempat visual kafe tematik, art space yang penuh lampu warna-warni, atau pameran interaktif yang penuh spot foto. Sementara banyak museum tetap hadir dengan wajah lama  bangunan kusam, pencahayaan seadanya, dan papan keterangan membosankan. Padahal di balik tembok-tembok sunyi itu, tersimpan cerita tentang jati diri bangsa, perjuangan, warisan budaya, dan ingatan kolektif yang seharusnya dijaga.

Contohnya bisa kita lihat dari beberapa museum yang ada di Medan. Museum Situs Kota Cina, misalnya, adalah salah satu museum yang menyimpan kekayaan arkeologi luar biasa seperti pecahan keramik, tembikar dan  guci Tiongkok, serta artefak perdagangan dari India. Temuan itu menjadi bukti bahwa Medan pernah menjadi jalur perdagangan maritim internasional. Namun, museum ini jarang terdengar, apalagi dikunjungi. Masalah utamanya bukan pada kurangnya sejarah, tapi tampilannya yang kaku dan minim promosi visual. Nasib serupa juga dialami Museum Uang Sumatera, Museum Perjuangan TNI, dan Museum Pers Sumatera semuanya menyimpan nilai sejarah penting, tetapi sepi karena tidak berhasil beradaptasi dengan pola konsumsi budaya generasi digital.

Data dari Badan Pusat Statistik DKI Jakarta menunjukkan penurunan pengunjung museum secara drastis. Tahun 2019, tercatat 11 juta pengunjung. Tahun 2020, hanya sekitar 2 juta. Dan pada 2021, anjlok hingga tinggal 119 ribu kunjungan. Meski sempat naik pada 2022 di Museum Sejarah Jakarta (334 ribu pengunjung), jumlah itu masih jauh di bawah kondisi normal. Pandemi COVID-19 tentu menjadi salah satu penyebabnya, namun ketertinggalan museum dalam menjawab selera zaman juga tidak bisa diabaikan.

Di sisi lain, museum di Indonesia juga berjuang dengan anggaran yang terbatas. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kebudayaan tahun 2017, anggaran untuk pengelolaan museum hanya sekitar Rp 350 miliar atau 18 persen dari total anggaran kebudayaan sebesar Rp 1,93 triliun. Dari angka itu, hanya Rp 230 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan fisik. Jika dibagi ke 434 museum yang ada, maka setiap museum rata-rata hanya mendapat sekitar Rp 530 juta per tahun angka yang bahkan tak cukup untuk renovasi minimal atau digitalisasi. Masalahnya tidak hanya soal uang.

Ketimpangan sumber daya manusia dan ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan digital turut memperparah kondisi. Dalam pertemuan Asosiasi Museum Indonesia (AMI) di Yogyakarta pada Juli 2024, terungkap bahwa sekitar 155 museum (35 persen dari total 442 museum) menghadapi masalah internal. Beberapa bahkan harus tutup karena tak sanggup bertahan. Penasihat Indonesia Museum Award, Dwi Suryo Indroyono Soesilo, menyebut bahwa salah satu tantangan besar adalah banyak pengelola museum yang “gagap teknologi”.

Padahal saat ini, teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi menjadi jembatan utama antara sejarah dan generasi digital. Tanpa strategi digital yang kuat entah melalui media sosial, pameran virtual, atau konten interaktif museum hanya akan menjadi ruang mati yang semakin dijauhi.

Bahaya dari sepinya museum bukan sekadar kerugian ekonomi atau penurunan prestise budaya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah terputusnya ingatan kolektif bangsa. Jika generasi muda tak lagi tertarik mendekat ke sejarah, maka lambat laun kita akan kehilangan orientasi tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang ingin kita bawa ke masa depan. Museum adalah ruang di mana memori itu dirawat. Jika ia dibiarkan mati, maka yang mati bukan hanya bangunan, tapi juga kesadaran sejarah.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, pemerintah perlu menyusun kebijakan pengelolaan museum yang lebih modern dan kolaboratif. Tak cukup hanya dengan menambah anggaran, perlu ada sinergi dengan komunitas kreatif, desainer, ahli teknologi, hingga content creator yang bisa mengubah wajah museum menjadi ruang yang relevan dan menarik. Kedua, edukasi masyarakat terutama generasi muda harus melibatkan pendekatan visual dan digital, bukan lagi ceramah panjang atau brosur yang membosankan. Ketiga, museum perlu memahami bahwa tampil menarik bukan berarti menjual sejarah. Justru dengan menyajikan sejarah dalam format yang atraktif dan interaktif, nilai edukasi bisa tersampaikan lebih kuat. Menyisipkan spot foto bukan berarti merusak kesakralan, justru bisa menjadi pemicu rasa ingin tahu lebih jauh tentang isi museum itu sendiri.

Singkatnya, museum harus hadir sebagai ruang yang hidup, bukan sekadar tempat penyimpanan benda kuno. Ia harus sanggup berbicara dalam bahasa zaman, tanpa kehilangan esensi sejarah. Jika tidak, museum akan terus ditinggalkan, hingga akhirnya benar-benar ditutup. Dan saat itu tiba, kita tak hanya kehilangan bangunan tua kita  tapi kehilangan jati diri.

Redaktur: Katrin Alina 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.