
Oleh : Lucy Kezia Simarmata
Lagu Nirrrlaba dirilis pada 26 Maret 2021 sebagai bagian dari album Selamat Datang di Ujung Dunia, berdurasi 3 menit 34 detik, dan diproduksi secara independen oleh Sun Eater Studios. Lagu “Nirrrlaba” dari band Lomba Sihir bukan hanya musik pop alternatif dengan beat yang menarik. Di balik irama elektronik yang dinamis, lagu ini menyampaikan perasaan sosial yang dalam. Lagu ini seperti cermin bagi generasi muda yang merasa kecewa dengan sistem yang tidak adil, tapi tetap semangat untuk berbicara dengan cara yang kreatif.
Lomba Sihir terbentuk pada tahun 2019 dan dikenal dengan musik yang segar dan jujur. Band ini dibentuk oleh Baskara Putra (Hindia) bersama Natasha Udu, Enrico Octaviano, Tristan Juliano, dan Rayhan Noor. Mereka membawa style baru dalam musik alternatif Indonesia dengan memadukan elemen synth pop, rock elektronik, dan nuansa urban.
Dalam lagu “Nirrrlaba”, semua unsur ini terpadu dengan baik. Ketukan drum yang padat, permainan gitar dan synth yang tajam, serta vokal yang bergantian antara Hindia dan Udu membuat lagu ini terasa sangat emosional dan intens. Lagu ini menyampaikan rasa protes, tapi dengan cara yang artistik dan tidak terlalu keras.
Secara musikal, “Nirrrlaba” memiliki tempo yang tidak terlalu cepat, tapi terasa cepat karena irama dan lapisan suara yang padat. Aransemen musik yang modern dan padat ini menggambarkan kehidupan di kota yang sibuk, bising, dan melelahkan. Lagu ini seperti mengajak orang untuk menari di tengah kekacauan tertawa dengan keadaan yang pahit, tapi tetap sadar bahwa banyak hal yang tidak benar di sekitar kita
Dari sisi lirik, “Nirrrlaba” mengandung kritik sosial yang tajam. Baris pembuka seperti “luruskan macam-macam pikiran, pakaian, watak dan perbuatan yang kurang ketimuran” merupakan sindiran terhadap masyarakat yang suka mengatur hidup orang lain dalam nama moral atau budaya. Lirik ini juga menyentuh realitas sosial di mana “nilai ketimuran” sering dijadikan alat untuk membatasi kebebasan berekspresi.
Bagian lain seperti “bakar dan lempar dan putar balikkan sejarahku, hilangkan andilku” mengungkapkan kekecewaan terhadap mereka yang memutarbalikkan fakta sejarah dan menghapus peran rakyat.
Ada perasaan diinjak dan dilupakan. Sementara kalimat “internet, ekonomi, salah kami lagi” mencerminkan frustrasi terhadap cara elite politik yang selalu mencari kesalahan pada orang awam. Lirik-lirik ini sederhana, tapi menyakitkan karena sangat relevan dengan keadaan saat ini.Namun yang menarik, Lomba Sihir tidak menyampaikan kritik ini dengan nada muram. Justru lewat ritme yang hidup dan aransemen elektronik yang memompa adrenalin, mereka menyalurkan amarah dengan cara yang estetis. Lagu ini terasa seperti ledakan yang dikendalikan marah, tapi elegan.
Pendekatan seperti ini menunjukkan kematangan musikal mereka. Lomba Sihir tahu kapan harus keras, kapan harus lembut, dan bagaimana mengubah keresahan menjadi karya yang komunikatif.
Lomba Sihir berhasil mengubah rasa muak menjadi karya yang indah dan berdaya. Mereka tidak hanya membicarakan apa yang salah, tapi juga menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi ruang perlawanan yang lebih halus dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Nirrrlaba bukan cuma lagu protes, tapi juga potret emosional dari generasi yang mulai lelah, namun masih peduli. Musiknya mengajak kita berdansa di tengah kekacauan, liriknya mengingatkan bahwa kita tidak sendiri dalam rasa jenuh terhadap sistem. Dengan segala kejujuran dan energinya, Lomba Sihir membuktikan bahwa kritik bisa terdengar indah dan bahwa pop bisa tetap punya isi.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment