
Oleh: Sandrina Nasution
Kalau bicara tentang kuliner Nusantara, Aceh tidak pernah kehabisan cerita. Dari mie Aceh yang sudah mendunia hingga aneka kue tradisionalnya, tanah Serambi Mekkah selalu menawarkan pengalaman rasa yang unik. Namun, ada satu hidangan yang mungkin belum banyak dikenal di luar Aceh, padahal punya kedalaman sejarah dan filosofi luar biasa. Hidangan itu adalah Kuah Pliek U, atau sering disebut Kuah Pliek.
Nama Pliek U berasal dari bahan utamanya, yaitu ampas kelapa yang difermentasi. Di masa lalu, masyarakat Aceh hidup sangat dekat dengan alam dan tidak pernah menyia-nyiakan bahan pangan. Setelah kelapa diambil santannya, ampasnya masih diolah kembali dengan cara dijemur, difermentasi, dan kemudian dimasak. Dari keterbatasan itu lahirlah sebuah racikan khas yang akhirnya menjadi makanan identitas Aceh.
Kuah Pliek U diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Hidangan ini berkembang di wilayah pesisir Aceh Besar, lalu menyebar ke seluruh Aceh. Karena proses membuat pliek u membutuhkan waktu dan kesabaran, makanan ini tidak muncul setiap hari, melainkan disajikan pada momen-momen penting.
Sejarah mencatat, Kuah Pliek U selalu hadir di kenduri, pesta adat, dan perayaan keagamaan. Bagi orang Aceh, hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol persaudaraan. Satu kuali besar Kuah Pliek bisa disantap ramai-ramai, mencerminkan budaya gotong royong dan kekeluargaan yang kuat. Dalam filosofi masyarakat Aceh, fermentasi pliek u melambangkan kesabaran, karena prosesnya tidak instan. Rasa kompleks yang dihasilkan gurih, asam, sedikit pahit juga dianggap mencerminkan dinamika kehidupan manusia.
Kuah Pliek U biasanya berwarna kecokelatan. Rasanya unik: ada aroma tajam dari pliek u, gurih dari santan, segar dari sayuran, dan kadang diperkaya dengan udang atau ikan. Sayuran yang sering digunakan antara lain daun singkong, pepaya muda, kacang panjang, melinjo, terong, hingga kacang tanah. Semua dimasukkan dalam kuah kaya rempah khas Aceh.
Bagi perantau Aceh, Kuah Pliek U sering menjadi simbol kerinduan kampung halaman. Banyak mahasiswa Aceh di kota besar yang bercerita, begitu mencium aroma Kuah Pliek, mereka langsung teringat rumah dan suasana kenduri di desa. Tidak sedikit pula rumah makan Aceh di Medan, Jakarta, hingga Malaysia yang tetap menyajikan Kuah Pliek untuk menjaga cita rasa tradisi.
Seiring berkembangnya zaman, beberapa chef mencoba menghadirkan versi modern dari Kuah Pliek misalnya sebagai kuah nasi bakar, atau dipadukan dengan mie. Meski begitu, versi tradisionalnya tetap yang paling dicari, karena di situlah sejarah dan filosofi Aceh terasa utuh. Kuah Pliek U adalah bukti bagaimana masyarakat Aceh bisa mengolah sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa. Dari ampas kelapa yang terkesan remeh, lahirlah makanan penuh makna.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment