Reporter: Ghefira Mannawa Salwa dan Abdullah Umar Al Faruk
Suara USU, Medan. Program Parlemen Goes to Campus dengan tema “Mahasiswa di Era Digital: Kritis Berpolitik, Cerdas Bermedia, Sehat Berdemokrasi” digelar di Ruang Teater Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi News & Rhythm bersama Humas DPRD Sumatera Utara yang menghadirkan ruang diskusi bagi mahasiswa untuk membahas peran generasi muda di tengah perkembangan era digital.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa pembuka yang dipimpin oleh Habibi, mahasiswa Ilmu Politik USU angkatan 2024. Selanjutnya, acara dipandu oleh dosen FISIP USU, Ira Rizka Aisyah Lubis, S.Sos., M.Si., sebelum memasuki sesi diskusi.
Memasuki sesi utama, pembahasan berfokus pada tema. Diskusi tersebut mengangkat pentingnya mahasiswa untuk mampu berpikir kritis terhadap isu politik, menyampaikan pendapat secara bijak, serta menggunakan media secara cerdas di tengah derasnya arus informasi digital.
Dalam sesi diskusi, Dekan FISIP USU, Dr. Hatta Ridho, S.Sos., M.SP., menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam kehidupan politik nasional. Menurutnya, mahasiswa merupakan kelompok yang dapat memberikan tekanan dalam tataran nasional karena memiliki sifat independen, termasuk dalam menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan.
Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk tetap berpihak pada kepentingan masyarakat serta bijak dalam menggunakan media. Menurutnya, posisi mahasiswa dalam kehidupan politik berada di antara suprastruktur dan infrastruktur politik, sehingga mahasiswa memiliki ruang untuk mengambil peran dalam menyampaikan aspirasi.
“Mahasiswa ini perlu bijak dalam bermedia, tetap harus pro-kerakyatan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil DPRD Sumatera Utara, H. Salman Alfarisi, Lc., M.A., menyoroti kreativitas mahasiswa dalam memanfaatkan media sosial. Menurutnya, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kreativitas dalam mengkritisi berbagai persoalan.
“Kata kuncinya yakni kreatif. Kreativitas dalam mengkritisi,” ungkapnya.
Ia menilai kreativitas mahasiswa dalam menyampaikan kritik dapat menjadi salah satu alasan untuk menaruh harapan kepada generasi muda. Melalui penggunaan media yang kreatif dan kritis, mahasiswa dinilai mampu membangun kembali semangat masyarakat bahwa masih terdapat generasi muda yang peduli terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.
Ia juga menyoroti peran mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi melalui aksi demonstrasi. Menurutnya, mahasiswa perlu menyampaikan identitas dan tujuan aksi secara jelas agar masyarakat dapat memahami isu yang sedang diperjuangkan.
“Terkait dengan aksi demonstrasi, misalnya. Ketika mahasiswa datang untuk melakukan unjuk rasa, mereka biasanya menggunakan almamater. Masyarakat yang melintas terkadang tidak mengetahui mahasiswa dari kampus mana dan sedang memperjuangkan isu apa. Sayang sekali kalau hal tersebut tidak disampaikan dengan jelas.” tegasnya.
Penyampaian materi oleh Salman Alfarisi berlangsung secara interaktif dan informatif. Hal tersebut mendorong mahasiswa untuk aktif bertanya serta menggali informasi lebih lanjut mengenai isu demokrasi digital dan peran mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.
Salah satu peserta, Jihan, menilai kegiatan Parlemen Goes to Campus memberikan pemahaman mengenai pentingnya menyaring informasi di media sosial serta menggunakan bahasa yang baik dalam menyampaikan aspirasi.
“Menurut saya, setelah mengikuti program Parlemen Goes to Campus, pandangan saya tentang demokrasi digital tidak banyak berubah. Namun, kegiatan ini mengingatkan pentingnya menyaring informasi di media sosial dan menggunakan bahasa yang baik saat menyampaikan aspirasi, terutama kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Harapannya, mahasiswa Ilmu Politik dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta menghindari ujaran kebencian dan tuduhan yang bersifat personal,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa Departemen Ilmu Politik tidak hanya bijak dalam menggunakan media sosial, tetapi juga mampu menyampaikan aspirasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat dengan bahasa yang baik dan santun. Menurutnya, kritik tetap dapat disampaikan secara tegas tanpa menggunakan ujaran kebencian maupun tuduhan yang ditujukan secara personal kepada individu tertentu.
Dengan demikian, kegiatan Parlemen Goes to Campus diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan mengenai demokrasi digital, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk lebih kritis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan aspirasi, baik melalui media sosial maupun ruang publik.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment