Oleh: Saffanah Qanitah HS/Rimma Putri Masta Napitupulu/Crystin Manullang
Suara USU, Medan. Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP USU berkesempatan untuk berkunjung ke KOPA (Komunitas Peduli Anak) dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan yang diampu oleh Ibu Dra. Berlianti M.SP. dan Ibu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP. Kelompok kami yang beranggotakan Saffanah Qanitah HS (210902049), Rimma Putri Masta Napitupulu (210902053), dan Crystin Manullang (210902069) ini melakukan observasi guna mengetahui beban ganda yang dialami anak jalanan serta dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental mereka, peran KOPA dalam meningkatkan kesetaraan gender di kalangan anak jalanan, tantangan yang dihadapi KOPA dalam menegakkan kesetaraan gender serta cara mengatasinya, dan menyusun solusi yang ditawarkan oleh pekerja sosial berdasarkan asesmen guna membantu anak jalanan menghadapi tantangan yang mereka hadapi.
Ditengah tantangan ekonomi, banyak keluarga dengan pendapatan rendah terpaksa membiarkan anak-anak mereka bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Fenomena anak jalanan semakin memprihatinkan, di mana anak-anak yang seharusnya menikmati masa kanak-kanak justru harus memikul beban ganda demi memenuhi kebutuhan hidup. Anak jalanan, yang berinisial I, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, harus berjualan di jalanan dari pukul 8 malam hingga tengah malam. Meskipun mengaku berjualan atas keinginan sendiri, I sebenarnya juga terpaksa membantu keluarganya yang menghadapi kesulitan ekonomi setelah orang tuanya berpisah. Pendapatan yang diperoleh sering kali diserahkan kepada ibunya, meski I juga menyisihkan sebagian untuk kebutuhannya sendiri.
Berdasarkan UU Perlindungan Anak, setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual. Namun, kenyataannya banyak anak yang terjebak dalam kondisi ini. Meskipun banyak regulasi yang melarang pekerja anak, masih banyak ditemukan anak-anak yang bekerja di jalanan, kehilangan hak-hak dasar seperti pendidikan, kasih sayang, dan perlindungan. Kasus I adalah contoh nyata bagaimana anak-anak harus berjuang di tengah kerasnya kehidupan jalanan. Ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk menghindari penangkapan oleh Dinas Sosial dan risiko dari lingkungan sekitar. Dengan kondisi ekonomi yang sulit, anak-anak ini seharusnya dilindungi, bukan diminta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama memberikan perhatian lebih pada isu ini, memastikan bahwa anak-anak dapat menikmati masa kanak-kanak mereka dengan aman dan mendapatkan hak-hak mereka.

KOPA adalah lembaga yang berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, perempuan, lansia, dan peduli terhadap lingkungan di Kampung Aur. Dengan fokus pada kesetaraan gender, KOPA berupaya menjembatani seluruh lapisan masyarakat agar mendapatkan hak-haknya. Beberapa program KOPA yang mendukung kesetaraan gender antara lain :
1. Memprioritaskan bantuan untuk lansia, anak-anak, dan ibu hamil.
2. Mendirikan program Bank Sampah yang melibatkan ibu-ibu di Kampung Aur, memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
3. Membantu lansia dan keluarga dalam pengurusan dokumen penting, seperti kartu keluarga dan berkas penerima bantuan.
4. Mengajak ibu-ibu untuk berpartisipasi dalam komunitas merajut, sebagai langkah pemberdayaan ekonomi.
KOPA juga fokus pada kesejahteraan anak dengan program-program seperti :
1. Membantu anak putus sekolah untuk mendaftar sekolah paket dan menyelesaikan berkas hingga lulus.
2. Memberikan dukungan dan intervensi bagi anak jalanan dan keluarganya untuk memenuhi hak-hak pendidikan anak.
3. Mengajak anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan positif guna memperluas wawasan dan keterampilan.
Berkat program-program ini, jumlah anak jalanan di Kampung Aur telah berkurang, dan mereka kini lebih terdidik serta terarah dalam mencari nafkah. KOPA berperan penting dalam mewujudkan keadilan gender dan pemenuhan hak anak, menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Kampung Aur.
Koperasi Peduli Anak (KOPA) menghadapi sejumlah tantangan dalam upayanya menegakkan kesetaraan gender di masyarakat. Salah satu kendala utama adalah masalah biaya. Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), KOPA bergantung pada dana pribadi anggotanya untuk operasional dan program-programnya. Meskipun sesekali menerima sumbangan sukarela, KOPA sering kali berjuang dengan keterbatasan dana untuk membantu masyarakat. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya memberikan afeksi dan memenuhi hak-hak anak masih rendah. Usaha KOPA untuk mengatasi masalah ini hanya mampu meminimalisir dampak, karena pola asuh orang tua dan lingkungan sangat mempengaruhi. Tidak semua orang tua sependapat dengan pendekatan yang diajukan KOPA, dan hal ini merupakan hak individu yang sulit diubah. Faktor ekonomi dan pendidikan yang rendah di masyarakat juga memperumit pelaksanaan kesetaraan gender. Banyak orang tua yang terpaksa mengorbankan pendidikan anak demi kebutuhan ekonomi, sehingga anak-anak terpaksa bekerja di jalan. Situasi ini semakin diperburuk oleh tingginya angka pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan penyalahgunaan narkoba, yang mengancam keselamatan anak-anak dan perempuan, serta laki-laki di Kampung Aur. KOPA terus berkomitmen untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, namun dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menciptakan kesetaraan gender yang nyata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Anak jalanan, terutama yang berasal dari keluarga broken home, menghadapi tantangan serius dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menangani kasus anak seperti I, seorang pekerja sosial (peksos) melakukan assessment untuk memahami situasi, kebutuhan, dan sumber daya yang ada. Hal ini menjadi langkah awal untuk menemukan solusi yang tepat. Pekerja sosial memiliki peran krusial dalam memberikan dukungan komprehensif demi kesejahteraan anak. Beberapa solusi yang dapat diterapkan termasuk pendekatan keluarga dan mediasi, di mana pekerja sosial membantu memperbaiki hubungan keluarga I melalui konseling dan mencari alternatif seperti keluarga angkat atau lembaga sosial. Pemulihan psikologis dan emosional juga penting, mengingat trauma yang dialami I; peksos dapat mengoordinasikan terapi untuk membantu I mengatasi stres akibat situasi keluarga dan kehidupan di jalanan. Selain itu, akses pendidikan perlu diberikan melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan agar anak-anak jalanan dapat keluar dari siklus pekerjaan di jalanan. Intervensi kesejahteraan ekonomi juga diperlukan dengan menghubungkan keluarga I pada program bantuan ekonomi, sehingga kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi tanpa harus mengandalkan pekerjaan di jalanan. Program rehabilitasi sosial yang melibatkan aktivitas positif dapat membantu anak beradaptasi dan mengembalikan hak-hak mereka sebagai anak. Terakhir, pekerja sosial berperan dalam mengadvokasi perlindungan hukum bagi anak, memastikan bahwa mereka tidak lagi dieksploitasi dan mendapatkan perlindungan yang layak. Pekerjaan I di jalanan mencerminkan pelanggaran hak anak dan menunjukkan perlunya keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan keluarga dalam melindungi anak-anak dari eksploitasi. Dengan pendekatan holistik, pekerja sosial dapat membantu I keluar dari situasi sulit dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Melalui program yang fokus pada pemberdayaan dan rehabilitasi, diharapkan anak-anak seperti I dapat mengembangkan potensi mereka tanpa beban kerja yang membebani perkembangan mereka secara negatif.

Kondisi anak jalanan di Indonesia membutuhkan perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah. Beberapa langkah strategis dapat diambil untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan menegakkan kesetaraan gender. Pertama, masyarakat harus lebih sadar akan pentingnya memberikan kasih sayang dan memenuhi hak-hak anak. Edukasi intensif mengenai kesetaraan gender perlu digalakkan agar kesadaran ini semakin meningkat. Kedua, dukungan pemerintah kepada organisasi non-pemerintah seperti KOPA sangat penting. Bantuan finansial dan sumber daya lainnya dapat meningkatkan efektivitas program yang dijalankan untuk anak jalanan. Selanjutnya, program pendidikan yang layak harus menjadi prioritas. KOPA, bersama pemerintah dan organisasi lain, perlu mengembangkan program pendidikan yang dapat membantu anak jalanan meraih masa depan yang lebih baik. Akhirnya, koordinasi antara organisasi non-pemerintah dan pemerintah sangat krusial. Kerja sama yang erat akan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi dalam menegakkan kesetaraan gender dan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh anak jalanan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak jalanan dan mendukung kesetaraan gender di masyarakat.
Artikel ini ditujukan untuk memenuhi mata kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP., dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Khalda Mahirah PanggabeanÂ
Leave a comment