Home Tulisan Pemberdayaan Perempuan di Desa Tanjung Rejo Dengan Budidaya Lebah Madu di Kawasan Hutan Mangrove
Tulisan

Pemberdayaan Perempuan di Desa Tanjung Rejo Dengan Budidaya Lebah Madu di Kawasan Hutan Mangrove

Share

Oleh: Nadya Nurhaliza/Joice Margaretha Zebua/Cicilia Kimberly Oldy Saragih

Suara USU, Medan. Kawasan Hutan Mangrove yang memiliki daya ekonomi yang tinggi, letaknya berada di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan. Desa ini memiliki berbagai pemberdayaan di setiap dusun. Pengelola pemberdayaan ada yang dipegang oleh desa dan juga komunitas. Pemberdayaan ini tujuannya untuk menggerakkan dan memberdayakan para ibu-ibu rumah tangga untuk melakukan kegiatan positif dan memberikan dampak kepada masyarakat itu sendiri. Kegiatan pemberdayaan ini, tepatnya komunitas budidaya lebah madu Mangrove ini merupakan inisiasi dari bapak kepala desa dan juga bekerja sama dengan salah satu kampus bergengsi di Sumatera Utara yakni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Pemberdayaan ini dinamakan “Bilik Asmara Sarang Lebah Mangrove”. Program ini merupakan hasil Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) HIMAGRI Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Perlu diketahui bahwa program ini didanai sepenuhnya oleh Kemendikbudristek serta Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melalui program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) tahun 2024. Pelaksana program ini adalah Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIMAGRI) UMSU. Program ini menjadi salah satu program unggulan desa Tanjung Rejo. Program yang dijalankan saat ini didokumentasikan melalui instagram @ppkormawahimagriumsu.

Program pemberdayaan perempuan dengan budidaya lebah madu di kawasan hutan mangrove berdampak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Tanjung Rejo. Program ini dilakukan oleh 15 orang ibu rumah tangga yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan diberdayakan untuk aktif dalam prosesnya mulai dari budidaya hingga tahap pemasaran produk. Madu dipanen setiap satu bulan sekali agar kualitas madu dan ekosistemnya tetap terjaga, saat masa panen, madu dipisahkan dari sarangnya menggunakan sebuah alat pemeras madu elektrik yang nantinya akan menghasilkan madu yang higienis, murni, dan layak untuk dipasarkan. Madu yang dihasilkan diberi nama “To- Bee Honey”. Untuk saat ini pohon madunya ada 4 kotak dan lebah yang hinggap merupakan lebah madu dengan spesies Trigona sp. Madu yang sudah diproses dijual dalam botol berukuran 250 ml dengan kisaran harga Rp 200.000 per botolnya tergantung pada kualitas panen dan jumlah permintaan konsumen dengan pemasaran produk dijual dari rumah ke rumah dan juga melalui agen. Hal yang menarik mengenai “To- Bee Honey” ini adalah madu yang berada di kawasan phon mangrove. Rasa dari madu ini lebih nikmat dari madu biasanya. Untuk pemeesanan bisa menghubungi narahubung

0895-4254-21616 (egik)

Tentunya dalam suatu program terdapat dampak positif dan negatif. Dampak positif yang didapatkan dari program pemberdayaan ini adalah ibu ibu dapat tetap produktif. Pemberdayaan ini dapat membantu ibu-ibu untuk menambah penghasilan setelah mereka mandiri untuk membuka usaha. Penghasilan yang didapatkan bisa dipakai untuk membeli keperluan rumah tangga. Untuk saat ini belum dijumpai dampak negatif pemberdayaan ini karena dalam program pemberdayaan ini masih berjalan satu bulan dan masa panen pun masih satu kali. Harapan penulis adalah program ini dapat dilanjutkan oleh Desa Tanjung Rejo karena melihat potensi besar yang sudah digali oleh PPK ORMAWA HIMAGRI UMSU. Keunikan madu yang jarang dimiliki oleh desa lainnya menjadi kunci untuk menjadikan pemberdayaan yang akan berlanjut ke depannya.

Tantangan yang dihadapi dari pemberdayaan ini adalah banyaknya permintaan yang ada tetapi masih sedikit penawaran yang bisa ditawarkan oleh ibu-ibu tersebut. Pada penjualan pertama madu yang dihasilkan langsung habis terjual. Dan juga harapan dari pemberdayaan ini dapat berkembang dengan baik sehingga dapat menambah sarang madu lagi.

Adapun saran dari penulis ialah direncanakannya sebuah strategi dalam pemasaran produk. Perlunya target pemasaran disini guna untuk menaikkan nama produk yang dihasilkan dan menaikkan perekonomian masyarakat desa. Meningkatnya dalam proses pemasaran pada lebah madu mangrove, maka ekonomi masyarakat dapat terbantu dengan kegiatan program ini dan juga ibu-ibu di desa masih terpelihara karena adanya pemberdayaan dari program kegiatan yang diinisiasi oleh Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa HIMAGRI Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Artikel ini ditujukan untuk memenuhi mata kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP., dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.