Penulis: Tamara Tambunan/ Cicilia Saragih/ Hanna Sinaga
Suara USU, Medan. Komunitas Sanggar Sungai Anak Deli (Sasude) menjadi sorotan publik dengan peran aktifnya dalam memberikan edukasi lingkungan dan membantu masyarakat di sekitar Sungai Deli. Dibentuk pada tahun 2018, Sasude awalnya berfokus pada literasi dan pengembangan bakat anak-anak di sekitar wilayah sungai. Namun, seiring waktu, komunitas ini memperluas cakupan kegiatannya, termasuk penanggulangan dampak banjir dan pelestarian lingkungan.
Dalam wawancara bersama Lukman Siagian, salah satu pendiri Sasude, beliau menjelaskan bahwa keterlibatannya dengan Sungai Deli dimulai dari kecintaannya terhadap lingkungan. Lukman yang sebelumnya tergabung dalam komunitas pecinta alam, sering melakukan kegiatan di sepanjang Sungai Deli. “Kami lihat kondisi sungainya semakin memburuk, penuh sampah, dan masyarakat di sekitar sungai juga membutuhkan bantuan edukasi,” ujar Lukman.
Sejak tahun 2015, kondisi Sungai Deli sudah tergolong kotor. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh sampah yang menumpuk, tetapi juga oleh penyempitan ruang sungai akibat pembangunan ilegal di sepanjang bantaran. “Penyempitan sungai yang dulunya 12 meter di kiri dan 15 meter di kanan, kini banyak didirikan bangunan permanen yang membuat sungai sering meluap,” jelas Lukman.
Komunitas Sasude melihat bahwa masalah sampah menjadi salah satu penyebab utama banjir di Sungai Deli. Edukasi kepada warga mengenai pengolahan sampah dan pentingnya menjaga kebersihan sungai telah dilakukan, namun Lukman menilai implementasi dari peraturan daerah terkait sampah masih kurang efektif. “Sebenarnya peraturan tentang sampah sudah ada, bahkan dendanya cukup besar, tetapi sosialisasinya kurang sampai ke masyarakat,” tambahnya.
Sungai Deli telah beberapa kali mengalami banjir besar, salah satunya pada tahun 2020 yang mengakibatkan ketinggian air mencapai 2 meter. Selama satu minggu penuh, warga terpaksa mengungsi. “Kami koordinasi dengan pemerintah, tapi karena keterbatasan fasilitas, warga akhirnya mengungsi di musala,” ungkap Lukman. Sasude juga membuka donasi dan menyediakan dapur umum serta bantuan kesehatan bagi warga terdampak.
Menurut Lukman, banjir ini bukan hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga karena pengelolaan sungai yang kurang tepat. Salah satu kritiknya terhadap pemerintah adalah penebangan pohon di sekitar sungai yang justru memperparah longsor. “Padahal kita butuh pohon-pohon di pinggiran sungai untuk menahan tanah, tapi pohon malah ditebang,” tuturnya.
Lukman juga menyoroti pentingnya membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Bencana di setiap lingkungan. Kelompok ini diharapkan bisa membantu masyarakat dalam menghadapi banjir, mulai dari penyediaan perahu, tempat pengungsian, hingga pengelolaan logistik. “Banjir sudah menjadi bagian dari kehidupan di sini. Masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan saat banjir datang. Kami juga punya sistem untuk menyediakan sarapan bagi warga yang tak sempat memasak saat banjir,” jelasnya.
Keberhasilan Sasude dalam membantu masyarakat Sungai Deli tak lepas dari semangat gotong royong dan dukungan relawan. Dengan minimnya bantuan dari pemerintah, Sasude tetap berjuang melalui kontribusi sosial. “Semua yang kami lakukan berbasis swadaya. Dari edukasi, membersihkan sungai, hingga membantu warga saat banjir, semuanya atas dasar tanggung jawab moral dan dedikasi kepada lingkungan,” tutur Lukman.
Komunitas ini terus berharap agar perhatian terhadap Sungai Deli meningkat, baik dari sisi kebijakan maupun pelaksanaannya di lapangan. “Masalah sungai ini sebenarnya mudah diselesaikan jika dikerjakan bersama-sama, serius, dan jadi prioritas,” tegas Lukman.
Lukman berharap kedepannya lebih banyak kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas untuk mengelola Sungai Deli secara berkelanjutan. “Dengan adanya kesadaran kolektif dan program-program yang terarah, kita bisa mengurangi dampak banjir dan menjaga kelestarian Sungai Deli,” pungkasnya.
Artikel ini merupakan publikasi dari tugas mata kuliah Manajemen Penanggulan Bencana dengan Dosen Pengampu: Dra. Berlianti M.SP/ Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP
Redaktur: Balqis Aurora
Leave a comment