Home Tulisan Peran Sentral Orang Tua dalam Menumbuhkan Kerukunan Anak di Lingkungan Keluarga
Tulisan

Peran Sentral Orang Tua dalam Menumbuhkan Kerukunan Anak di Lingkungan Keluarga

Share
Sumber: kibrispdr.org

Oleh: Xenayla

Suara USU, Medan. Kerukunan adalah fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai kerukunan seperti toleransi, empati, kerja sama, dan sikap saling menghargai bukanlah sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya. Nilai-nilai tersebut justru terbentuk pertama kali dalam lingkungan yang paling kecil dan paling dekat dengan anak, yaitu keluarga. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial dalam membentuk kerukunan anak sejak dini.

Dalam keluarga, anak belajar banyak hal melalui interaksi sehari-hari. Orang tua tidak hanya bertindak sebagai pengasuh dan pelindung, tetapi juga sebagai pendidik pertama dan utama. Anak-anak sangat mudah meniru apa yang mereka lihat. Jika mereka tumbuh di tengah keluarga yang penuh kehangatan, kasih sayang, dan kerja sama yang baik, maka kemungkinan besar mereka akan membawa nilai-nilai tersebut ke luar rumah. Sebaliknya, jika mereka dibesarkan dalam lingkungan yang penuh konflik, kekerasan, dan sikap egois, maka anak pun cenderung meniru hal-hal negatif tersebut.

Peran orang tua dalam membentuk kerukunan anak dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pertama, orang tua perlu menjadi teladan dalam berperilaku rukun. Anak-anak yang melihat orang tuanya menyelesaikan masalah secara damai, saling menghargai pendapat, dan tidak mudah marah akan belajar bahwa perbedaan tidak harus berujung pada pertengkaran.

Kedua, orang tua perlu menanamkan nilai toleransi dan empati kepada anak. Ini bisa dilakukan dengan mengajak anak berdiskusi ringan tentang pentingnya memahami perasaan orang lain, serta membiasakan anak untuk berbagi, baik kepada saudara maupun teman sebaya. Ketiga, orang tua juga dapat menciptakan suasana rumah yang nyaman dan terbuka, di mana anak merasa bebas menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi. Komunikasi yang sehat antara anak dan orang tua adalah salah satu kunci utama dalam membentuk kerukunan di dalam keluarga.

Selain itu, penting bagi orang tua untuk membangun kegiatan yang melatih kerja sama, seperti membereskan rumah bersama atau membuat proyek keluarga kecil. Hal ini tidak hanya mempererat ikatan antaranggota keluarga, tetapi juga melatih anak untuk bekerja sama, mengalah, dan menghargai hasil bersama.

Mengacu pada pandangan Charles Zastrow (2010) dalam buku Introduction to Social Work and Social Welfare, keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter sosial anak. Lingkungan keluarga yang sehat akan mendukung anak berkembang menjadi pribadi yang mampu berhubungan baik dengan lingkungan sosialnya. Demikian juga menurut Yuliani Nurani Sujiono (2009), proses pendidikan karakter pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh pengasuhan dan keteladanan orang tua di rumah.

Orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjadi pendidik dan teladan utama dalam kehidupan sosial mereka. Melalui tindakan sehari-hari seperti memberi contoh sikap saling menghargai, mengajarkan komunikasi yang baik, serta menciptakan suasana rumah yang harmonis, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai kerukunan secara efektif. Selain itu, orang tua juga perlu hadir sebagai mediator ketika terjadi konflik antaranak, bukan dengan memihak, melainkan membimbing anak untuk menyelesaikan masalah dengan cara damai dan adil.

Penting juga bagi orang tua untuk menciptakan aturan keluarga yang jelas dan disepakati bersama, agar anak memahami batasan dan belajar bertanggung jawab. Ketika anak merasa dihargai dan didengarkan dalam keluarga, mereka akan lebih mudah mengembangkan sikap toleransi dan empati terhadap sesama.

Kerukunan anak tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang pembiasaan dan pendidikan dalam keluarga. Orang tua berperan sebagai kunci utama dalam membentuk fondasi tersebut. Dengan memberi teladan yang baik, menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat, dan menanamkan nilai toleransi sejak dini, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang damai, rukun, dan mampu hidup berdampingan dengan siapa pun.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.