Home Tulisan Prestasi Gemilang! Paduan Suara U. L. O. S USU Buktikan Suara Mahasiswa Bisa Mendunia
Tulisan

Prestasi Gemilang! Paduan Suara U. L. O. S USU Buktikan Suara Mahasiswa Bisa Mendunia

Share

Oleh: Emma Nabila Siagian, Dwi Fahraini Tambunan, Assyifa Alfiranto Harahap, Syahfina Aurelia, Azizah Nurul Anasya, Diva Nuraini Purnama, Ainun Jariyah Siregar.

Suara USU, Medan. Project Based Learning (PBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk mengkaji persoalan nyata melalui pengamatan, wawancara, dan penyusunan laporan berbasis data lapangan. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara melakukan asesmen terhadap UKM Paduan Suara U.L.O.S (Universal Lyrics Of the Symphony), sebuah komunitas seni vokal yang telah mengharumkan nama kampus hingga ke kancah internasional.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara dari Program Studi Psikologi dan Fisika, yaitu Emma Nabila Siagian (231301003), Dwi Fahraini Tambunan (231301009), Assyifa Alfiranto Harahap (231301018), Syahfina Aurelia (231301001), Azizah Nurul Anasya (230801021), Diva Nuraini Purnama (230801011), serta Ainun Jariyah Siregar (23080103). Selama pelaksanaan PBL, mereka dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat, yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kessos.

UKM U.L.O.S didirikan pada tahun 2014 oleh Prof. Drs. Mauly Purba, M.A., Ph.D., dan diresmikan sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa pada tahun 2015. Pada awal pembentukannya, organisasi ini menghadapi tantangan berupa rendahnya partisipasi dan kurangnya keterlibatan alumni. Namun sejak tahun 2023, minat terhadap U.L.O.S meningkat pesat, terbukti dari 200 pendaftar yang mengikuti seleksi dalam satu periode rekrutmen. V, mahasiswa Psikologi USU yang menjabat sebagai Ketua Umum U.L.O.S sejak Februari 2025, menyampaikan bahwa berbagai prestasi yang diraih telah membuat UKM ini semakin diminati. U.L.O.S tampil di berbagai ajang nasional seperti Grand Prix ION dan Thamrin Celebration, serta berhasil menorehkan prestasi dalam kompetisi internasional seperti Pesta Narawi di Jepang dan festival paduan suara di Bali yang diikuti oleh peserta dari Korea, New Zealand, Malaysia, dan Sri Lanka.

Nama U.L.O.S yang berasal dari kain tradisional Batak tidak membatasi ruang ekspresi mereka dalam berkesenian. Lagu-lagu yang dibawakan justru mencerminkan keberagaman budaya Indonesia. V menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu suku atau etnis. Salah satu lagu andalan yang sering mereka tampilkan adalah Hentakan Jiwa, sebuah lagu daerah yang terinspirasi dari budaya Melayu.

Wawancara dengan Ketua U.L.O.S dilakukan secara daring melalui Zoom pada 13 Mei 2025. Dalam wawancara tersebut, V membagikan kisah inspiratif tentang perjalanannya bersama U.L.O.S. Ia bergabung sejak tahun 2023 sebagai mahasiswa baru dan awalnya hanya ingin menyalurkan hobi bernyanyi. Namun setelah bergabung, ia merasa berada di dalam sebuah keluarga yang mendorong pertumbuhan pribadi dan profesionalnya. Sebagai ketua umum, V mengaku bahwa membangun komitmen antaranggota merupakan tantangan tersendiri, terutama dalam menghadapi jadwal latihan yang padat dan persiapan kompetisi. Ia menyebutkan bahwa diskusi terbuka, saling mengingatkan, dan saling memotivasi menjadi kunci keberhasilan organisasi.

“Awalnya saya hanya ingin menyalurkan hobi bernyanyi. Tapi setelah ikut U.L.O.S, saya merasa berada di keluarga yang mendorong saya untuk tumbuh,” ujarnya.

“Kami terbiasa berdiskusi terbuka, saling mengingatkan, dan tidak segan memotivasi satu sama lain. Saya percaya, kunci keberhasilan kami ada di komunikasi dan rasa memiliki,” jelasnya.

Lebih dari sekadar prestasi di atas panggung, U.L.O.S juga menjadi ruang pengembangan diri. Menurut V, pengalaman di U.L.O.S telah membuatnya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, disiplin, dan mampu menghargai proses.

Salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi U.L.O.S adalah ketika mereka gagal berangkat ke ajang kompetisi internasional di New Zealand. Padahal, berbagai persiapan telah dilakukan secara matang, mulai dari pengumpulan dana, pengurusan paspor, hingga pelunasan biaya pendaftaran. Namun, rencana keberangkatan terpaksa dibatalkan setelah dukungan dana dari pihak kampus yang sebelumnya dijanjikan mengalami pengurangan secara tiba-tiba, yang membuat proses pengurusan visa tidak dapat diselesaikan tepat waktu. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi seluruh anggota, namun semangat mereka tidak padam. Mereka memilih untuk tetap melanjutkan perjuangan dan mengikuti kompetisi di Bali, di mana mereka berhasil lolos ke babak Grand Prix. Peristiwa ini menjadi pembuktian bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan yang lebih besar.

Apa yang dilakukan oleh U.L.O.S sejalan dengan konsep pengorganisasian komunitas dalam kerja sosial. Menurut Susan Kenny (2011), kunci sukses pengorganisasian komunitas adalah partisipasi aktif, penguatan identitas kelompok, dan struktur organisasi yang jelas. Hal ini tampak pada keterlibatan aktif seluruh elemen organisasi, mulai dari pengurus hingga anggota baru, dalam berbagai aktivitas seperti latihan rutin, proses rekrutmen, dan persiapan menghadapi kompetisi. Identitas kelompok diperkuat oleh semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang tinggi, serta rasa bangga mewakili nama U.L.O.S sebagai duta seni kampus. Struktur organisasi yang tertata, pembagian peran yang jelas, serta pengambilan keputusan secara kolektif melalui musyawarah turut memperkuat keberhasilan organisasi ini.

Dari sudut pandang teori capacity building oleh Chaskin (2001), U.L.O.S menunjukkan perkembangan kapasitas kolektif yang terus tumbuh. Proses belajar bersama yang berkelanjutan, pemanfaatan potensi budaya lokal, dan relasi sosial yang kuat menjadi fondasi keberhasilan mereka dalam mengelola kegiatan hingga ke tingkat internasional. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kerja sama, komunikasi terbuka, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya menjadi identitas kuat yang tertanam dalam diri setiap anggota. Hal ini menjadikan U.L.O.S bukan sekadar komunitas seni vokal, melainkan juga wadah pembentukan karakter dan kepemimpinan.

Dalam praktik organisasionalnya, U.L.O.S telah menunjukkan penerapan manajemen yang efektif melalui perencanaan terstruktur, pengorganisasian peran, pelaksanaan kegiatan secara rutin, serta evaluasi berkala untuk peningkatan kualitas. Keberhasilan UKM ini menjadi cerminan nyata bahwa organisasi mahasiswa mampu menjadi agen perubahan sosial, budaya, dan pendidikan yang berdampak luas jika didukung oleh sistem yang baik, kepemimpinan yang terbuka, serta semangat gotong royong yang tinggi. Model pengelolaan seperti ini dapat dijadikan rujukan bagi pengembangan UKM lain yang bergerak di bidang seni dan budaya dalam rangka mendorong pemberdayaan mahasiswa secara menyeluruh.

Berdasarkan hasil observasi, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan UKM Paduan Suara U.L.O.S Universitas Sumatera Utara tidak hanya ditentukan oleh kualitas vokal anggotanya, tetapi juga oleh kekuatan komunitas yang inklusif, terstruktur, dan saling mendukung. Penerapan nilai-nilai seperti kebersamaan, komunikasi yang efektif, serta proses pembinaan yang berkesinambungan telah menjadikan U.L.O.S sebagai tempat tumbuh yang tidak hanya menghasilkan prestasi di atas panggung, tetapi juga membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter kuat, memiliki jiwa kepemimpinan, dan mampu bekerja sama secara harmonis. Untuk pengembangan di masa depan, UKM ini memiliki potensi besar untuk menjadi model percontohan bagi organisasi mahasiswa lainnya, khususnya dalam membangun ekosistem seni yang mendukung pengembangan bakat sekaligus karakter. Dengan terus meningkatkan kualitas fasilitas, memperkuat sistem pelatihan, dan mengoptimalkan pengelolaan organisasi, U.L.O.S dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran nonformal yang mencetak generasi muda berprestasi dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Metode-Metode Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.