Home Kabar Kampus Rawat Ekosistem Pesisir, Mahasiswa FKM USU Tanam 600 Bibit Mangrove
Kabar Kampus

Rawat Ekosistem Pesisir, Mahasiswa FKM USU Tanam 600 Bibit Mangrove

Share

Reporter: Nisa Rosanti, Nazwa Rizaliana

Suara USU, Medan. Sebanyak 350 mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), menanam 600 bibit mangrove di Pantai Mangrove Kampung Nipah, Serdang Bedagai, Sabtu (13/06).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Project-Based Learning mata kuliah Manajemen Bencana yang bertujuan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa dalam melakukan mitigasi bencana. Aksi penanaman mangrove dipilih sebagai upaya mencegah abrasi pantai sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., mengatakan aksi penanaman mangrove tersebut merupakan kontribusi nyata kampus dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Menurutnya, kegiatan lapangan dirancang agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoritis, tetapi juga melakukan tindakan nyata.

“Mata kuliah ini didesain tidak hanya untuk memberikan kesadaran teoritis, tetapi juga mendorong mahasiswa melakukan tindakan nyata. Penanaman mangrove ini masuk dalam kategori mitigasi bencana secara fisik,” ujarnya.

Prof. Ida menjelaskan mangrove berfungsi sebagai benteng alami pantai dalam mencegah abrasi serta menahan laju gelombang apabila terjadi bencana tsunami.

“Kondisi alamiah membuat beberapa titik hutan mangrove di sini mulai rusak. Oleh karena itu, kita tanami kembali dengan harapan bibit-bibit ini bisa tumbuh dengan baik,” tambahnya.

Dosen FKM USU, Fadilah Aini, S.K.M., M.Kes., mengatakan permasalahan lingkungan seperti banjir dan abrasi pantai menjadi alasan tim dosen memilih tema penyelamatan pesisir dalam pelaksanaan Project-Based Learning semester ini.“Dalam studi manajemen kebencanaan, fokus kita adalah mitigasi. Apalagi isu lingkungan seperti banjir dan abrasi pantai merupakan masalah klasik yang belum selesai hingga hari ini,” ujar Fadilah.

Fadilah mengatakan aksi penanaman mangrove dipilih sebagai bentuk kegiatan yang dapat diterapkan langsung oleh mahasiswa.

“Untuk Project-Based Learning semester ini, kami memilih aksi nyata penanaman mangrove sebagai solusi paling mudah dan aplikatif bagi mahasiswa untuk mencegah abrasi pantai,” katanya.

Kegiatan penanaman diawali oleh Prof. Ida, dilanjutkan oleh Fadilah dan seluruh mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat. Kegiatan tersebut awalnya menargetkan penanaman 1.000 bibit mangrove. Namun, karena hanya 600 bibit yang tersedia, penanaman dilakukan sesuai dengan jumlah bibit tersebut.Fadilah mengatakan mahasiswa mendapatkan berbagai pengalaman selama mempersiapkan hingga melaksanakan kegiatan. Menurutnya, proses menentukan lokasi, berkomunikasi dengan pihak pengelola, hingga mengoordinasikan 350 mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran.

“Sebagian besar proses ini adalah cerita suka. Mahasiswa belajar banyak hal, mulai dari menentukan lokasi hingga berkomunikasi dengan pihak pengelola. Mengoordinasikan 350 orang memang tidak mudah, namun di situlah esensi Project-Based Learning, yaitu memberikan pengalaman nyata dalam pembelajaran,” ujarnya.

Di penghujung kegiatan, pihak pengelola kawasan wisata berharap kolaborasi dengan dunia pendidikan dapat terus berlanjut dalam jangka panjang. Mereka berharap terdapat program lanjutan berupa diskusi akademis maupun pendampingan pengembangan wisata bersama pihak universitas.

“Dukungan terhadap lingkungan itu esensinya sangat luas, tidak terbatas pada aksi menanam mangrove atau membersihkan area pantai saja,” ujar perwakilan pengelola.

Tim dosen FKM USU turut berharap aksi penanaman mangrove dapat berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan pesisir dan memantik semangat masyarakat lokal dalam merawat ekosistem wisata hutan bakau.

“Bagi institusi kami sendiri, semoga Universitas Sumatera Utara (USU), khususnya FKM USU, dapat terus memperluas kontribusi dan dampak nyatanya bagi masyarakat luas, terutama dalam mengonversikan aksi lingkungan ke dalam aspek kesehatan masyarakat,” ungkap perwakilan tim dosen.

Ketua Pelaksana, Rifqi Hamdani Daulay, berharap kegiatan berbasis aksi nyata tersebut dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan setiap tahunnya di FKM USU. Menurutnya, kegiatan lapangan dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian kolektif mahasiswa terhadap kelestarian lingkungan.

“Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berkutat pada teori di dalam kelas, melainkan mampu mengaplikasikan langsung seluruh ilmu yang telah didapat, khususnya yang berkaitan dengan mata kuliah Manajemen Bencana,” ungkapnya.

Redaktur: Debora Gracia Nauli

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.