Home Entertaiment Sape, Warisan Musik Tradisional Masyarakat Dayak
EntertaimentMusik

Sape, Warisan Musik Tradisional Masyarakat Dayak

Share

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Di tengah arus musik modern yang penuh teknologi dan produksi cepat, sape atau sering disebut sampe hadir sebagai pengingat bahwa musik dulunya muncul dari keheningan alam dan perasaan manusia yang tulus. Sape adalah alat musik petik tradisional yang berasal dari Kalimantan Timur. 

Tidak hanya sekadar alat musik, sape juga menjadi identitas budaya masyarakat Dayak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bentuknya mirip gitar, tetapi suaranya berbeda: lembut, mengalun, dan seolah membawa pendengarnya masuk ke dalam hati yang tenang.

Baru-baru ini, sape kembali mendapat perhatian dari masyarakat nasional setelah Rinanda Maharani, finalis Puteri Indonesia 2025 dari Kalimantan Timur, memainkannya di acara tayangan bakat. Penampilannya tidak hanya menunjukkan bakat musikalnya, tetapi juga menyampaikan pesan budaya bahwa di tengah pesta lampu dan kehidupan nasional, suara dari pedalaman Kalimantan tetap layak didengar. 

Secara sejarah, sape berasal dari masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan yang tinggal di daerah pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Dalam bahasa Dayak, kata “sape” atau “sampe” berarti “memetik dengan jari”, yang merujuk langsung pada cara memainkannya. 

Di setiap sub-suku Dayak, alat musik ini disebut dengan nama yang berbeda. Dayak Kenyah menyebutnya sampe, Dayak Kayan dan Bahau menyebutnya sape, Dayak Modang menyebutnya sempe, sedangkan Dayak Tunjung dan Banua menyebutnya kecapai. Perbedaan nama ini justru menunjukkan bahwa sape sudah sangat terakar dalam kehidupan berbagai komunitas Dayak.

Dalam mitologi Dayak, sape dianggap diciptakan oleh seorang leluhur yang mendapat inspirasi dari para dewa setelah mendengar musik indah di sebuah pulau kecil bernama Karangan. Sejak saat itu, sape menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan dunia roh. 

Di masa lalu, sape digunakan dalam ritual adat, pengobatan tradisional, serta upacara spiritual untuk berkomunikasi dengan roh leluhur. Karena itu, sape dulu dianggap sakral dan hanya dimainkan oleh orang-orang tertentu, biasanya kaum pria.

Bentuk fisik sape juga mencerminkan kedekatannya dengan alam. Alat musik ini dibuat dari sebatang kayu utuh, tanpa sambungan, biasanya menggunakan kayu adau, pelantan, atau jenis kayu meranti lain yang ringan namun kuat. Proses pembuatannya sepenuhnya manual dan membutuhkan ketelitian tinggi. Kayu dipahat memanjang hingga membentuk rongga resonansi, kemudian dihiasi ukiran khas Dayak seperti motif burung enggang dan taring hewan buruan, simbol keagungan, keberanian, dan kebesaran masyarakat Dayak. Panjang sape umumnya mencapai satu meter, dengan badan memanjang menyerupai perahu.

Jumlah dawai sape bervariasi. Pada versi tradisional, sape biasanya memiliki dua hingga tiga senar yang dahulu terbuat dari serat pohon enau atau rotan. Seiring perkembangan zaman, senar tersebut diganti dengan kawat tipis atau senar gitar agar menghasilkan bunyi yang lebih nyaring dan stabil. Versi modern bahkan memiliki empat hingga enam senar, serta ada pula sape elektrik yang dimodifikasi agar dapat tampil di panggung besar bersama alat musik modern.

Cara memainkan sape pun unik. Berbeda dengan gitar yang membagi peran antara tangan kanan untuk memetik dan tangan kiri untuk mengatur nada, sape dimainkan menggunakan jari-jari kedua tangan secara bersamaan. Penyeteman nadanya tidak baku, melainkan disesuaikan dengan perasaan pemetiknya. Hal ini menegaskan fungsi utama sape sebagai medium ekspresi emosi.

Musik yang dihasilkan terdengar meditatif, mengalun pelan, dan sering kali menggunakan tangga nada pentatonik. Namun dalam perkembangannya, sape modern sudah mampu memainkan tangga nada diatonik dan dikolaborasikan dengan keyboard, biola, hingga band penuh.

Dalam tradisi Dayak, nada sape dikenal memiliki dua jenis utama yakni tubunsitun dan sakpakok. Tubunsitun memiliki tempo yang perlahan dan biasanya dimainkan di siang hari, untuk menunjukkan kegembiraan dan suasana yang ceria. Sementara sakpakok memiliki tempo yang lebih cepat dan dinamis, biasanya dimainkan di malam hari dengan nuansa yang sedih dan romantis. Dalam bahasa lisan Dayak, ada ungkapan yang menyatakan bahwa suara sape bisa “meremukkan tulang-belulang hantu”, sebuah metafora yang menggambarkan betapa dalam dan menyentuhnya pengaruh emosional dari musik ini.

Sape memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Dayak. Ia digunakan untuk mengiringi tarian adat, ritual pengobatan, pesta rakyat, hingga menjadi sarana hiburan di rumah betang, yaitu tempat tinggal bersama banyak keluarga Dayak. Pemuda-pemuda memainkan sape untuk menyampaikan perasaan, menarik perhatian, atau sekadar menghibur orang yang sedang berduka. Musik menjadi cara berkomunikasi yang lebih dari sekadar kata-kata.

Kini, sape mulai berkembang ke babak baru. Sejumlah musisi seperti Mathew Ngau Jau dari Malaysia dan Philipus Sade dari Kalimantan Timur telah membawa sape ke panggung dunia. Di Kalimantan Timur, minat generasi muda untuk mempelajari sape terus meningkat, didukung oleh komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya. Sape tidak lagi hanya terbatas dalam ruang tradisi, tetapi terus berinteraksi dengan genre musik seperti jazz, pop, dan world music.

Sape mengajarkan bahwa musik tidak harus keras untuk didengar. Kadang, alunan yang tenang dari hutan atau pedalaman justru lebih berkesan dan lama teringat. Mulai dari ritual adat hingga panggung musik modern, sape terus memetik waktu, menjaga nilai budaya, sekaligus beradaptasi dengan masa kini.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.