
Oleh: Cynthia Ma
Suara USU, Medan. Di tengah derasnya konten digital, anak muda kini digandrungi tren brainrot—meme absurd yang menggabungkan hewan, makanan, benda sehari-hari, hingga elemen fantasi menjadi karakter tak masuk akal. Capuccino menari balet, pentungan sahur bisa menikah dan punya anak. Ini bukan potongan mimpi aneh, tapi suguhan nyata yang meramaikan linimasa Gen Alpha.
Menurut Dr. Bima Prana Chitra, akademisi Sastra dari Universitas Sumatera Utara, tren semacam ini muncul sebagai respons atas budaya media sosial yang mengejar jumlah tayangan. Para content creator berlomba menghadirkan konten yang unik, lucu, bahkan aneh demi meraih atensi dan tombol like. Dalam kacamata industri digital, konten brainrot ini memang diciptakan sebagai hiburan semata.
Namun, di balik gelak tawa dan jutaan penonton, muncul kegelisahan dari kalangan orang tua dan profesional. Karakter-karakter absurd ini terus bermunculan dengan alur dan logika yang semakin kabur. Tokoh seperti Ballerina Capuccino dikisahkan menikah dengan Tung Tung Tung Sahur hingga memiliki anak—sebuah narasi hiperfantasi yang sulit berterima di benak orang dewasa.
Menilik dari sudut pandang seni dan budaya, Dr. Bima menyebut jenis konten ini sebagai “aliran surealisme terbalik.” Surealisme sendiri adalah aliran seni yang berusaha mengekspresikan aktivitas jiwa manusia dalam keadaan bebas dari aturan logika, etika, dan estetika. Seniman surealis kerap menampilkan objek nyata dalam situasi yang mustahil terjadi di dunia nyata—kurang lebih mirip dengan alam bawah sadar.
Namun, jika seni surealis lahir sebagai bentuk kritik terhadap moral manusia, brainrot justru menampilkan keanehan tanpa makna. Tujuannya bukan menyentil kesadaran, tapi sekadar menghibur dalam bentuk absurd. Inilah yang membuat Dr. Bima menyebutnya sebagai versi terbalik dari semangat surealisme.
Kecenderungan mengonsumsi konten seperti ini secara berulang bisa berdampak serius pada perkembangan kognitif anak muda. Dr. Melly Latifah, pakar perkembangan anak dari IPB University, menjelaskan bahwa visual yang terlalu ganjil dan irasional dapat memicu pelepasan dopamin berlebih, yang berdampak pada kemampuan fokus dan regulasi emosi. Kondisi ini diperparah oleh pola asuh yang cenderung abai di era postmodern—masa ketika struktur keluarga longgar, otoritas tradisional memudar, dan gawai menjadi pengasuh utama menggantikan kehadiran orang tua.
Menurutnya, tren brainrot mencerminkan pergeseran cara anak muda memahami realitas dan makna. Baik disadari maupun tidak, mereka terus terpapar konten absurd yang viral hanya karena algoritma dan arus media sosial mendorongnya ke permukaan. Rasa takut tertinggal—Fear of Missing Out (FOMO)—membuat mereka merasa perlu ikut tahu, ikut paham, ikut bercanda. Lebih baik mengikuti arus daripada dicap kudet dan dikucilkan dari pergaulan.
Meski begitu, tren seperti ini cenderung musiman, datang dan pergi seiring waktu, tetapi bukan berarti bisa diabaikan. Tantangannya justru ada pada bagaimana kita merespons kemunculan konten serupa agar tidak terus-menerus membentuk pola pikir yang keliru.
Dr. Bima menawarkan pendekatan ‘melawan api dengan api’, yaitu mengimbangi budaya digital absurd dengan konten edukatif yang sama-sama menarik. Misalnya, jika dalam brainrot seekor hiu digambarkan hidup di darat dan memakai sepatu, maka hadirkan konten tandingan yang menjelaskan bahwa hiu hidup di laut dan bernapas dengan insang. Upaya ini ia pesankan secara khusus kepada Gen Z, sebagai generasi yang dekat dengan Gen Alpha dan punya peran penting dalam mengarahkan pola konsumsi konten ke arah yang lebih sehat.
Fenomena di mana manusia terbawa arus perubahan dan informasi yang serba cepat bukanlah hal baru. Gen Alpha, Gen Z, bahkan generasi sebelumnya pun pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda. Di era serba instan ini, tantangannya adalah bagaimana tetap mengenali diri di tengah kebisingan digital: tahu apa yang dibutuhkan, tahu apa yang sedang dihadapi, dan tahu ke mana arah berpikir ingin dibawa.
Karena itu, menjaga nalar bukan soal menjadi serius sepanjang waktu, tapi soal tahu kapan harus berhenti ikut-ikutan. Dunia digital tidak akan berhenti menghasilkan hal-hal absurd. Namun, di tengah segala keanehan itu, mempertahankan kesadaran atas apa yang kita konsumsi dan kenapa kita menikmatinya adalah bentuk berpikir yang masih layak dirawat.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment