
Oleh: Cynthia Ma
Suara USU, Medan. Nama Otto Iskandardinata mungkin tak sepopuler Soekarno atau Mohammad Hatta, tetapi jejak perjuangannya terpatri kuat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sosok pahlawan nasional asal Bandung ini diabadikan sebagai wajah uang kertas pecahan Rp20.000 emisi 2004. Tak hanya itu, ia juga dikenal dengan julukan khas Si Jalak Harupat, yang dalam bahasa Sunda berarti jalak dari rotan yang menggambarkan sebagai simbol keberanian, keteguhan, dan suara rakyat yang tak mudah dibungkam.
Otto lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan minat besar pada ilmu pengetahuan. Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lalu melanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Guru) di Bandung, dan kemudian ke Hoogere Kweekschool (HKS) di Purworejo, salah satu sekolah guru lanjutan paling bergengsi pada masa itu. Sebelum terjun ke dunia politik, Otto dikenal sebagai guru yang cerdas, sederhana, dan peduli pada nasib rakyat kecil. Ia sering berdiskusi dengan para tokoh pergerakan dan diam-diam membaca De Express, surat kabar milik Dr. Douwes Dekker yang kala itu dianggap radikal oleh pemerintah kolonial dan dilarang beredar di kalangan pribumi.
Perjalanan politik Otto bermula dari keterlibatannya di Budi Utomo, sebuah organisasi modern pertama di Hindia Belanda. Dari sanalah ia mulai dikenal sebagai figur muda yang berani bersuara. Ia kemudian dipercaya duduk sebagai anggota Dewan Kota Pekalongan. Dalam sebuah sidang Dewan, Otto secara terbuka mengecam kebijakan Residen Pekalongan yang merugikan masyarakat. Dengan lantang, ia membongkar praktik korupsi dan penindasan di hadapan para pejabat kolonial. Tindakannya itu membuat sang Residen terpojok dan akhirnya dicopot dari jabatannya. Sejak itu, keberanian Otto dalam bersuara membuatnya mendapat julukan Si Jalak Harupat, burung jalak petarung yang suaranya nyaring dan tak pernah gentar.
Karir politik Otto kian bersinar. Ia aktif di Paguyuban Pasundan, organisasi masyarakat Sunda yang sangat berpengaruh di Jawa Barat. Tak lama kemudian, ia terpilih sebagai anggota Volksraad, yaitu parlemen kolonial Hindia Belanda. Di forum resmi tersebut, Otto terkenal sebagai salah satu anggota paling vokal yang selalu membela kepentingan bumiputera. Dalam pidatonya yang sering dikutip hingga kini, Otto menantang pemerintah Belanda untuk segera meninggalkan Indonesia secara terhormat atau kelak akan diusir secara paksa. Pernyataan itu membuat pihak kolonial geram dan Otto pun dikeluarkan dari Volksraad. Namun, dukungan rakyat kepadanya justru semakin besar.
Selain lantang di parlemen, Otto juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan salam “Merdeka!” sebagai simbol perlawanan dan harapan kemerdekaan. Menurut berbagai catatan sejarah, sebelum Presiden Soekarno meresmikan salam tersebut melalui Dekrit 1 September 1945, Otto sudah lebih dulu meneriakkan “Merdeka!” dalam banyak rapat dan pertemuan penting setelah proklamasi.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Otto Iskandardinata dipercaya menduduki jabatan penting di Kabinet Presidensial pertama sebagai Menteri Negara. Salah satu tugas krusialnya adalah merangkul berbagai laskar pejuang rakyat untuk disatukan di bawah payung Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Peran Otto dalam masa-masa genting tersebut membuktikan kepiawaiannya tidak hanya sebagai politikus, tetapi juga sebagai organisator ulung yang mampu menjembatani berbagai kepentingan demi stabilitas negara yang baru berdiri.
Sayangnya, keberanian Otto juga mendatangkan bahaya. Pada akhir Desember 1945, ia diculik oleh sekelompok orang bersenjata yang dikenal dengan nama Laskar Hitam. Berdasarkan dokumen Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA periode 1950–1959, Otto dibawa ke Tangerang, kemudian ke kawasan Pantai Mauk. Di tempat terpencil itulah, ia diyakini dieksekusi secara rahasia atas perintah seorang tokoh lokal bernama Sumo dari Direktorium Tangerang. Hingga kini, jasad Otto Iskandardinata tak pernah ditemukan sehingga menjadikannya salah satu pahlawan yang hilang secara misterius.
Meski akhir hidupnya tragis dan kisahnya tidak selalu muncul di buku pelajaran sekolah, tetapi nama Otto tetap abadi dalam berbagai bentuk penghormatan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di banyak kota besar di Indonesia, termasuk di Jakarta dan Bandung. Stadion kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung pun dinamai Stadion Si Jalak Harupat, simbol betapa ia masih hidup dalam ingatan rakyat Sunda. Selain itu, potret dan kisahnya tercetak di uang kertas Rp20.000 emisi 2004, mengingatkan masyarakat bahwa di balik setiap lembar rupiah, tersimpan cerita pengorbanan dan tekad tak kenal takut dari seorang guru dan pejuang.
Otto Iskandardinata adalah teladan bagi generasi sekarang, seorang pendidik, pemimpin, sekaligus patriot yang tidak gentar melawan ketidakadilan. Julukan Si Jalak Harupat bukan hanya sekadar nama, tetapi lambang dari suara lantang yang menolak dibungkam. Di tengah riuh pembangunan negeri, kisah Otto adalah pengingat bahwa keberanian membela kebenaran tidak pernah sia-sia, meski harus ditebus dengan nyawa.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment