Home Tulisan Suara Sungai: Sampah Menumpuk, Tanah Tergerus
Tulisan

Suara Sungai: Sampah Menumpuk, Tanah Tergerus

Share

Penulis: Danielson Haloho/Nurul Setia Rahmayani/Tia Juwita Silaban/Desi Angelina Cristianti

Suara USU, Medan. DAS (Daerah Aliran Sungai) Babura adalah sungai yang merupakan cabang dari Sungai Deli. Sungai Babura terbentang sepanjang 36,570 km dari daerah kawasan Sibolangit hingga Kota Medan. Luas catchment area sungai Babura hingga pertemuan Sungai Deli ialah 99 km kubik. Sungai Babura menyediakan potensi air yang besar dan memberikan manfaat bagi masyarakat terutama Kota Medan, namun seringkali juga mendatangkan bencana, yaitu banjir yang setiap tahun terjadi. Banjir yang terjadi di Kota Medan salah satu kemungkinannya diakibatkan oleh adanya perubahan tataguna lahan di daerah hulu kawasan Daerah aliran sungai, kesalahan dalam mengimplementasikan rencana tata ruang Kota Medan, maupun iklim ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini.

Topografi daerah hulu Sungai Babura semakin landai dengan kemiringan 0.2% laju air pada daerah ini cukup deras, terutama ke arah hilir sungai. Daerah hulu merupakan daerah pertanian, karena di sepanjang aliran sungai babura terdapat pemukiman penduduk yang mayoritas bertani, dan daerah wisata. Sedangkan di bagian tengah sungai Babura terdapat daerah industri dan daerah terbuka. Sungai Babura dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk mandi dan mencuci, belum lagi limbah rumah tangga yang dsengaja dibuang ke sungai sehingga semakin berkembangnya zaman membuat sungai ini semakin tercemar. Banyak sampah yang dibuang masyarakat di Sungai Babura, membuat organisme aquatik banyak yang mati sehingga sungai menjadi tercemar.

Sungai Babura yang melintasi kawasan Kembali mengalami longsor disikitar tebing Sungai baru-baru ini. Longsor tersebut dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Akibatnya, volume air di sungai tersebut meningkat tajam, akan menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga akan potensi banjir yang lebih besar di musim hujan ini. Peristiwa longsor terjadi di salah satu tebing yang berada di sepanjang aliran Sungai Babura. Tebing tersebut diketahui cukup terjal dan sudah lama mengalami erosi akibat hujan yang terus-menerus. Ketika longsor terjadi, material tanah dan batuan langsung jatuh ke dasar sungai, menghambat aliran air. Hal ini menyebabkan air meluap ke wilayah permukiman di sekitarnya, memicu banjir yang sempat merendam beberapa rumah warga.

“Baru-baru terjadi longsor sekitar tebing tempat saya berladang jagung, akibatnya air jadi naik, sehingga saya susah nyebrang untuk keladang,” ujar Edwart. Keberlangsungan lahan pertanian di sepanjang aliran sungai. Sungai Babura selama ini menjadi sumber utama pengairan bagi ladang jagung yang tersebar di kawasan pinggiran Sungai. Para petani kini harus menghadapi risiko berkurangnya aliran air yang stabil, terutama jika hujan deras terus mengguyur dan memperburuk situasi.

Selain longsor yang mempersempit aliran sungai, limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan juga menjadi penyebab utama penumpukan sedimentasi. Sampah yang tidak terkelola dengan baik menyumbat aliran air di beberapa titik kritis sungai, sehingga memperbesar risiko meluapnya air, terutama pada saat intensitas hujan meningkat. Situasi ini menjadi ancaman serius,

Saat hujan deras kembali datang, ancaman banjir menjadi keniscayaan yang sulit dihindari. Tingginya debit air yang tidak mampu ditampung oleh sungai memperbesar kemungkinan air meluap hingga ke jalan-jalan utama dan permukiman. Warga yang terdampak harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Sebagai solusi jangka panjang, pembangunan sistem tanggul penahan di sepanjang aliran Sungai Babura menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan. Selain itu, reboisasi di kawasan hulu sungai juga dianggap penting untuk mengurangi risiko erosi tanah. Pengelolaan limbah rumah tangga juga harus menjadi prioritas, dengan penerapan sistem pengolahan sampah terpadu dan pengawasan ketat terhadap pembuangan sampah ilegal. Program ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber air bersih dan pengairan yang aman.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Pekerjaan Sosial Internasional dengan Dosen Pengampuh Fajar Utama Ritonga S.Sos.,M.Kesos.

Redaktur: Balqis Aurora

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.