Penulis: M. Nur Amri Lahabu/Justin Gibran Sinaga/Amelia Eginta Br Sitepu /Winda Hamida Br Lubis
Suara USU, Medan. Sungai Durin Pitu Jl. Letnan Jenderal Jamin Ginting, Namo Batang, Kec. Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara merupakan sungai yang minim dengan ikan karena berada di sekitaran rumah masyarakat. Masyarakat setempat sering bergantung pada sungai ini untuk irigasi lahan pertanian, pemenuhan kebutuhan air minum, dan kegiatan perikanan. Di samping itu, sungai ini sering menjadi lokasi untuk berbagai kegiatan seperti memancing. Sayangnya sungai ini tidak memiliki ekosistem perikanan yang baik sehingga sungai ini sering dikatakan sebagai sungai yang tak memiliki biota.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwasanya Sungai Durin Pitu ini merupakan sungai yang dahulunya dijadikan sebagai aliran irigasi pertanian, dimana irigasi pertanian tidak luput dari pestisida yang dipakai oleh petani setempat. Dapat diketahui bahwa pestisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama, penyakit, dan gulma dalam pertanian. Meskipun penggunaannya memberikan banyak manfaat dalam meningkatkan produktivitas pertanian, dampak negatifnya terhadap lingkungan, khususnya perairan, menjadi perhatian serius. Ketika pestisida terlarut dalam air, baik melalui limpasan permukaan maupun pencucian, mereka dapat mencemari sungai, danau, dan ekosistem akuatik lainnya, mengancam keanekaragaman hayati.
Perubahan kualitas air akibat pencemaran pestisida juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Air yang terkontaminasi dapat menurunkan oksigen terlarut, memicu pertumbuhan alga berbahaya, dan mengurangi transparansi air. Semua ini berdampak negatif pada fotosintesis tumbuhan air dan kesehatan komunitas akuatik secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, perubahan ini dapat mengakibatkan kerusakan habitat yang luas dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Selain itu, dapat dilihat bahwa adanya penambangan pasir yang dimana Penambangan pasir di sungai ini telah menjadi aktivitas yang umum dilakukan untuk memenuhi permintaan bahan bangunan, terutama dalam konstruksi. Meskipun penambangan ini dapat memberikan keuntungan ekonomi, dampaknya terhadap lingkungan dan ekosistem sungai tidak bisa diabaikan. Pengambilan pasir yang berlebihan dapat merusak habitat alami, menyebabkan penurunan kualitas air, dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Erosi menjadi salah satu akibat yang didapat kan jika penambangan pasir terjadi. Â Menurut artikel Environmental Geology, Journal of Environmental Management, atau Land Degradation & Development. Studi-studi ini sering mengkaji bagaimana penambangan pasir di sungai atau pantai dapat meningkatkan laju erosi yang di akibatkan oleh penambangan pasir. Hal ini sudah dipelajari di matakuliah ekologi dinyatakan bahwa pada mata kuliah ini mempelajari tentang interaksi antara organisme dan lingkungan mereka. Penambangan pasir yang merusak habitat alami bisa dianalisis dalam konteks ekologi, terutama yang berhubungan dengan hilangnya vegetasi dan gangguan terhadap ekosistem akuatik.
Teori yang dipakai dari kasus ini adalah teori degradasi lingkungan yaitu Teori ini menjelaskan bagaimana aktivitas manusia, termasuk penambangan pasir, dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang permanen. Degradasi ini mencakup hilangnya kualitas tan ah, penurunan biodiversitas, erosi, dan pencemaran. Penambangan pasir yang tidak dikelola dengan baik dapat merusak struktur tanah dan vegetasi, yang kemudian meningkatkan kerentanannya terhadap erosi
Selain erosi, penambangan pasir juga mengancam keanekaragaman hayati di ekosistem sungai. Habitat bagi berbagai spesies ikan dan organisme air lainnya dapat terganggu akibat perubahan lingkungan fisik. Kegiatan penambangan yang intensif dapat mengakibatkan penurunan populasi ikan dan spesies akuatik lainnya, mengganggu rantai makanan dan menyebabkan hilangnya biodiversitas. Di banyak tempat, spesies yang terancam punah menjadi semakin rentan akibat perubahan habitat ini.
Sungai durin pitu, yang awalnya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar, kini mengalami degradasi ekosistem yang signifikan. Pencemaran pestisida dari aktivitas pertanian dan penambangan pasir adalah dua faktor utama yang menyebabkan kondisi ini. Sungai yang terkena pestisida merupakan salah satu bentuk pencemaran lingkungan yang serius, yang berdampak besar terhadap kualitas air, ekosistem akuatik, dan kesehatan manusia. Pestisida, yang digunakan untuk mengendalikan hama tanaman atau penyakit pada pertanian, dapat terbawa aliran air ke sungai melalui berbagai mekanisme. Ketika pestisida masuk ke sungai, ia dapat mencemari air dan merusak keseimbangan ekosistem di dalamnya, memengaruhi flora dan fauna, serta membahayakan organisme yang bergantung pada air tersebut.
Pencemaran pestisida: Penggunaan pestisida dalam pertanian telah mencemari air sungai, menyebabkan penurunan kualitas air, dan mengancam kelangsungan hidup biota air. Pestisida dapat membunuh organisme air secara langsung, mengganggu rantai makanan, dan merusak habitat. Menurut Rusdi Leidonald, SP., M.Sc. pestisida merupakan zat toksik yang dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran perairan selama bertahun tahun dan memulihkan nya 90% selama puluhan tahun.
Penambangan pasir: Aktivitas penambangan pasir telah merusak habitat alami di sungai, menyebabkan erosi, dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Perubahan fisik sungai akibat penambangan membuat sungai tidak lagi menjadi tempat yang cocok bagi kehidupan berbagai spesies ikan dan organisme air lainnya.
Untuk memperbaiki kondisi Sungai durin pitu, diperlukan upaya yang komprehensif, antara lain: Â Teori ekologi menekankan hubungan timbal balik antara organisme hidup dan lingkungan mereka. Penambangan pasir dapat dilihat sebagai gangguan dalam ekosistem sungai, yang mempengaruhi kualitas air, sedimentasi, dan keberagaman hayati. Proses ekologi ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, dan gangguan dalam salah satu komponennya dapat mengakibatkan perubahan besar dalam keseluruhan sistem. H.A. Hairston merupakan salah satu tokoh penting dalam pengembangan teori ekologi yang menekankan pentingnya keberlanjutan ekosistem dan dinamika organisme dalam suatu lingkungan. Hairston berfokus pada hubungan antar organisme dalam ekosistem air dan bagaimana gangguan seperti penambangan dapat mengubah struktur ekosistem tersebut.
Dalam kasus ini, project yang dilakukan, yaitu Identifikasi lokasi sungai yang terkena dampak penambangan pasir dan pencemaran pestisida. Gunakan data geospasial seperti, citra satelit atau pemetaan lapangan untuk memetakan area yang terpengaruh. Cara menanggulanginya menggunakan Tanaman Riparian, seperti pohon bambu, pohon mangrove (untuk sungai pesisir), atau tanaman endemik lainnya dapat ditanam di sepanjang tepi sungai untuk mencegah erosi dan memperbaiki kualitas air. Tanaman ini berfungsi untuk menahan tanah dan mengurangi sedimentasi berlebih ke dalam sungai
Pengelolaan pestisida yang lebih baik: Petani perlu menggunakan pestisida secara bijaksana dan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Regulasi yang ketat terhadap penambangan pasir: Pemerintah perlu membuat peraturan yang lebih ketat untuk mengatur aktivitas penambangan pasir dan memastikan bahwa kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan.
Rehabilitasi ekosistem: Perlu dilakukan upaya rehabilitasi ekosistem sungai untuk memulihkan habitat yang rusak dan meningkatkan kualitas air.
Peningkatan kesadaran masyarakat: Masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya pelestarian sungai melalui program edukasi dan sosialisasi.
Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Pekerjaan Sosial Internasional dengan Dosen Pengampuh Fajar Utama Ritonga S.Sos.,M.Kesos.
Redaktur: Balqis Aurora
Leave a comment