Reporter: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Tim mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) meraih Medali Perak dan Medali Perunggu pada Seminar Dampak Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Penghargaan tersebut diberikan dalam kategori Pemenang Dampak Pemberdayaan dan Implementasi Teknologi Inovasi Terbaik serta Grand Award Program Mahasiswa Berdampak Terbaik.
Tim USU diwakili oleh Rizky Muda Pratama, Ketua Himpunan Ikatan Mahasiswa Kimia (IMK) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU, bersama dosen pembimbing Dr. Muhammad Taufik, S.Si., M.Si. dan Hayatunnufus, S.Kom., M.Cs., CIT. Seminar nasional tersebut berlangsung pada 1–3 Juli 2026 di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) sebagai ajang nasional bagi perguruan tinggi untuk memaparkan hasil program pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan.
Program ini diselenggarakan sebagai upaya mendorong mahasiswa menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pemulihan pascabencana di berbagai wilayah Sumatera.
Dalam kompetisi tersebut, tim USU mengusung program Pemulihan Kualitas Air Kolam Ikan Pascabanjir melalui Implementasi Smart Water System Berbasis Internet of Things (IoT). Program tersebut berangkat dari permasalahan yang dihadapi masyarakat pascabanjir, terutama terkait menurunnya kualitas air kolam yang berdampak pada produktivitas budidaya ikan.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim mengembangkan Aqua-Smart Fish IoT yang berfungsi memantau kualitas air secara real-time dan Filtra-Kolam Care sebagai sistem filtrasi air. Teknologi tersebut membantu mempercepat pemulihan kualitas air, meningkatkan produktivitas budidaya ikan, serta mendukung peningkatan pendapatan masyarakat.
Realisasi program diawali dengan survei lapangan untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi masyarakat pascabanjir. Berdasarkan hasil survei, tim bersama dosen pembimbing merancang solusi berbasis teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra. Tahap selanjutnya meliputi pengembangan dan pengujian alat, penyusunan metode pelaksanaan, pelatihan kepada masyarakat, serta pendampingan dan evaluasi untuk mendukung keberlanjutan program.
Di balik keberhasilannya, tim juga menghadapi berbagai tantangan selama pelaksanaan program. “Tantangan terbesar adalah kondisi lapangan pascabanjir yang cukup sulit serta masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai teknologi IoT. Untuk mengatasinya, kami melakukan pendekatan secara langsung kepada mitra, memberikan pelatihan secara bertahap, serta melakukan pendampingan hingga mitra mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara mandiri,” ungkap Rizky.
Selain menghadapi berbagai tantangan selama pelaksanaan program, tim juga memperoleh dukungan dari berbagai pihak yang menjadi faktor dalam keberhasilan tersebut.
“Dr. Muhammad Taufik, S.Si., M.Si. dan Hayatunnufus, S.Kom., M.Cs., CIT selalu memberikan arahan mulai dari penyusunan program, pelaksanaan di lapangan, hingga persiapan seminar nasional. Selain itu, saya didukung oleh teman-teman satu tim yang berasal dari berbagai jurusan dan program studi sehingga kolaborasi ini menjadi salah satu kunci keberhasilan kami,” ujar Rizky.
Menutup wawancara, Rizky mengajak mahasiswa untuk berani mencoba dan menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Jangan mengejar penghargaan semata, tetapi fokus pada manfaat yang bisa diberikan. Mulailah dari permasalahan yang ada di sekitar dan carilah solusi yang aplikatif. Terus belajar, terbuka terhadap masukan, dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Dengan kerja keras, kolaborasi yang baik, dan niat untuk memberikan dampak positif, kesempatan meraih prestasi di tingkat nasional akan terbuka lebar,” tutupnya.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment