Home Kabar Kampus Ungkit Peremajaan Linus, Pimpinan USU Akui Sudah Ajukan Permohonan Hibah Bus
Kabar Kampus

Ungkit Peremajaan Linus, Pimpinan USU Akui Sudah Ajukan Permohonan Hibah Bus

Share
Ilustrasi: Suara USU

Reporter: Abednego Sitompul dan Filemon Saing

Suara USU, Medan. Lintas USU atau yang akrab disapa Linus telah lama menjadi alternatif transportasi bagi mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Namun seiring berjalannya waktu, kondisi armada bus yang menua dengan kualitas fasilitas yang menurun kini menjadi sorotan utama. Banyak mahasiswa bertanya-tanya, kenapa kendaraan yang sudah melewati batas usia operasionalnya masih digunakan?

Dampak dari menuanya armada ini dirasakan langsung oleh para pengguna utamanya, yaitu mahasiswa. Banyak keluhan muncul yang mengungkit kenyamanan dan kelayakan fasilitas di dalam bus. Masalah seperti sirkulasi udara buruk dan air conditioner (AC) yang seringkali tidak berfungsi menjadi keluhan sehari-hari, terutama di tengah cuaca Medan yang panas.

“Kalau bisa Linus ini dibikin agak dingin,” ujar NA, mahasiswa USU.

Beberapa mahasiswa juga mendesak untuk peremajaan Linus serta menambah armada bus. Hal ini dikarenakan bus yang beroperasi hanya dua dan mahasiswa harus menunggu sekitar 15 menit untuk Linus berikutnya. “Mungkin bisa diperbaiki fasilitasnya. Ini juga untuk kepentingan mahasiswa, fasilitas untuk mahasiswa, dan mungkin juga bisa ditambahkan satu lagi busnya,” tambah ER, mahasiswa USU.

Pihak Rektorat akhirnya angkat suara perihal ini. Perwakilan Rektorat, Abdul Hakim, Kepala Sub bagian Kebersihan sekaligus penanggung jawab kendaraan USU menjelaskan bahwa Linus yang beroperasi saat ini merupakan hibah dari Kementerian Perhubungan pada tahun 2003 dan 2004. Setelah lebih dari dua dekade beroperasi, kondisi fisik dan mesin bus dinilai sudah tidak memadai.

Hakim menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan rutin, mereka melihat dari usia, riwayat kerusakan, dan tingginya biaya pemeliharaan, bahwa bus-bus ini memang sudah mendesak untuk diremajakan. Beliau juga menambahkan tantangan operasional di dalam kampus, seperti rute yang pendek dan padat serta banyaknya “polisi tidur”, justru mempercepat tingkat keausan komponen vital. Rute pendek membuat frekuensi pengereman dan pergantian gigi menjadi sangat tinggi. Akibatnya, komponen seperti kopling dan rem menjadi lebih cepat aus.

Salah satu pertanyaan krusial adalah mengapa pihak USU tidak mengalokasikan anggaran mandiri untuk peremajaan Linus? Abdul Hakim menjelaskan bahwa anggaran yang tersedia adalah anggaran pemeliharaan. Anggaran pemeliharaan ini bersifat komprehensif untuk seluruh kendaraan operasional USU, seperti penggantian oli dan pemeriksaan berkala, mengatasi masalah yang timbul akibat operasional, seperti perbaikan kopling, rem, dan komponen mesin lainnya, menambal bagian bodi yang keropos, dan sebagainya.

Lebih lanjut, Hakim menjelaskan bahwa alokasi anggaran tahunan universitas kemungkinan besar diprioritaskan untuk kebutuhan lain yang dinilai lebih mendesak oleh pihak rektorat. Hal ini menunjukkan adanya pertimbangan skala prioritas dalam pengelolaan keuangan universitas secara keseluruhan. “Mungkin ada yang lebih perlu lagi daripada untuk bus itu,” tambah Hakim, memberikan konteks mengenai kebijakan anggaran di tingkat pimpinan.

Menyadari keterbatasan anggaran, pimpinan USU kini mengambil langkah strategis dengan kembali mengajukan permohonan hibah kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, meniru langkah yang sama seperti saat pengadaan Linus terdahulu.

Pimpinan USU saat ini sudah memprogramkan permohonan kepada Kementerian Perhubungan untuk menghibahkan kendaraan baru sebagai pengganti Linus yang sekarang. Upaya ini didukung penuh oleh jajaran pimpinan. Proposal komprehensif telah disusun dan dikirimkan ke Jakarta tanpa kendala. “Pimpinan justru meminta kami mempercepat proses pengiriman proposal. Ini adalah bukti dukungan penuh untuk meremajakan bus,” lanjutnya.

Proposal tersebut diperkuat dengan berbagai data pendukung untuk meyakinkan pihak kementerian seperti dokumentasi foto kondisi terkini armada Linus, data estimasi kebutuhan transportasi mahasiswa di lingkungan kampus, serta visualisasi dan foto-foto aktivitas mahasiswa yang menggunakan Linus sehari-hari.

Langkah selanjutnya adalah proses evaluasi oleh Kementerian Perhubungan untuk menentukan ketersediaan dan jumlah unit yang dapat dihibahkan kepada USU. Dengan dukungan penuh dan proposal yang solid, USU berharap dapat segera menyegarkan kembali sarana transportasi vital di lingkungan kampusnya.

Redaktur: Vimelia Hutapea

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.