Home Kabar SUMUT Aksi Demonstrasi BEM SI Ditutup dengan Kekecewaan Akibat Ketidakhadiran DPRD
Kabar SUMUT

Aksi Demonstrasi BEM SI Ditutup dengan Kekecewaan Akibat Ketidakhadiran DPRD

Share

Oleh: Muhammad Ar Rofi Nasution dan Raka Rafzan Rasyid

Suara USU, Medan. Aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Sumatera Utara yang berlangsung pada Rabu (17/6) di Jalan Balai Kota, Lapangan Merdeka, Medan, ditutup dengan kekecewaan massa akibat ketidakhadiran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk menjumpai massa aksi.

Massa aksi mulai bergerak dari Lapangan Benteng Kota Medan sekitar pukul 15.35 WIB menuju Lapangan Merdeka di Jalan Balai Kota. Setibanya di lokasi, massa membentuk lingkaran dan menutup persimpangan tiga ruas jalan di kawasan tersebut.

Pada awal aksi, sempat terjadi ketegangan antara massa dan sejumlah pengendara akibat penutupan jalan. Beberapa pengendara berusaha melintasi lokasi aksi sebelum akses jalan ditutup sepenuhnya, sehingga massa berupaya menghalangi kendaraan yang hendak melintas.

Menanggapi situasi tersebut, seorang orator dari atas mobil komando menyampaikan, “Kawan-kawan mahasiswa, kita tidak ingin dibenturkan dengan masyarakat. Namun, mari kita melihat bagaimana peran dan tugas kepolisian lalu lintas dalam mengawal jalannya aksi serta mengatur arus lalu lintas,” ujarnya.

Situasi aksi semakin memanas akibat tidak adanya perwakilan DPRD yang menemui massa aksi. Keadaan tersebut memicu kekecewaan peserta demonstrasi. Di tengah jalannya aksi tersebut, kericuhan kecil juga sempat kembali terjadi ketika sebuah kendaraan petugas dari TNI hendak melintasi area demonstrasi. Sejumlah mahasiswa menghadang kendaraan tersebut sehingga kendaraan terpaksa berjalan mundur untuk menghindari benturan dengan massa aksi.

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Fatih Farich Hasibuan menyampaikan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa merupakan bentuk kritik terhadap berbagai persoalan kebijakan dan kondisi nasional yang dinilai perlu mendapatkan perhatian pemerintah.

“Kita bukan menyalahkan, tetapi mengkritisi kebijakan-kebijakan yang menjadi persoalan. Kami meminta pemerintah terus mengawal apa yang menjadi tuntutan dan permasalahan, karena kalau hanya sebatas komunikasi tanpa solusi, persoalan tidak akan selesai,” ungkapnya.

Fatih juga menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan gerakan yang lahir dari aspirasi mahasiswa lintas kampus dan bukan didorong kepentingan tertentu.

“Ini aksi murni berdasarkan hati nurani. Hari ini kami berupaya membuktikan bahwa mahasiswa dari berbagai kampus bisa bersatu dan menjalankan aksi secara lancar,” katanya.

Hingga sekitar pukul 17.30 WIB, masih belum terdapat tanda-tanda kedatangan pihak DPRD untuk menjumpai massa aksi. Demonstran kemudian melakukan pembakaran ban yang diiringi dengan berbagai orasi. Tidak berselang lama, massa aksi kembali membakar ban di sisi lain lokasi aksi.  Pembakaran yang dilakukan sebanyak dua kali ini sebagai bentuk protes massa aksi atas ketidakhadirannya pihak DPRD. 

Usai aksi dibubarkan, salah satu peserta aksi mengungkapkan harapannya. Ia berharap pemerintah dapat mendengarkan suara-suara masyarakat, sehingga aksi-aksi demonstrasi ini tidak terjadi lagi di berbagai titik wilayah Indonesia. “saya berharap kedepannya tidak ada lagi demo seperti ini, karena demo terjadi pastinya karena kesalahan dari pemerintah yang tidak mau mendengar Masyarakat”. jelasnya

Setelah rangkaian orasi, aksi protes dan pernyataan sikap, massa secara bersama-sama membubarkan diri dan meninggalkan lokasi aksi dalam kondisi kondusif pada pukul 18.06 WIB.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.