Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga
Suara USU, Medan. “Tidak ada sesuatu yang hina untuk dikerjakan, kecuali mencuri, berbohong, menipu, dan mencelakakan orang lain. Untuk itu, tidak perlu malu melakukan pekerjaan apa saja di luar yang disebutkan di atas.”
Kutipan itu terus terngiang setelah membaca Anak Hadal, autobiografi Letnan Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Dr. (H.C.) Tiopan Bernhard Silalahi. Buku ini diterbitkan oleh Kata Hasta Pustaka pada tahun 2008. Di dalamnya, T.B. Silalahi menceritakan perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak hingga remaja di pedalaman Sumatera Utara, jauh sebelum namanya dikenal sebagai jenderal dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Keluarga, pendidikan, lingkungan, dan berbagai keterbatasan hidup digambarkan sebagai kekuatan yang menempa karakternya hingga akhirnya mengantarkannya menjadi salah satu tokoh bangsa. Ditulis dengan gaya bertutur langsung, autobiografi ini terasa sangat personal dan penuh refleksi.
Kesulitan hidup telah dijalani T.B. Silalahi sejak usia sangat muda. Kisahnya diawali pada masa penjajahan Belanda dan berlanjut hingga masa pendudukan Jepang, ketika kehidupan masyarakat dipenuhi kesulitan. Ia kehilangan ayahnya saat berusia lima tahun sehingga ibunya harus menghidupi tiga orang anak seorang diri. Sejak usia enam tahun, ia telah terbiasa bekerja untuk membantu keluarga, mulai dari menggembalakan kerbau, mencuci mobil, menjadi kacung (pembantu) di lapangan tenis, berjualan kue keliling kampung, hingga menjadi buruh pabrik. Di tengah tuntutan tersebut, ia tetap menjalani pendidikan sekaligus membantu merawat kedua adiknya.
Namun, yang paling menarik dari Anak Hadal bukanlah pencapaian T.B. Silalahi di kemudian hari, melainkan proses yang membentuknya. Pekerjaan kasar yang ia lakukan sejak kecil tidak pernah dipandangnya sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, pengalaman itu menanamkan keyakinan bahwa setiap pekerjaan memiliki martabat selama dilakukan dengan jujur. Nilai tersebut tampak konsisten sepanjang buku dan menjadi fondasi cara pandangnya terhadap kehidupan. Pembaca diajak melihat bahwa integritas jauh lebih penting daripada status sosial atau jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang.
Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, T.B. Silalahi tetap memandang sekolah sebagai jalan untuk mengubah masa depan. Semangat belajar yang terus dipeliharanya kemudian berkembang menjadi kepedulian terhadap dunia pendidikan. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan SMA Negeri 3 Yayasan Soposurung, yang kini bernama SMA Negeri 2 Balige. Sekolah itu didirikan dengan gagasan besar: mencetak generasi yang unggul dalam pengetahuan, sekaligus memiliki karakter, kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa bagi T.B. Silalahi, pendidikan merupakan proses menempa manusia seutuhnya.
Kebanggaan terhadap tanah kelahiran juga terasa kuat sepanjang buku ini. T.B. Silalahi menggambarkan keindahan alam, kekayaan budaya, serta tingginya apresiasi masyarakat Batak terhadap seni sebagai hal-hal yang selalu dikenangnya. Ia pun menyampaikan pengamatannya secara jujur mengenai sikap kasar yang masih dijumpainya pada sebagian masyarakat di masa kecilnya. Kejujuran inilah yang membuat buku ini terasa lebih autentik, sebab mencintai budaya sendiri baginya bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Kesadaran untuk mengakui kelemahan justru menjadi langkah awal dalam membangun perubahan—sebuah pemikiran yang kemudian tercermin dalam upayanya menumbuhkan generasi muda berkarakter melalui dunia pendidikan.
Sejak kecil, T.B. Silalahi dikenal sebagai anak yang sangat aktif, sulit diam, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hampir semua cabang olahraga di sekolah ingin ia coba, meskipun perlengkapan dan fasilitas saat itu sangat terbatas. Dari sikap pantang menyerah dan keberanian mencoba hal-hal baru inilah julukan “Anak Hadal” melekat pada dirinya sejak kecil. Pembaca dapat memahami bahwa keberhasilannya di masa dewasa bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari karakter yang terus ditempa melalui pengalaman hidup.
Bahasa yang digunakan dalam buku ini ringan, mengalir, dan mudah dipahami sehingga pembaca dari berbagai kalangan dapat menikmati isinya tanpa kesulitan. Penulis juga menyertakan penjelasan istilah-istilah dalam bahasa Batak maupun bahasa Inggris yang muncul di beberapa bagian cerita sehingga pembaca dapat memahami konteksnya tanpa mengganggu alur bacaan. Meski demikian, beberapa bagian terasa cukup deskriptif sehingga tempo cerita sedikit melambat. Kekurangan tersebut masih dapat dimaklumi karena setiap pengalaman yang disampaikan selalu diikuti refleksi yang bermakna.
Anak Hadal menyajikan lebih dari sekadar kisah sukses seorang tokoh nasional. Buku ini mengajak pembaca menyaksikan proses panjang pembentukan karakter melalui kerja keras, kejujuran, pendidikan, dan ketekunan menghadapi berbagai keterbatasan hidup. Kesuksesan, seperti yang ditunjukkan T.B. Silalahi, tidak dibangun dalam waktu singkat, melainkan lahir dari nilai-nilai yang dipraktikkan secara konsisten sejak masa kanak-kanak. Bahasa yang sederhana dan refleksi yang mendalam membuat pesan itu tetap relevan hingga kini, menjadikan buku ini bacaan yang layak bagi siapa saja yang ingin memahami bahwa karakter adalah fondasi utama dalam meraih keberhasilan.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment