Oleh: Nazwa Aisyara
Suara USU, Medan. Dubai Chewy Cookie adalah hidangan penutup yang belakangan ini menjadi topik hangat di Indonesia. Camilan ini merupakan perpaduan antara marshmallow yang kenyal dan isian renyah, biasanya berupa kunafa atau kataifi yang dicampur dengan krim pistachio, kemudian dibalut lapisan cokelat. Tren ini bermula dari popularitas “Dubai Chocolate” dan dikembangkan lebih lanjut oleh berbagai kafe serta toko roti di Korea Selatan, sebelum akhirnya viral di Indonesia melalui media sosial.
Belakangan ini, linimasa media sosial dipenuhi video para kreator konten yang memperlihatkan sensasi saat Dubai Chewy Cookie dibelah. Tekstur marshmallow yang elastis, isian pistachio yang lumer, serta kunafa yang renyah menjadi daya tarik utama camilan ini. Di TikTok, video dengan tagar #dubaichewycookie telah ditonton jutaan kali dan memunculkan rasa penasaran banyak orang untuk mencobanya.
Di Indonesia, sejumlah toko roti mulai menghadirkan Dubai Chewy Cookie dengan berbagai variasi rasa dan ukuran. Salah satunya adalah Don Bakeshop yang menjual Dubai Chewy Cookie dengan harga sekitar Rp65.000 per buah. Toko roti ini menjadi salah satu gerai yang ramai dibahas di media sosial sejak meluncurkan menu tersebut. Selain Don Bakeshop, beberapa toko roti lain juga mulai menawarkan hidangan penutup serupa dengan kisaran harga yang bervariasi, bergantung pada ukuran dan bahan yang digunakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan tidak lagi dinilai semata-mata dari rasanya. Di era media sosial, daya tarik visual menjadi faktor krusial yang mendorong pesatnya popularitas suatu produk. Video yang menampilkan tekstur kue yang kenyal, isian yang melimpah, serta sensasi renyah dari kunafa memiliki daya tarik tersendiri bagi pengguna media sosial. Konten semacam itu sering kali meraih jutaan penayangan sehingga memicu rasa penasaran publik untuk mencicipi camilan tersebut.
Selain tampilannya yang menarik, perpaduan tekstur menjadi hal yang membedakan Dubai Chewy Cookie dari kue-kue biasa. Lapisan marshmallow yang lembut berpadu dengan isian pistachio yang lembut serta kunafa yang renyah sehingga menciptakan pengalaman bersantap yang unik. Kombinasi rasa manis dan gurih ini membuat banyak orang menganggap hidangan penutup tersebut menawarkan pengalaman baru yang jarang ditemukan pada produk serupa.
Di sisi lain, popularitas Dubai Chewy Cookie menggambarkan betapa cepatnya tren kuliner dapat berkembang. Makanan yang semula hanya dikenal di satu negara dapat menjadi viral di seluruh dunia dalam waktu singkat berkat media sosial. Platform digital kini memainkan peran besar dalam membentuk preferensi kuliner masyarakat, mulai dari pemilihan tempat makan hingga jenis hidangan yang ingin dicoba.
Meski begitu, muncul pertanyaan apakah Dubai Chewy Cookie akan bertahan sebagai tren kuliner atau hanya menjadi fenomena sesaat. Tidak sedikit tren makanan viral sebelumnya yang sempat ramai diburu, tetapi perlahan ditinggalkan setelah muncul tren baru. Oleh karena itu, keberlangsungan popularitas Dubai Chewy Cookie akan sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha menghadirkan inovasi, baik dari segi rasa, kualitas, maupun harga yang sesuai dengan daya beli masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, Dubai Chewy Cookie lebih dari sekadar hidangan penutup yang memadukan marshmallow, kunafa, dan pistachio. Kemunculannya menunjukkan bagaimana kreativitas kuliner yang dipadukan dengan kekuatan media sosial dapat melahirkan fenomena kuliner berskala global. Terlepas dari perdebatan mengenai harganya, hidangan penutup ini telah menarik perhatian publik dan menjadi salah satu tren kuliner yang paling banyak dibicarakan tahun ini. Bagi para pencinta kuliner, Dubai Chewy Cookie menawarkan pengalaman baru yang unik; bagi para pelaku bisnis, tren ini menjadi inspirasi untuk terus berinovasi mengikuti selera pasar yang terus berkembang.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment