Home Buku Dunia di Mata Murni: Menjelajahi Perspektif Anak dalam Novel di Tanah Lada
Buku

Dunia di Mata Murni: Menjelajahi Perspektif Anak dalam Novel di Tanah Lada

Share

Oleh: Rosi Adelia

Suara USU, Medan. Dalam sebuah keluarga, peran kasih sayang dari kedua orang tua menjadi fondasi utama yang dibutuhkan seorang anak. Dukungan emosional ini tidak hanya sekadar membentuk kepribadian, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kebahagiaan anak. Namun, tidak semua anak beruntung mendapatkan cinta tersebut. Beberapa justru menghadapi kekerasan fisik atau emosional dari orang tua mereka. Realitas pahit inilah yang diangkat dalam novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, atau yang lebih dikenal dengan nama Ziggy Z.

Di Tanah Lada adalah sebuah novel yang menggambarkan kehidupan anak-anak yang harus menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari orang tua mereka. Dengan sudut pandang Salva atau Ava, yang berusia enam tahun, pembaca diajak menyelami hari-hari penuh ketakutan dan mimpi-mimpi polosnya untuk menemukan kedamaian.

Ava adalah seorang anak kecil dengan kecerdasan yang berbeda dari anak seusianya. Saat usianya menginjak tiga tahun, ia menerima hadiah istimewa dari Kakek Kia, yaitu sebuah kamus Bahasa Indonesia. Tujuan sederhana sang kakek adalah agar Ava mampu berbicara dengan baik dan benar. Hingga akhirnya, kamus itu menjadi “teman” setia Ava, yang selalu ia gunakan untuk mencari arti dari kata-kata baru yang didengarnya. Kebiasaan ini membuat Ava semakin kaya akan pengetahuan di usianya yang masih sangat muda.

Ava tinggal bersama kedua orang tuanya, Papa dan Mama. Namun, kehidupan keluarganya tidak harmonis. Papanya adalah sosok yang keras dan kasar, ia sering memarahi Ava tanpa alasan yang jelas dan tidak jarang meneriakinya dengan kata-kata kasar. Papanya tidak menyukainya, sehingga Ava berpikir bahwa semua papa adalah orang jahat. Sementara itu, mamanya adalah sosok yang lembut dan penuh kasih sayang, meskipun ada saat-saat ketika perhatian mamanya tampak teralihkan. Dalam pikiran kecil Ava, tertanam keyakinan bahwa semua mama adalah orang baik.

Pandangan Ava mulai berubah ketika ia bertemu dengan P, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang tinggal di rumah susun Nero. Suatu hari, papanya membawa Ava dan mamanya ke sana, karena lokasi rumah susun itu dekat dengan tempat judi yang sering dikunjungi oleh papanya. Di rumah susun itulah Ava mengetahui bahwa tidak semua orang memiliki keluarga yang sempurna. P juga memiliki papa yang jahat, tetapi P tidak mengenal sosok mamanya karena ia pergi sejak P masih kecil. Dari cerita P, Ava, dengan pemikiran polosnya, menyimpulkan bahwa tidak semua mama selalu peduli pada anaknya, meskipun ia sendiri masih percaya bahwa mamanya berbeda.

Dari awal, keduanya sudah saling menilai satu sama lain sebagai sosok yang “aneh”, meskipun dengan alasan yang berbeda. Bagi P, keanehan Ava terletak pada caranya berbicara. Ava menggunakan kata-kata yang terdengar begitu formal dan berbeda dari bahasa sehari-hari yang sering didengar P. Sementara itu, bagi Ava, justru P lah yang dianggap aneh. Ia heran bagaimana mungkin seseorang hanya memiliki nama berupa satu huruf saja. Keanehan yang dimiliki keduanya menjadi alasan yang membuat mereka saling tertarik dan ingin mengenal satu sama lain lebih dalam.

Novel yang menyabet kategori Pemenang II Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2014 ini berhasil mengajak pembaca menyelami kehidupan masa kanak-kanak yang penuh keajaiban, kepolosan, dan rasa ingin tahu. Kita dapat merasakan bagaimana Ava dan P menjalani hari-hari mereka, bercakap-cakap dengan ciri khas anak kecil, dan memandang dunia melalui logika sederhana. Keduanya digambarkan sebagai anak-anak yang cerdas, polos, dan memiliki rasa ingin tahu yang tak terbatas. Apa yang mereka lihat, pikirkan, dan rasakan selalu diproses dengan cara yang murni, tanpa kerumitan seperti orang dewasa. Bagi mereka, dunia ini hanya terdiri dari dua kategori besar: yang baik dan yang jahat. Tidak ada abu-abu, tidak ada area perantara, semua sederhana dan murni seperti cara mereka memandang kehidupan.

“Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton telivisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.” – (Mas Alri, hal. 197).

Melalui perjalanan cerita Ava dan P, kita dapat menemukan banyak pelajaran berharga tentang cara pandang dan perasaan anak-anak. Mereka mengajarkan pembaca untuk lebih memahami pemikiran dan pandangan anak-anak dalam melihat kehidupan, yang sering kali jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di luar. Bagaimana seorang anak memandang ayah yang melakukan kekerasan padanya? Apa yang sebenarnya dirasakan ketika melihat ibu mereka menangis? Bagaimana mereka menerima perlakuan ketika dimarahi, dicaci-maki, atau bahkan ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab melalui kisah Ava dan P, yang menyajikan pengalaman emosional anak-anak secara mendalam.

Dengan latar belakang yang mirip, muncullah pertanyaan sulit: jika keberadaan mereka di tempat ini tidak diinginkan, bukankah lebih baik mencari tempat lain? Sebuah tempat yang bisa menerima mereka dengan tulus, jauh dari para papa atau mama, tempat di mana mereka diperlakukan dengan baik. Ava pernah menemukan tempat seperti itu, di mana dirinya tidak lagi dihujani umpatan yang memekakkan telinga. Di sana, ia merasakan ketenangan, kehangatan, dan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Tempat itu disebut Tanah Lada.

Awalnya, P tidak tertarik dengan cerita Ava. Baginya, semua tempat sama saja, tidak ada yang benar-benar lebih baik. Namun, seiring waktu, P semakin lelah menghadapi perlakuan buruk papanya. Rasa putus asa itu membuatnya mulai memikirkan kata-kata Ava, dan perlahan ia menjadi penasaran dengan Tanah Lada yang selalu Ava banggakan. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi bersama Ava ke tempat tersebut. Tidak ada yang tahu bahwa perjalanan mereka ke Tanah Lada, tempat yang menurut Ava menumbuhkan kebahagiaan, justru membuat keduanya terbang jauh ke langit, langit yang memantul di permukaan laut.

Penulis berhasil menciptakan alur yang tidak hanya mengguncang perasaan, tetapi juga memaksa kita merenungkan kembali betapa jauhnya jarak antara dunia pemikiran anak-anak dan orang dewasa. Dunia anak-anak begitu berbeda, penuh kepolosan dan kejujuran, sedangkan dunia orang dewasa sering kali diwarnai logika yang kompleks dan emosi yang tersembunyi.

Kenyataan bahwa anak-anak sering kali salah memahami tindakan atau kata-kata orang dewasa bisa membuat pembaca merasa kesal. Perspektif mereka yang sederhana kerap kali membuat mereka meraba-raba maksud dari apa yang mereka alami. Hal yang bagi orang dewasa tampak sepele atau bahkan bermaksud baik, di mata anak-anak bisa menjadi sesuatu yang membingungkan, menyakitkan, atau bahkan menakutkan. Anak-anak memproses kehidupan berdasarkan pengalaman dan pemahaman mereka yang masih terbatas, sementara orang dewasa sering kali lupa bahwa komunikasi dengan anak-anak memerlukan perhatian dan kepekaan khusus.

Redaktur: Duwi Cahya

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.