Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Melemahnya nilai tukar rupiah kembali menjadi alarm bahaya bagi masyarakat Indonesia. Setelah menembus angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada April lalu, rupiah semakin terdepresiasi hingga berulang kali menyentuh titik terendah dalam sejarah. Dikutip dari Bloomberg, Pada Jumat (15/5/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperdagangkan di level Rp17.598, melemah sekitar 0,4 persen dibandingkan hari sebelumnya. Bahkan, dalam sesi pembukaan, rupiah sempat menembus level Rp17.604 per dolar AS.
Ketika nilai tukar terus menurun, kekhawatiran publik ikut meningkat. Hal ini tidak bisa dipungkiri sebab harga barang impor melonjak, kebutuhan sehari-hari semakin mahal, dan daya beli menurun di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Tekanan ekonomi ini pun perlahan mulai dirasakan secara nyata oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah.
Pelemahan rupiah ini mulai dirasakan masyarakat melalui meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok. Dampak dari pelemahan ini paling kontras terasa pada komoditas pangan yang masih bergantung pada bahan baku impor, seperti gandum dan kedelai. Menurut Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, kenaikan harga bahan baku impor sudah mulai terjadi di tingkat produsen sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
Dampak ini akan sangat terasa, terutama bagi masyarakat kelas menengah dan bawah. Kenaikan harga tahu dan tempe akan sangat memukul kelompok bawah karena kedua produk tersebut merupakan sumber protein utama dengan harga yang paling terjangkau. Sementara bagi masyarakat kelas menengah, tekanan akan lebih terasa pada kenaikan harga makanan olahan dan pembengkakan biaya makan di luar rumah.
Tak hanya kebutuhan pokok, pelemahan rupiah turut menyentuh sektor pendidikan. Hal ini dirasakan langsung oleh kalangan akademisi, khususnya para dosen. Kenaikan kurs dolar menyebabkan berbagai kebutuhan akademik berbasis mata uang asing menjadi semakin mahal, mulai dari biaya publikasi jurnal internasional, langganan database penelitian, software analisis data, hingga biaya konferensi ilmiah di luar negeri. Kondisi ini menjadi tantangan berat di tengah tingginya tuntutan publikasi jurnal internasional dan target akademik di perguruan tinggi.
Selain itu, dunia pendidikan saat ini sangat bergantung pada perangkat teknologi seperti ponsel, komputer, laptop, alat-alat laboratorium, dan buku-buku impor. Pelemahan rupiah otomatis membuat harga barang-barang tersebut melambung tinggi karena melonjaknya biaya impor yang harus dibayar. Pada akhirnya, hal ini berujung pada ketimpangan fasilitas, di mana tidak semua siswa dan mahasiswa mampu memiliki perangkat yang memadai untuk mendukung aktivitas akademik mereka.
Setelah merambah sektor pendidikan, dampak pelemahan rupiah turut menyasar sektor pertanian dan ekonomi pedesaan. Desa adalah fondasi ekonomi Indonesia, di mana sebagian besar produksi pangan nasional berasal dari wilayah tersebut. Dengan menurunnya nilai rupiah, biaya produksi di sektor pertanian otomatis akan meningkat. Hal ini terjadi karena Indonesia masih bergantung pada berbagai bahan baku impor, termasuk pupuk, pestisida, gandum, kedelai, hingga pakan ternak.
Kondisi ini terasa semakin berat karena struktur pendapatan masyarakat desa cenderung tidak stabil dan bergantung pada pendapatan musiman dari hasil panen atau pekerjaan informal. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan stagnan, maka daya beli masyarakat pedesaan akan langsung tergerus.
Fakta ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkap bahwa tingkat kemiskinan di pedesaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Persentase penduduk miskin di perkotaan pada September 2025 mencapai angka 6,60 persen, turun dibandingkan dengan Maret 2025 yang menunjukkan angka 6,73%. Sementara itu, persentase penduduk miskin di pedesaan pada September 2025 mencapai angka 10,72 persen, menurun dibandingkan dengan Maret 2025 yang berada di angka 11,03%.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok masyarakat desa masih sangat rentan terhadap gejolak ekonomi. Ketika rupiah melemah dan harga-harga naik, tekanan sosial ekonomi di pedesaan akan meningkat lebih cepat dibandingkan dengan perkotaan karena mayoritas penduduk desa berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah.
Dengan demikian, ucapan Presiden Prabowo yang menyebutkan bahwa, “Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iyakan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negeri panik, Indonesia masih oke,” (dikutip dari BBC) menunjukkan ketidaktahuan dan penyangkalan seorang pemimpin negara terhadap krisis ekonomi yang perlahan mencekik rakyatnya. Perkataan tersebut seolah-olah menggambarkan pemimpin negara yang tidak memahami atau memilih menutup mata dari penderitaan riil yang dihadapi rakyatnya di tingkat tapak.
Pada akhirnya, melemahnya rupiah bukan hanya tentang angka statistik yang turun di pasar valuta asing. Ini adalah tentang bagaimana masyarakat harus terus bertahan dan beradaptasi dengan tekanan serta gejolak ekonomi di tengah-tengah ketimpangan pendapatan, kemiskinan struktural, krisis lapangan pekerjaan, hingga ketidakstabilan politik yang turut berdampak sistemis pada berbagai aspek kehidupan.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment