
Oleh: Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Negeri ini berdiri di atas mimpi
Sayang, matanya tertutup asap janji
Cermin di tangan retak dan tuli,
Menolak luka rakyat yang sunyi.
Di pintasan istana berbisik harta,
Tangan-tangan kotor menari di meja kuasa.
Korupsi menjalar, kolusi melilit,
Nepotisme menanam benih di tanah sempit.
Korupsi dinormalisasi, menjarah darah rakyat,
Mengalir ke kantong penguasa berlapis emas sesat.
Sementara janji menguap bersama debu angin,
Meninggalkan rakyat di tikungan nasib yang dingin.
Kolusi menjerat tangan-tangan culas,
Menentukan siapa naik, siapa terhempas.
Rakyat jadi pion di papan monopoli,
Disusun rapi oleh kuasa yang tuli.
Nepotisme menanam pohon keluarga di tanah publik,
Akar tamak menembus hak-hak yang pelik.
Keturunan berkuasa, rakyat dibumihanguskan,
Dan cermin kekuasaan tetap bisu tanpa penyesalan.
Undang-undang menjelma sandiwara,
Janji berubah komedi di ruang negara.
Sementara gema tangis rakyat mengalun samar,
Hanya jadi musik latar di pesta penguasa nan liar.
Ah, betapa moleknya negeri yang kehilangan air mata,
Tertawa di atas luka yang tak pernah reda.
Di balik megah istana yang menjulang gagah,
Ada tulang-tulang rakyat yang jadi pondasi megah.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment