Oleh: Mayla Faiza Janayu
Suara USU, Medan. Belakangan ini, minuman fermentasi mulai banyak diminati karena dianggap memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, terutama kesehatan pencernaan. Salah satu minuman yang cukup populer adalah kombucha, teh fermentasi yang dikenal mengandung mikroorganisme baik untuk membantu menjaga kesehatan saluran cerna. Selain memiliki cita rasa yang unik, kombucha juga sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Kombucha dipercaya pertama kali dikenal pada tahun 221 SM di wilayah timur laut China pada masa Kaisar Qin Shi Huang. Saat itu, teh fermentasi ini disebut digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh dan membantu memperpanjang umur. Minuman ini kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia.
Pada tahun 414 M, Kaisar Jepang Inkyo dikisahkan mengalami sembelit selama bertahun-tahun hingga seorang tabib asal Korea membawa ramuan teh fermentasi untuknya. Ramuan tersebut dipercaya membantu meredakan penyakit yang dialami sang kaisar. Sebagai bentuk penghargaan, minuman tersebut kemudian disebut “kombucha”, berasal dari nama tabib “Kombu” dan kata “cha” yang berarti teh dalam bahasa Jepang.
Proses pembuatan kombucha dilakukan melalui fermentasi teh hitam dengan bantuan gula dan scoby. Scoby merupakan kumpulan bakteri asam asetat dan ragi yang hidup bersimbiosis untuk membantu proses fermentasi. Bahan ini dapat ditemukan di toko daring dengan kisaran harga Rp10 ribu hingga Rp35 ribu untuk ukuran standar sekitar 10–15 sentimeter.
Kombucha juga dapat dibuat secara mandiri di rumah. Prosesnya dimulai dengan menyeduh dua kantong teh hitam atau satu sendok makan teh bubuk menggunakan satu liter air panas di dalam toples kaca. Setelah itu, tambahkan sekitar 50–100 gram gula putih dan tunggu hingga larutan mencapai suhu ruang sebelum memasukkan scoby. Toples kemudian ditutup menggunakan kain atau tisu dan diikat dengan karet sebelum disimpan di tempat teduh selama tujuh hingga sepuluh hari.
Dalam proses fermentasi, suhu larutan perlu diperhatikan karena scoby tidak dapat dimasukkan ke dalam teh yang masih panas. Suhu tinggi dapat membunuh bakteri baik yang berperan dalam proses fermentasi. Semakin lama fermentasi dilakukan, rasa kombucha biasanya akan semakin asam.
Setelah selesai difermentasi, kombucha dapat langsung diminum atau didinginkan terlebih dahulu. Minuman ini memiliki perpaduan rasa asam, sedikit manis, dan sensasi karbonasi ringan yang menyerupai soda. Karakter rasanya yang khas membuat kombucha terasa berbeda dibanding teh pada umumnya.
Selain rasanya yang unik, kombucha juga dikenal memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. Kandungan antioksidan dan polifenol di dalamnya dipercaya dapat membantu mengurangi peradangan kronis yang berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung dan radang sendi. Meski demikian, konsumsi kombucha tetap perlu diimbangi dengan pola makan sehat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
Kombucha juga mengandung probiotik yang bermanfaat untuk membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Kehadiran bakteri baik tersebut penting untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan. Selain itu, kandungan vitamin B dalam kombucha juga dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh.
Teh fermentasi ini turut mengandung asam asetat, glukuronat, dan D-sakarida yang memiliki sifat antimikroba untuk membantu melawan pertumbuhan bakteri jahat. Kandungan polifenolnya juga berperan dalam membantu mengatur sistem kekebalan tubuh serta meredakan peradangan.
Meski memiliki berbagai manfaat, konsumsi kombucha tetap perlu dilakukan dalam batas wajar. Kombucha dapat menjadi alternatif minuman yang menarik dengan rasa yang unik dan menyegarkan, tetapi tetap harus dikonsumsi secara seimbang sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment