Oleh: Raka Rafzan Rasyid
Beragam komunitas dan tempat nongkrong di Kota Binjai membuat masyarakat, baik dari dalam maupun luar kota, lebih mudah mengekspresikan diri. Namun, ada sebagian orang yang lebih nyaman menikmati suasana tenang dan tidak terlalu menyukai keramaian. Berangkat dari hal tersebut, hadir sebuah spot baca buku gratis bernama Booklovers Binjai yang kini berkembang menjadi sebuah komunitas. Tempat ini didirikan oleh Muhammad Reichan Alfikri (22) sebagai ruang membaca sekaligus tempat berinteraksi dengan pengunjung lain.
Spot baca ini awalnya dibangun sendiri oleh Rei sebagai pojok baca sederhana yang ditujukan bagi penikmat novel dan buku bacaan ringan. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pengunjung datang untuk membaca maupun berbincang santai sehingga tempat tersebut perlahan berkembang menjadi sebuah komunitas.
Rei menjelaskan bahwa pada awal pembukaan lapak baca gratis itu, jumlah pengunjung masih sangat sedikit. Mayoritas pengunjung merupakan remaja perempuan pencinta novel fiksi atau anak muda yang sekadar mendokumentasikan kutipan puitis dari buku yang mereka baca. Namun, berkat saran dari teman-temannya serta konsistensinya membuka pojok baca tersebut, jumlah pengunjung mulai meningkat. Pelajar yang baru pulang sekolah hingga mahasiswa mulai datang, bukan hanya untuk membaca, tetapi juga mencari hiburan dan menjalin interaksi dengan pengunjung lainnya.
Melihat perkembangan tersebut, Rei mulai mengubah konsep pojok baca gratis itu menjadi ruang interaksi bagi individu yang cenderung pendiam dan kurang nyaman berada di lingkungan ramai. Ia menambahkan beberapa fasilitas seperti alat musik, tikar tambahan, dan koleksi buku baru. Selain itu, Rei juga membuat aturan sederhana, seperti makan bersama, saling mengobrol, serta berbagi cerita mengenai buku yang telah dibaca.
Perubahan tersebut menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, anak jalanan, hingga orang tua yang menemani anaknya bermain. Rei mengatakan bahwa minat baca masyarakat Kota Binjai menjadi alasan utama dirinya membuka sekaligus mengembangkan tempat tersebut menjadi sebuah komunitas.
Rei juga mengaku ingin rutin membuka pojok baca gratis itu setiap hari sebagai ruang interaksi anak muda di Binjai. Namun, keterbatasan waktu akibat jadwal magang dan keinginannya menjaga kesan eksklusif agar tempat tersebut tetap dinantikan pengunjung membuatnya harus mempertimbangkan hal itu kembali.
Dalam menjalankan komunitas tersebut, Rei menghadapi berbagai tantangan. Saat diwawancarai pada Rabu, 29 April 2026, ia menceritakan kesulitan yang dialaminya.
“Tantangannya sendiri adalah aku harus mengorbankan waktu libur kerja untuk membuka lapak baca ini. Selain itu, aku sebenarnya orang yang cukup pemalu, jadi harus berani mengajak orang-orang yang lewat supaya mau datang ke lapak ini. Mau tidak mau, aku harus keluar dari zona nyaman untuk mulai berinteraksi dengan mereka,” ujarnya.
Selain itu, Rei menjelaskan bahwa komunitas tersebut kemungkinan tidak dapat ia jalankan dalam waktu lama karena harus kembali mencari pekerjaan setelah masa magangnya selesai. Ia berharap nantinya ada orang lain yang bersedia melanjutkan komunitas tersebut tanpa menjadikannya sebagai kepemilikan pribadi. Rei juga berharap penerus komunitas itu mampu merangkul orang-orang yang memiliki sifat serupa agar lebih nyaman berinteraksi.
Selama menjalankan komunitas Booklovers, Rei aktif mengabadikan dan mempromosikan kegiatan spot baca itu melalui media sosial. Dari hasil promosi tersebut, ia mendapatkan banyak dukungan untuk mengembangkan fasilitas di tempat baca tersebut.
“Alhamdulillah, setelah videonya masuk FYP TikTok dan ditonton ratusan ribu kali, banyak bantuan yang aku terima. Mulai dari sumbangan buku, desain flyer, ajakan kolaborasi dari pemilik kafe, sampai bantuan dari guru, fotografer, dan lawyer secara gratis,” jelasnya.
Beberapa pengunjung juga mengaku bahwa tempat baca gratis tersebut membuat mereka merasa lebih nyaman dan dapat melupakan masalah sejenak. Selain menjadi tempat membaca, komunitas ini juga dianggap membantu mereka belajar keluar dari zona nyaman.
Salah satu pengunjung yang disamarkan namanya sebagai Luki mengatakan bahwa suasana di tempat itu membuat dirinya lebih tertarik untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar tanpa merasa dihakimi.
“Jujur, aku belakangan sering merasa sepi di rumah. Aku datang ke spot baca ini supaya bisa ketemu orang baru yang asyik, seru, dan tidak menghakimi pengunjung lain. Aku juga ingin mencoba suasana baru supaya tidak terus diam di kamar,” ujar Luki.
Menurut Luki, keluar dari zona nyaman tidak selalu harus dilakukan melalui percakapan yang panjang dan mendalam. Duduk santai sambil menikmati suasana dan membaca buku yang disukai juga bisa menjadi cara untuk menenangkan diri. Ia menilai banyak orang terlalu sibuk mengejar tujuan hingga lupa beristirahat. Karena itu, kehadiran komunitas Booklovers menjadi ruang singgah bagi siapa saja yang ingin melepas penat sejenak.
Di akhir wawancara, Rei berharap komunitas dan spot baca tersebut tetap berlanjut meski suatu hari nanti tidak lagi berada di bawah pengelolaannya. Ia juga berharap penerus komunitas itu mampu menjaga suasana hangat dan mengajak lebih banyak pengunjung untuk saling berinteraksi serta menikmati waktu bersama.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment