Home Kabar Kampus Mahasiswa Sastra Indonesia USU Ukir Prestasi Juara 1 di Festival Karo
Kabar Kampus

Mahasiswa Sastra Indonesia USU Ukir Prestasi Juara 1 di Festival Karo

Share

Reporter: Ghefira Mannawa Salwa 

Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2025, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Akib Al Hafiz, berhasil meraih Juara 1 Lomba Tari Kreasi pada Festival Bunga dan Buah Karo 2026 yang diselenggarakan di Berastagi, Kabupaten Karo, bersama tim Kamuna Garden Raja Berneh.

Prestasi tersebut diraih melalui tarian yang mengangkat Desa Raja Berneh, Kabupaten Karo, sebagai konsep utama. Desa yang berada di bawah Gunung Sibayak tersebut memiliki keberagaman suku dan etnis, baik masyarakat asli maupun pendatang. Melalui tarian tersebut, tim berupaya memperkenalkan keindahan dan potensi alam Desa Raja Berneh kepada penonton.

Festival Bunga dan Buah Karo merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan di Berastagi, Kabupaten Karo. Festival tersebut telah berlangsung sejak 1966 dan pada awalnya merupakan acara syukuran hasil panen, perayaan budaya, serta pesta rakyat Kabupaten Karo. Kini, kegiatan tersebut telah berkembang menjadi festival berskala nasional yang rutin diselenggarakan.

Ketertarikan terhadap seni tari telah dimiliki Akib sejak kecil dan terus ditekuni hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah terakhir mengikuti kompetisi saat SMA, ia kembali terjun dalam perlombaan melalui Festival Bunga dan Buah Karo 2026. Keikutsertaannya didorong oleh keinginan untuk kembali menunjukkan kemampuan menari di panggung yang lebih besar.

Dalam kompetisi tersebut, Akib bergabung dengan tim Kamuna Garden Raja Berneh yang dibina oleh pelatih yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan kemampuan penari. Kesempatan untuk kembali berlatih dan mengembangkan kemampuan melalui proses pembinaan tersebut menjadi salah satu pertimbangannya mengikuti kompetisi.

Persiapan menuju perlombaan dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Salah satu tantangan yang dihadapi tim ialah menyesuaikan jadwal latihan karena pelatih dan penari memiliki kesibukan yang berbeda. Tim kemudian menentukan waktu latihan yang dapat disepakati bersama. Selain itu, penggunaan sejumlah properti dalam penampilan juga menjadi tantangan karena harus disesuaikan dengan konsep tarian.

Menurut Akib, keberhasilan tim meraih Juara 1 didukung oleh eksekusi penampilan yang baik serta kesesuaian konsep tarian dengan sinopsis yang telah disusun.

“Perasaan saya tentunya campur aduk, karena dalam pelaksanaannya, ini adalah kali pertama saya mengikuti lomba seni tari di acara yang skala nasional sekaligus kali pertama saya mengikuti lomba seni tari di dunia perkuliahan,” ujar Akib.

Di tengah kesibukan perkuliahan, Akib berupaya membagi waktu antara kegiatan akademik dan latihan. Ia memanfaatkan waktu sebelum latihan untuk menyelesaikan berbagai keperluan akademik, sedangkan latihan bersama tim dilakukan mulai pukul 19.00 WIB.

Setelah meraih Juara 1, Akib bersama tim berencana terus mengembangkan kemampuan dan mengikuti kompetisi tari lainnya. Menurutnya, pencapaian tersebut bukan alasan untuk berhenti berkembang dan cepat merasa puas.

“Kami tidak akan berhenti di pencapaian ini saja, kami tidak mau memiliki sifat cepat puas. Kami ingin melatih lagi kemampuan kami dan show up ke semua orang bahwa kemampuan kami bisa dipertimbangkan,” tuturnya.

Akib juga mengajak mahasiswa yang memiliki minat dan bakat di bidang seni untuk tidak ragu mengembangkannya. Menurutnya, seni merupakan ruang untuk berkarya sekaligus menunjukkan potensi diri.

“Seni itu bebas, seni itu tidak mengekang. Seni itu bukan kriminal sehingga apa pun yang kamu buat selagi itu tidak melanggar norma dunia, lakukanlah, kembangkan,” pesannya.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.