
Oleh: Naila Ariyati
Suara USU, Medan. Lebih terkenal tak lebih baik
Sudah terbukti banyak yang munafik
Punya orang tua berkuasa
Merasa bebas menganiaya – Etalase oleh Barasuara
Sudah hampir 13 tahun, genre musik rock indie Indonesia dihiasi dengan kehadiran Barasuara yang dibentuk pada tahun 2012 di Jakarta. Kumpulan musisi hebat yang dibentuk oleh Iga Massardi sebagai vokal utama, TJ Kusuma sebagai gitaris, Gerald Situmorang sebagai bassist, Marco Steffiano sebagai drummer, dan diiringi oleh dua vokal perempuan hebat, Asteriska dan Puti Chitara.
Barasuara dikenal akan karya musik mereka yang berani. Sering kali mengkritik kondisi sosial, atau kemanusiaan. Lirik-lirik yang mereka sajikan kerap dibalut dengan diksi tajam, kritis, dan puitis, serta disisipi makna yang mendalam.
Aransemen dalam lagu-lagu mereka tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga menjadi nyawa yang menghidupkan emosi di balik setiap lirik. Dengan karakter suara yang khas dan komposisi musik yang dinamis, Barasuara telah menciptakan identitas tersendiri yang sulit tergantikan di belantika musik nasional.
Album yang bertajuk Jalaran Sadrah, yang dirilis pada 21 Juni 2024, menghadirkan Etalase sebagai bukti unik Barasuara. Lagu ini mengkolaborasikan diksi yang indah dengan hentakan bunyi drum, distorsi gitar yang rapi, dan harmoni vokal yang menghanyutkan. Suasana lagu ini terasa lebih kelam dan dalam.
Dari sisi lirik, lagu ini menghadirkan metafora yang kuat. Lagu Etalase bukan hanya rak pajangan, tetapi simbol dari topeng sosial—segala sesuatu yang kita tampilkan ke dunia, tapi tidak selalu mencerminkan kebenaran di dalam diri. Lagu ini terasa seperti percakapan sunyi antara kita dan bayangan diri, tentang hal-hal yang tak pernah berani kita katakan, bahkan pada diri sendiri.
Dari Rak Pajangan Menuju Dasar Kemunafikan
Makna lagu yang ditawarkan pada judul “Etalase” cukup dalam. Pada pandangan Barasuara, etalase bukan hanya sebagai pemajang barang, tetapi simbol dari kenyataan yang kita tampilkan pada dunia. Di balik kaca itu, ada luka, keraguan, dan perjuangan yang tak menjadi pameran publik. Lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang merasa hidupnya adalah pertunjukkan kosong yang dipenuhi kemunafikan, sementara hatinya nihil terjamah oleh manusia.
Musik dibuka dengan orasi vokalis Iga Massardi yang mengajak pendengar merefleksikan diri. Bait pertama lagu menyatakan bahwa kita adalah bentuk nyata ribuan kegagalan yang dipamerkan lewat kepalsuan, tanpa jiwa, maupun kebahagiaan.
Sebelum bagian reff musik, tiga vokalis saling bersahutan melalui lirik “Merasa besar padahal tanggung” seolah mengkritik manusia yang haus akan validasi. Kemudian, saat masuk ke bagian reff lagu ini disambut dengan lirik kritik pedas bahwa menu pokok manusia bukan lagi nasi atau ubi, melainkan komparasi dan validasi sampai sulit mengakui buruk dirinya.
Lirik seperti “Begitu rendah harga manusia dan kita berlomba untuk membelinya” mencerminkan sisi gelap peradaban modern manusia yang ditandai dengan rendah atau tidak adanya martabat dari manusia itu sendiri tetapi kita memperjuangkannya untuk kepentingan semata. Bukti nyata dapat dilihat di dunia nyata, dimana manusia kosong justru dibeli dalam politik, kekuasaan, atau berbagai hal yang bisa ditawar. Barasuara tak hanya menyanyikan kenyataan, mereka menyuarakan nurani yang tertimbun oleh bisingnya zaman.
Lagu “Etalase” mencapai klimaksnya di dua bait terakhir, yang ditutup dengan instrumen dan vokal yang memanas dan berapi-api. Bait pertama mengkritik tajam orang-orang yang merasa paling benar dan langsung merasa berhak menghakimi, bahkan menganggap dirinya paling alim hanya karena wawasannya. Sindiran tersebut diperkuat pada bait berikutnya, di mana Barasuara menampar keras pendengar dengan lirik, “Punya orang tua berkuasa, merasa bebas menganiaya,” sebelum lagu ini berakhir dengan instrumental outro.
Dalam ruang lingkup musik Indonesia yang terus berinovasi, Barasuara terus menjadi penanda arah; band yang berani menyisipkan masalah sosial dan isi hati generasi masa kini lewat karyanya yang jujur. Maka dari itu, banyak remaja atau orang dewasa yang merasa terhubung (related) terhadap karya-karya mereka. “Etalase” cocok untukmu yang butuh tamparan keras akan realita kehidupan dan butuh meniti diri lebih dalam.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment