Reporter: Khairani
Suara USU, Medan. Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) menggelar kuliah umum internasional bertajuk Intercultural Communication 2025 pada Senin, 11 Agustus 2025. Acara berlangsung pukul 08.30–11.30 WIB melalui Zoom Meeting dan menghadirkan dua akademisi dari Filipina dan Amerika Serikat.
Kegiatan diawali pemutaran video profil Program Studi S3 Linguistik, dilanjutkan pembukaan oleh pembawa acara dan doa yang dipimpin Gumarpi. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dinyanyikan bersama untuk membangkitkan semangat kebangsaan peserta.
Sambutan resmi disampaikan Ketua Program Studi Doktor Linguistik, Prof. Dr. Drs. Mulyadi, M.Hum., yang menekankan pentingnya memahami komunikasi lintas budaya dalam dunia akademik maupun kehidupan profesional. “Kemampuan berinteraksi dengan latar belakang budaya berbeda kini menjadi kebutuhan pokok, terutama bagi akademisi dan peneliti yang berkiprah di kancah internasional,” ujarnya.
Selanjutnya, Dekan FIB USU, Prof. Dr. Dra. Thyrhaya Zein, M.A., membuka acara secara resmi dan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus. “Melalui forum seperti ini, mahasiswa dan dosen dapat berjejaring langsung dengan akademisi luar negeri sekaligus memperbarui pengetahuan tentang tren riset terkini,” tuturnya.
Acara kemudian memasuki inti materi yang dipandu oleh moderator Prof. Dr. Erikson Saragih, M.Hum. Pembicara pertama, Prof. Jessie S. Barrot, Ph.D., dari National University Filipina, memaparkan materi bertajuk Recent Topics in Language and Linguistics and Artificial Intelligence in Linguistic/Language Research. Ia menyoroti perkembangan riset linguistik terkini, termasuk integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam penelitian bahasa yang dinilai mampu memperkaya metode analisis dan memperluas cakupan studi.
Pembicara kedua, Barto Karen A., Ph.D., dari University of Arizona, Amerika Serikat, membawakan materi Tips for Scientific Writing for Journal Publication. Dalam paparannya, Karen mengingatkan bahwa menulis artikel ilmiah bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan untuk menyumbangkan pemikiran ke khazanah ilmu pengetahuan. Ia memaparkan enam langkah kunci memahami tujuan publikasi, membangun fondasi riset yang kuat, memilih jurnal yang tepat, menulis dengan struktur yang jelas, berkolaborasi dalam penulisan, dan mempersiapkan naskah sebelum dikirimkan.
Karen juga memperkenalkan metode Point–Illustration–Explanation (PIE) untuk membangun paragraf yang efektif mengawali dengan pernyataan inti, memberikan ilustrasi atau data pendukung, lalu menjelaskan maknanya. “Reviewer dan pembaca jurnal sering kali hanya punya waktu untuk membaca bagian tertentu. Tugas kita adalah membuat ide dan argumen mudah ditemukan dan dipahami,” pesannya.
Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif, di mana peserta menanyakan strategi memilih jurnal bereputasi, cara menghadapi revisi besar dari reviewer, serta tips menjaga konsistensi menulis di tengah kesibukan akademik.
Acara diakhiri dengan closing remarks dari kedua narasumber, penyerahan sertifikat kepada pembicara dan moderator, serta penutupan resmi kegiatan oleh Sekretaris Program Studi Linguistik, Dr. Gustianingsih, M.Hum.
Melalui terselenggaranya kegiatan ini, FIB USU berharap dapat meningkatkan kapasitas publikasi ilmiah mahasiswa dan dosen, sekaligus membangun jejaring akademik yang lebih luas.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment