
Oleh: Christy Cherina Br Ginting
Suara USU, Medan. Aceh tidak hanya terkenal dengan Mie Aceh dan Ayam Tangkap, tetapi juga memiliki camilan manis yang sarat makna budaya, yakni kue bhoi. Kue tradisional ini kerap dijadikan oleh-oleh khas Aceh karena rasanya yang manis, teksturnya yang padat namun lembut, serta bentuknya yang unik umumnya menyerupai ikan atau bunga. Camilan ini mudah ditemukan di pasar tradisional maupun toko kue di Aceh, dan menjadi teman setia masyarakat saat menikmati teh atau kopi.
Kue bhoi memiliki cita rasa manis yang dihasilkan dari bahan-bahan seperti telur, gula, dan vanila. Bagian luarnya renyah, sedangkan bagian dalamnya lembut mirip kue bolu. Beberapa variasi menambahkan kayu manis atau kapulaga untuk memberikan sentuhan rempah yang khas. Kue ini paling nikmat disantap saat masih hangat, ketika tekstur luar masih terasa garing dan aroma manisnya begitu menggoda.
Menilik sejarahnya, kue bhoi pada masa lalu merupakan sajian istimewa bagi kalangan bangsawan. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh, kue ini kerap disajikan untuk menyambut tamu kehormatan di istana. Lebih dari sekadar hidangan, kue bhoi memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan dan keramahtamahan masyarakat Aceh.
Dalam tradisi pernikahan, kue bhoi dahulu menjadi salah satu penanda status sosial. Dicetak dalam ukuran besar, kue ini dihidangkan kepada calon pengantin sebagai bagian dari syarat adat yang harus dipenuhi. Selain itu, kue bhoi sering dijadikan hantaran pada acara penting seperti kenduri (doa bersama) atau peringatan Maulid Nabi, melambangkan harapan akan keberkahan, kebaikan, dan hubungan yang harmonis.
Seiring waktu, kue bhoi mengalami beberapa perubahan, baik dari segi bahan maupun bentuk. Awalnya dibuat menggunakan tepung beras dan telur bebek, kini bahan tersebut diganti dengan tepung terigu dan telur ayam agar lebih terjangkau. Perubahan ini membuat teksturnya lebih lembut dibandingkan versi aslinya. Bentuknya pun semakin beragam, tidak hanya ikan seperti dulu, tetapi juga menyesuaikan dengan selera pembuatnya.
Proses pembuatannya memanfaatkan cetakan logam atau kuningan, sehingga menghasilkan kue dengan warna keemasan kecokelatan dan aroma panggang yang khas. Ketahanan kue bhoi yang cukup lama membuatnya populer sebagai buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh.
Bagi pencinta kuliner tradisional, mencicipi kue bhoi bukan hanya soal menikmati rasa manisnya, tetapi juga mengenal warisan budaya yang terkandung di dalamnya. Setiap gigitan menyimpan kisah sejarah, tradisi, dan keramahan masyarakat Aceh. Jadi, jika berkesempatan mengunjungi Tanah Rencong, jangan lewatkan kesempatan membawa pulang kue khas berbentuk ikan ini sebagai oleh-oleh.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment