Home Tulisan Kerupuk Wortel, Solusi Kreatif Kurangi Limbah Pertanian di Desa Suka Nalu
Tulisan

Kerupuk Wortel, Solusi Kreatif Kurangi Limbah Pertanian di Desa Suka Nalu

Share

Oleh: Reza Nasriyadi Limbong, Yosua Togatorop, Sakti Tamba, Bambang Nasution, Albert Tampubolon, Jesica Purba

Suara USU, Medan. Indonesia sebagai negara agraris menjadikan profesi petani sebagai salah satu mata pencaharian utama warga negara Indonesia. Potensi beragamnya tanaman yang dapat tumbuh di lahan pertanian subur di Indonesia menunjukkan harapan bahwa sektor pertanian masih dapat dikelola dan dikembangkan lebih lanjut. Para petani yang mengelola lahan pertanian perlu didukung dan didampingi, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh para akademisi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu sektor pertanian di Sumatera Utara yang memerlukan pengembangan dan pendampingan adalah tanaman pangan wortel. Wortel di daerah pegunungan Sumatera Utara, seperti Berastagi, telah menjadi salah satu produk unggulan setempat. Namun, masih terdapat beberapa daerah di Sumatera Utara yang belum menunjukkan hasil panen wortel sebaik di Berastagi.

Kualitas hasil panen merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam budidaya tanaman pangan. Petani wortel kerap kali mendapati wortel yang tumbuh bercabang dan menyerupai kaki gajah. Keadaan wortel yang seperti ini salah satunya disebabkan oleh hama yang dapat berakibat pada gagal panen. Akibatnya, wortel menjadi tidak memiliki nilai jual ketika ditawarkan kepada calon konsumen dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani.

Melihat beberapa kendala tersebut, tujuan KKNT ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada para petani wortel di Desa Suka Nalu, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengenai bagaimana memanfaatkan wortel yang tidak memiliki nilai jual dan mengembangkannya menjadi bisnis, serta memberikan gambaran tentang potensi pemanfaatan e-commerce untuk menjual produk wortel dalam kemasan.

Pemanfaatan limbah hasil pertanian dirancang berdasarkan hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa sebagian besar petani wortel di Desa Suka Nalu masih membuang hasil panen yang tidak layak jual, seperti wortel bengkok, kecil, atau rusak secara fisik. Limbah ini sebenarnya masih memiliki kandungan gizi yang baik dan dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi, bukan sekadar dibuang atau dijadikan pakan ternak. Berdasarkan kondisi tersebut, tim KKN merancang program pelatihan pengolahan limbah wortel menjadi kerupuk wortel, yang merupakan salah satu bentuk inovasi pascapanen yang sederhana namun potensial.

Tujuan utama dari program ini adalah untuk meningkatkan keterampilan petani, ibu rumah tangga, dan pemuda desa dalam mengolah limbah wortel menjadi produk pangan siap jual, serta membuka peluang usaha rumahan berbasis pertanian lokal. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mengurangi volume limbah organik dan memberikan edukasi mengenai pentingnya diversifikasi produk untuk meningkatkan pendapatan.

Kerupuk merupakan salah satu makanan ringan yang banyak digemari. Kerupuk sangat disukai hampir semua lapisan masyarakat karena harganya terjangkau dan mudah diperoleh, baik di warung kecil, supermarket, hingga hotel berbintang. Kerupuk tidak hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat luar negeri pun sudah mengenalnya. Kerupuk sangat beragam mulai dari bentuk, ukuran, bau, warna, rasa, kerenyahan, ketebalan, hingga nilai gizinya. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh pengaruh budaya daerah penghasil kerupuk, bahan baku dan bahan tambahan yang digunakan, serta alat dan cara pengolahannya.

Kerupuk juga termasuk produk makanan kering yang populer dan telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Konsumsi kerupuk biasanya bukan sebagai makanan utama, melainkan sebagai makanan kecil, makanan ringan, atau pelengkap hidangan, yang umumnya dikonsumsi dalam jumlah kecil. Kerupuk yang biasanya beredar di pasaran hanya dibuat dari tepung terigu dan tepung tapioka yang diberi bumbu-bumbu dan digoreng. Komponen terbesar kerupuk adalah pati, sehingga kerupuk mempunyai kandungan gizi yang rendah. Oleh karena itu, kerupuk sayur wortel bisa menjadi salah satu jenis diversifikasi kerupuk yang dapat meningkatkan nilai gizi.

Perencanaan program mencakup beberapa tahap penting, dimulai dari penyusunan modul pelatihan, persiapan bahan dan alat sederhana (seperti wortel sisa panen, tepung tapioka, blender, alat kukus, dan kemasan), serta pemilihan lokasi pelatihan yang strategis dan mudah diakses warga, yaitu di balai desa atau rumah produksi kelompok tani. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini meliputi penyampaian materi singkat mengenai potensi ekonomi limbah wortel, dilanjutkan dengan praktik langsung mulai dari proses pencucian, penghalusan wortel, pencampuran bahan, pencetakan adonan, penjemuran, hingga penggorengan kerupuk dan pengemasan produk akhir.

Melalui perencanaan ini, diharapkan warga tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga menyadari pentingnya memanfaatkan limbah pertanian secara kreatif dan produktif. Luaran yang ditargetkan dari program ini adalah terciptanya produk kerupuk wortel dengan kemasan sederhana sebagai percontohan usaha desa, serta munculnya minat dari petani dan pemuda untuk menjadikannya sebagai sumber penghasilan tambahan. Program ini juga menjadi upaya konkret dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan ekonomi sirkular di tingkat desa.

Langkah-Langkah Membuat Kerupuk Wortel:

1. Siapkan bahan: wortel, tepung kanji, tepung roti, garam, penyedap rasa (Royco), air, serta alat yang digunakan seperti blender, pisau, alat kukus, wadah, dan kuali.

2. Kupas wortel yang ingin diblender sebanyak 1 kg, lalu haluskan dengan blender.

3. Setelah diblender, masak wortel halus menggunakan kuali dengan api kecil. Tambahkan 1 bungkus penyedap rasa, garam secukupnya, 1 bungkus lada bubuk, dan 250 gram tepung roti, lalu aduk hingga merata.

4. Setelah matang, campurkan dengan 1 kg tepung kanji dan 400 gram tepung roti, aduk hingga merata.

5. Kukus adonan dengan alat kukus selama 45 menit.

6. Setelah matang, potong adonan tipis-tipis.

7. Jemur potongan kerupuk selama kurang lebih 1–2 hari.

8. Setelah kering, kerupuk mentah siap digoreng dan disajikan.

Artikel ini merupakan publikasi tugas media daring KKNT USU 03 Desa Suka Nalu, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.