
Reporter: Yolanda Febriana Sinaga
Suara USU, Medan. Pementasan skripsi bertajuk “Pagi Bening” karya Anggina Putri Pohan dari Program Studi Seni Pertunjukan, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Medan (Unimed), telah digelar di FBS UNIMED pada Kamis (3/06). Lakon ini menghadirkan kisah dua tokoh lanjut usia yang kembali bertemu dalam suasana pagi yang tenang di sebuah taman.
Anggina Putri Pohan, yang memerankan tokoh utama Laura, menyampaikan tantangan utama yang ia hadapi adalah soal usia. “Kalau tantangan utamanya dari segi usia. Kan saya masih umur 21 tahun nih. Sementara yang saya perankan itu umur 70 tahun. Jadi yang paling sulit itu gimana caranya saya mewujudkan karakter seorang nenek-nenek yang berumur 70 tahun. Dari segi suara, gestur, mimik, dan segala macamnya,” ujarnya. Ia mengungkapkan, bahwa pengalamannya bersama kedua neneknya yang telah wafat menjadi sumber emosional penting dalam membentuk karakter. Selain itu, ia juga melakukan observasi langsung terhadap seorang nenek berusia 70 tahun bernama Nenek Tambeng yang tinggal di Binjai untuk mendalami karakter yang ia perankan.
Hal serupa juga dirasakan Rendi Yansyarullah, pemeran Juanito. “Saya dalam kehidupan saya sehari-hari itu ya, saya tuh kan bukan seseorang yang gagap jadi di dalam karakter ini saya harus menjadi seorang Juanito yang gagap,” katanya. Juanito mengakui usahanya untuk mencari referensi seperti tokoh komedian Ajis Gagap untuk memperdalam karakternya.
Kedua tokoh dalam pentas tersebut menekankan pentingnya membangun kecocokan untuk membentuk hubungan baik selama pementasan berlangsung. Anggina sebagai tokoh Laura juga menjelaskan komunikasi yang ia bangun dengan baik dengan tokoh pasangannya di luar masa latihan yang ada. “Kami membangun chemistry itu bukan di saat latihan saja, minimal seminggu tiga atau dua kalilah berkomunikasi yang baik sama lawan main kita,” imbuh Rendi.
Sutradara pementasan, Wira Bahri Winalda S.Sn, menyampaikan bahwa penilaian berfokus pada keberhasilan aktor memerankan tokoh. “Karena berhubung ini ujian keaktoran, jadi mungkin saya lebih mengembangkan bagaimana Gina mampu menciptakan dan memerankan tokoh Laura dalam naskah “Pagi Bening” karya saduran dari Bapak Sapardi Djoko Damono. Jadi bagaimana Gina ini mampu memerankan tokoh Laura yang umurnya jauh di atas 60-an, kemudian mampu menciptakan tokoh itu ke atas panggung dan hidup sesuai dengan naskah,” jelas Wira.
“Bagaimana seorang aktor mampu memerankan karakter di luar dirinya. Kita tadi bersama melihat Gina dan usianya jauh berbanding dengan usia diperankan. Dia adalah menggambarkan, merepresentasikan kebisingan dari orang tua di dalam perannya,” jelas Frisdo Ekardo S.Sn., M.Sn., selaku dosen pembimbing dalam karya pementasan yang dilangsungkan. Frisdo menekankan pentingnya pendekatan keaktoran dan psikologis. Berupa relasi aktor dengan pemainnya, aktor dan musik, dan aktor dan penontonnya. Ia memuji pencapaian Gina yang mampu menjaga intensitas permainan hingga akhir.
“Aspek yang kami nilai adalah sejauh mana kemampuan aktor mampu menjaga karakter yang diperankan. Tentu itu akan diuji dengan secara teori, bagaimana metode-metode yang digunakannya sebagai seorang aktor, apakah itu terwujud atau tidak. Itu akan dapat kita lihat ketika di dalam pertunjukan, itu bagaimana aktor mampu meyakinkan penonton dengan secara organik, dan bagaimana kebatinan Gina memerankan tokoh seorang perempuan tua,” tutur Frisdo.
Anggina menyampaikan bahwa akhir dari pertunjukannya ini membuatnya bangga telah berjuang sampai akhir. Pertunjukan ini juga menjadi bentuk penghormatan Anggina terhadap kedua orang tuanya yang telah berpulang ke pangkuan Tuhan.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment