Home Buku Membangun Realitas dalam Buku ‘Orang-Orang Proyek’
Buku

Membangun Realitas dalam Buku ‘Orang-Orang Proyek’

Share
Sumber: Gramedia

Oleh: Siti Aisyah

Suara USU, Medan. Ketika mendengar kata “pembangunan”, yang terlintas di kepala kita sering kali adalah kemajuan. Jalan-jalan baru, jembatan megah, gedung-gedung tinggi, serta simbol modernitas lainnya menjadi gambaran umum tentang kemajuan suatu bangsa. Pembangunan sering dilihat sebagai tanda keberhasilan, prestise pemerintah, bahkan alat politik. Namun, bagaimana jika semua yang megah itu dibangun di atas kecurangan, kelalaian, bahkan pengkhianatan terhadap rakyat kecil? Bagaimana jika narasi pembangunan yang diagungkan itu justru menyisakan luka yang dalam bagi mereka yang tinggal di sekitarnya?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang dijawab secara tenang tetapi tajam dalam novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari. Penulis yang dikenal lewat Ronggeng Dukuh Paruk ini kembali mengangkat realita sosial Indonesia, bukan lewat kisah cinta atau keluarga, tetapi lewat dunia pembangunan yang selama ini jarang disorot dalam fiksi. Bukan dunia kontraktor besar atau pencapaian infrastruktur yang dibanggakan, melainkan kisah orang-orang kecil di balik proyek, baik yang terlibat langsung maupun yang terdampak diam-diam. Orang-Orang Proyek bukan kisah kepahlawanan atau perjuangan besar. Ini adalah catatan sunyi tentang sistem yang rusak, nilai yang terkikis, dan hati nurani yang diuji oleh kekuasaan.

Cerita ini membawa pembaca ke sebuah desa yang menjadi lokasi proyek pembangunan jembatan. Sebuah proyek pemerintah yang sejak awal sarat kepentingan, terburu-buru karena tekanan politik, dan dipenuhi kompromi atas nama target dan citra. Apa yang seharusnya menjadi bagian dari kemajuan, malah menjadi lahan korupsi dan ketidakadilan. Orang-orang yang bekerja di balik proyek ini terjebak antara prinsip dan realita. Proyek ini berjalan, tetapi dengan harga mahal mengorbankan ketepatan teknis dan masyarakat sekitar. Ahmad Tohari dengan tenang menyisipkan kritik itu dalam dialog yang menggugah.

“Ini akibatnya bila perhitungan teknis-ilmiah dikalahkan oleh perhitungan politik.”

Pembangunan dipaksa selesai sebelum musim penghujan, hanya agar bisa diresmikan menjelang pemilu. Bencana pun tak terhindarkan. Ketika jembatan rusak diterjang banjir, penyebabnya bukan semata faktor alam. Itu adalah hasil dari sistem yang lebih mementingkan citra politik daripada perhitungan teknis yang matang.

Lebih dari sekadar kritik teknis, novel ini juga memotret bagaimana masyarakat yang seharusnya dilayani oleh pembangunan justru tersisih. Mereka tahu apa yang terjadi, tetapi terlalu kecil untuk bersuara. Dalam percakapan yang tampaknya ringan tetapi sarat makna, muncul ungkapan:

“Kami rakyat kecil tahu kok, apa arti penggelembungan biaya bagi orang-orang proyek.”

Rakyat kecil tidak buta. Mereka tahu pembangunan sering kali menjadi ajang pemborosan dan pencurian uang negara, tetapi mereka hanya bisa menonton dari luar pagar proyek. Bahkan, sistem ini begitu kuat mencengkeram hingga merusak nilai moral masyarakat sekitar.

“Sekarang orang kampung menganggap mengambil aspal dari pinggir jalan adalah perkara biasa.”

“Bukankah mereka tak bisa merugikan proyek tanpa kerja sama dengan orang dalam?”

Korupsi menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Keteladanan menghilang, dan masyarakat pun belajar menormalisasi pelanggaran karena melihatnya setiap hari. Novel ini tidak menyalahkan rakyat secara sepihak, tetapi justru menunjukkan bahwa masyarakat adalah cerminan dari sistem yang membentuknya.

Di balik hiruk-pikuk proyek dan konflik moral para pekerjanya, Ahmad Tohari menyisipkan momen kontemplatif yang sunyi tetapi bermakna. Salah satunya melalui aktivitas memancing—sebuah jeda di antara kebisingan, tempat tokoh-tokoh dalam novel mencari kejujuran batin dan ketenangan.

“Memancing memang sport jantung yang berdebar ketika pertarungan antara berhasil dan gagal sedang berlangsung.”

Aktivitas itu menggambarkan hidup secara sederhana: selalu ada ketegangan antara harapan dan kenyataan. Di tengah suasana proyek yang penuh tipu daya, momen sunyi seperti itu menjadi satu-satunya ruang untuk kembali mendengar suara hati.

“Kalau bisa, telinga sendiri pun tak perlu mendengar karena suara serulingnya ditujukan langsung untuk jiwa.”

Ahmad Tohari menulis dengan keheningan yang indah. Ia tidak banyak menggunakan kata-kata besar atau drama yang meledak-ledak, tetapi justru dari kesederhanaan itulah muncul kedalaman. Ia menyusun cerita seperti aliran sungai yang tenang, tetapi membawa arus pemikiran yang deras. Dalam novel ini, kita diajak melihat bahwa pembangunan bukan semata perkara fisik, melainkan juga moralitas dan integritas. Novel ini mengingatkan bahwa bangsa yang besar bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal kejujuran dan rasa malu.

Bagi siapa pun yang mencari bacaan reflektif, sosial, dan bermakna—Orang-Orang Proyek adalah pilihan yang layak. Ini bukan bacaan yang heboh atau penuh kejutan, tetapi bacaan yang mengendap dan menggugah. Ahmad Tohari berhasil menunjukkan bahwa dalam diam, sastra bisa menjadi kritik yang paling lantang, dan bahwa dalam proyek-proyek besar negara, suara paling penting justru sering kali adalah suara yang tak terdengar: suara nurani.

Redaktur: Nurur Rahmah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.