Home Kabar Kampus Tekuni Penyuntingan Naskah, Mahasiswa Sastra Indonesia USU Raih Juara 3
Kabar Kampus

Tekuni Penyuntingan Naskah, Mahasiswa Sastra Indonesia USU Raih Juara 3

Share

Reporter: Agnes Dhea Oktavia Sinaga

Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara (USU), Firda Elisa, berhasil meraih Juara 3 Lomba Penyuntingan Naskah dalam Festival Literasi Sumatera Utara 2026 yang diselenggarakan oleh Komunitas Mulai Menulis Indonesia pada 25–26 Juli 2026 di Mall Manhattan Medan. Kompetisi tersebut terbuka bagi pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum.

Festival Literasi Sumatera Utara 2026 turut menghadirkan sejumlah kegiatan literasi, mulai dari perlombaan, seminar, hingga peluncuran buku. Tahun ini, perlombaan terbagi dalam beberapa kategori dengan mekanisme pelaksanaan yang berbeda. Lomba Penyuntingan Naskah, Story Telling, dan Cerdas Cermat Literasi dilaksanakan secara luring, sedangkan Bookstagram, Desain Poster, dan Cipta Karya Tulis digelar secara daring. Sementara itu, Lomba Esai menggunakan mekanisme hybrid.

Pada kategori Penyuntingan Naskah, peserta diberikan naskah yang telah disiapkan panitia untuk disunting dalam waktu yang ditentukan. Proses perlombaan kemudian berlangsung dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat dari ketentuan awal. Berdasarkan susunan acara, peserta seharusnya memiliki waktu sekitar 90 menit yang terbagi dalam dua sesi. Namun, keterlambatan pembukaan acara membuat waktu pengerjaan berkurang menjadi 60 menit.

Kondisi tersebut membuat Firda harus lebih cermat dalam menyelesaikan penyuntingan sekaligus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memeriksa hasil pekerjaannya.

“Kendalanya ada di masalah waktu, karena meskipun berkurang hanya 30 menit, ternyata cukup berharga untuk saya. Dengan waktu tersebut seharusnya saya bisa kembali mengecek naskahnya sebelum dikirimkan,” ujar Firda.

Tidak hanya berpacu dengan waktu, Firda juga dihadapkan pada tantangan dalam menentukan bagian yang perlu diperbaiki. Naskah yang diberikan panitia dinilainya sudah cukup baik sehingga ia perlu lebih teliti dalam menemukan bagian yang masih memerlukan penyuntingan.

Bekal yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Sastra Indonesia turut membantu Firda menyelesaikan tantangan tersebut. Materi perkuliahan, khususnya mengenai tata bahasa baku, membantunya mengenali kesalahan penulisan serta penggunaan kosakata yang kurang tepat dalam naskah.

Bagi Firda, kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar menjadi dasar penting dalam lomba penyuntingan naskah. Peserta perlu memahami bentuk baku dan tidak baku suatu kata, cermat dalam menentukan diksi, serta mampu menemukan penggunaan kosakata yang kurang tepat dan berlebihan. Kreativitas juga diperlukan, salah satunya dengan memperbanyak membaca karya sastra sebagai referensi.

Ke depan, Firda berharap kompetisi penyuntingan naskah dapat hadir di lingkungan USU. Menurutnya, perlombaan tersebut tidak harus langsung diselenggarakan pada tingkat nasional, tetapi dapat dimulai dari tingkat universitas untuk membuka ruang bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang penyuntingan dan literasi.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.