Home Tulisan Adil Tak Selalu Sama, Memahami Keadilan dan Kesetaraan Gender
Tulisan

Adil Tak Selalu Sama, Memahami Keadilan dan Kesetaraan Gender

Share

Oleh: Ainun Nisa (240902018)

Bayangkan tiga orang dengan tinggi badan berbeda berdiri di belakang pagar, berusaha melihat sebuah pertandingan. Ketiganya kemudian diberi kotak dengan ukuran yang sama untuk berdiri. Namun, hanya orang yang paling tinggi yang akhirnya dapat melihat pertandingan, sementara dua lainnya masih terhalang pagar. Ketika masing-masing diberi kotak sesuai kebutuhannya, barulah ketiganya dapat menikmati pertandingan dengan pandangan yang sama. Ilustrasi sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sering kali keliru dipahami, yaitu bahwa adil tidak selalu berarti memberikan hal yang sama kepada semua orang. Dalam persoalan gender, pemahaman tersebut menjadi penting karena laki-laki dan perempuan memang memiliki hak yang setara, tetapi tidak selalu menghadapi kondisi, pengalaman, dan hambatan yang sama.

Apa Bedanya Keadilan dan Kesetaraan Gender?

Banyak orang menggunakan istilah keadilan dan kesetaraan gender secara bergantian, seolah-olah keduanya memiliki arti yang sama. Padahal, keduanya saling berkaitan tetapi memiliki makna yang berbeda. Kesetaraan gender berarti laki-laki dan perempuan memiliki hak, kesempatan, dan akses yang sama tanpa adanya perlakuan tidak adil karena jenis kelamin. Kesetaraan mencakup kesempatan memperoleh pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, berpartisipasi dalam politik, hingga mengambil keputusan di dalam rumah tangga maupun ruang publik.

Sementara itu, keadilan gender melihat lebih jauh kondisi yang melatarbelakangi seseorang. Laki-laki dan perempuan, termasuk kelompok gender lainnya, dapat memiliki kebutuhan, situasi awal, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, keadilan gender dapat diwujudkan melalui perlakuan atau dukungan yang disesuaikan dengan kondisi kelompok yang menghadapi lebih banyak hambatan. Dengan kata lain, kesetaraan merupakan kondisi yang ingin dicapai, sedangkan keadilan menjadi salah satu cara untuk memastikan setiap orang memiliki kesempatan nyata untuk mencapai kondisi tersebut.

Mengapa Masih Relevan di Indonesia?

Apakah Indonesia sudah adil dalam persoalan gender? Jawabannya tidak dapat disederhanakan menjadi “sudah” atau “belum”. Di satu sisi, perkembangan telah terlihat dalam berbagai bidang. Angka partisipasi perempuan dalam pendidikan terus meningkat, perempuan mulai mengisi berbagai posisi penting di ruang publik, dan pemerintah telah memiliki kebijakan yang mendukung pengarusutamaan gender, salah satunya melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.

Namun, keberadaan aturan belum otomatis menghilangkan seluruh persoalan. Perempuan masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh kesempatan ekonomi dan menduduki posisi pengambilan keputusan. Mereka juga masih menghadapi beban ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab domestik serta berbagai hambatan budaya yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui aturan. Laporan Global Gender Gap Index dari World Economic Forum juga menunjukkan bahwa kesenjangan gender di Indonesia masih terlihat, terutama dalam aspek partisipasi dan kesempatan ekonomi serta pemberdayaan politik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai keadilan dan kesetaraan gender tidak dapat berhenti pada konsep, tetapi perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tingkat kebijakan, komunitas, hingga keluarga.

Kesetaraan Gender dari Kelas hingga Ruang Rapat

Kesetaraan gender muncul dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia pendidikan, misalnya, kesetaraan berarti setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan kemampuan tanpa dibatasi prasangka atau stereotip. Tidak seharusnya masih ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu memperoleh pendidikan tinggi karena pada akhirnya mereka akan menikah. Pendidikan seharusnya menjadi ruang bagi setiap orang untuk menentukan masa depan berdasarkan kemampuan dan pilihan mereka sendiri.

Dalam bidang ekonomi, kesetaraan gender berarti laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, memperoleh penghasilan yang layak, mengakses modal, mengikuti pelatihan, serta mengembangkan karier. Namun, perempuan masih dapat menghadapi hambatan yang tidak selalu terlihat, salah satunya glass ceiling atau “langit-langit kaca”, yaitu batasan yang tidak tampak tetapi dapat menghambat perempuan mencapai posisi tertentu dalam pekerjaan. Sementara dalam bidang politik dan pengambilan keputusan, kesetaraan gender bukan hanya mengenai jumlah keterwakilan perempuan, tetapi juga memastikan bahwa perempuan memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan terlibat dalam proses pembuatan kebijakan.

Persoalan gender juga hadir dalam ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu rumah tangga. Siapa yang memasak, mengurus anak, membersihkan rumah, dan mencari nafkah bukan semata-mata persoalan pribadi, tetapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat membentuk pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Pekerjaan domestik tidak semestinya dianggap sebagai tanggung jawab perempuan semata. Pembagian tugas dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan, kemampuan, dan kondisi masing-masing sehingga tanggung jawab keluarga dapat dipikul bersama.

Wujud Keadilan Gender, Mengakui Perbedaan

Keadilan gender dimulai dengan pengakuan bahwa laki-laki dan perempuan tidak selalu datang dari titik yang sama. Sejarah diskriminasi, norma sosial, budaya patriarki, dan berbagai hambatan struktural telah membuat sebagian kelompok menghadapi kesulitan yang lebih besar untuk memperoleh kesempatan yang setara. Karena itu, keadilan gender dapat membutuhkan tindakan afirmatif, yaitu kebijakan atau dukungan yang secara sengaja diberikan kepada kelompok yang menghadapi lebih banyak hambatan. Tujuannya bukan untuk menganggap kelompok tersebut lebih lemah, melainkan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka memperoleh kesempatan yang lebih setara.

Bentuknya dapat berupa program beasiswa bagi perempuan di daerah dengan keterbatasan akses pendidikan, pelatihan kewirausahaan bagi perempuan yang menjadi kepala keluarga, hingga kebijakan perlindungan bagi perempuan selama masa kehamilan dan setelah melahirkan. Dalam pekerjaan sosial, keadilan gender juga berarti memahami kebutuhan setiap individu berdasarkan situasi yang mereka hadapi. Seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan seorang laki-laki yang kehilangan pekerjaan. Perbedaan penanganan tersebut bukan berarti salah satunya lebih penting, melainkan karena latar belakang dan tantangan yang mereka hadapi memang berbeda.

Ketika Kesetaraan dan Keadilan Bertemu

Pada akhirnya, kesetaraan dan keadilan gender merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam menciptakan masyarakat yang memungkinkan setiap orang hidup dengan martabat, tumbuh, dan berkontribusi tanpa dibatasi oleh jenis kelamin. Kondisi tersebut memang belum sepenuhnya terwujud. Masih ada perempuan yang menghadapi tekanan untuk memilih antara pekerjaan dan keluarga, masih banyak perempuan yang setelah bekerja di ruang publik harus kembali menyelesaikan pekerjaan domestik, dan masih ada laki-laki yang merasa tidak boleh menangis atau meminta bantuan karena tekanan mengenai bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap.

Dalam hal ini, persoalan gender tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga dapat membatasi laki-laki melalui norma dan stereotip yang berkembang di masyarakat. Perjuangan mencapai keadilan dan kesetaraan gender karena itu bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang menciptakan ruang kehidupan yang memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan menentukan kehidupannya sendiri.

Perubahan besar dapat dimulai dari cara kita berpikir dan berbicara mengenai siapa yang dianggap layak menjadi pemimpin, siapa yang seharusnya berkarier, siapa yang bertanggung jawab atas pekerjaan rumah, atau siapa yang boleh menunjukkan emosi. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka kembali aturan sosial yang selama ini dianggap biasa. Pada akhirnya, adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama. Adil berarti setiap orang memperoleh kesempatan dan dukungan yang sesuai agar dapat berdiri di posisi yang setara.

Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Referensi:
Badan Pusat Statistik. Pembangunan Manusia Berbasis Gender (2023).
Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.
Moser, C. (1993). Gender Planning and Development.
World Economic Forum. Global Gender Gap Report.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.