Home Tulisan Perempuan Bekerja dan Mengurus Rumah, Kesetaraan yang Berhenti di Pintu Rumah 
Tulisan

Perempuan Bekerja dan Mengurus Rumah, Kesetaraan yang Berhenti di Pintu Rumah 

Share

Oleh : Gloria Jesika Tampubolon

Ketaraan gender semakin sering dibicarakan dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan kini memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengenyam pendidikan, membangun karier, dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Namun, di tengah berbagai kemajuan tersebut, masih ada persoalan yang kerap luput dari perhatian. Ketika perempuan telah memperoleh ruang di ranah publik, apakah kesetaraan yang sama juga mereka rasakan di dalam rumah? 

Bagi sebagian perempuan, bekerja bukan berarti terbebas dari tanggung jawab domestik. Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, mereka masih harus memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, hingga memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Berbagai tanggung jawab tersebut berjalan beriringan dan sering kali dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan perempuan. 

Persoalannya bukan terletak pada perempuan yang memilih bekerja maupun yang mengurus rumah tangga. Keduanya merupakan pilihan yang sama-sama patut dihargai. Namun, ketika pekerjaan domestik dianggap sebagai kewajiban perempuan semata, kesetaraan yang selama ini diperjuangkan justru berisiko berhenti sebelum benar-benar memasuki ruang keluarga. 

Dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan rumah tangga sering dianggap sebagai aktivitas biasa yang tidak memerlukan pengakuan khusus. Padahal, memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, dan merawat anggota keluarga merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu, tenaga, serta tanggung jawab besar. Meski tidak selalu menghasilkan pendapatan, pekerjaan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan keluarga. 

Besarnya pekerjaan perawatan tidak berbayar yang dilakukan perempuan tergambar dalam eksperimen sosial yang dilakukan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Magdalene pada 2024. Dalam eksperimen tersebut, lima perempuan di Indonesia mencatat aktivitas domestik dan pengasuhan selama tujuh hari. Hasilnya menunjukkan bahwa empat dari lima peserta menghabiskan lebih dari 40 jam per minggu untuk pekerjaan perawatan. Bahkan, dua peserta mencatat waktu lebih dari 100 jam dalam seminggu. Meskipun eksperimen ini tidak mewakili seluruh perempuan Indonesia, temuannya memberikan gambaran tentang betapa besar waktu yang dapat tersita oleh pekerjaan yang kerap luput dari perhatian dan perhitungan ekonomi formal. 

Beban tersebut menjadi semakin kompleks ketika perempuan juga menjalankan pekerjaan berbayar. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk beristirahat, mengembangkan kemampuan, atau menikmati kehidupan sosial harus dibagi dengan berbagai tuntutan rumah tangga. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membatasi kesempatan perempuan untuk berkembang, baik secara ekonomi maupun personal. Perempuan tidak hanya dituntut untuk berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga sering diharapkan tetap mampu mengurus seluruh keperluan rumah tangga dengan baik. 

Ketimpangan pembagian pekerjaan tidak berbayar juga berkaitan dengan kesejahteraan perempuan. Dalam artikel analisis yang diterbitkan di The BMJ pada 2021, Soraya Seedat dan Marta Rondon membahas bagaimana beban pekerjaan domestik dan perawatan yang tidak seimbang dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan terhadap kesehatan mental serta menurunnya kualitas hidup perempuan. Pembahasan tersebut mengingatkan kita bahwa pekerjaan domestik yang menumpuk bukan sekadar persoalan pembagian tugas, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kesejahteraan individu. 

Salah satu alasan ketimpangan tersebut terus bertahan adalah kuatnya anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan tanggung jawab alami perempuan. Sejak kecil, anak perempuan kerap dibiasakan membantu memasak, membersihkan rumah, atau menjaga adik, sementara anak laki-laki tidak selalu mendapatkan tuntutan yang sama. Kebiasaan ini perlahan membentuk pemahaman bahwa perempuan memang seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga. 

Anggapan tersebut kemudian memengaruhi cara keluarga memandang pembagian pekerjaan domestik. Ketika laki-laki terlibat dalam pekerjaan rumah, tindakannya sering dianggap sebagai bentuk bantuan kepada perempuan, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Padahal, kemampuan mengurus rumah bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh jenis kelamin. Memasak, membersihkan rumah, dan merawat anak merupakan keterampilan hidup yang dapat dipelajari oleh siapa pun. Pekerjaan domestik seharusnya dipahami sebagai tanggung jawab bersama, bukan kewajiban yang melekat pada satu pihak. 

Penting untuk membedakan antara pilihan dan tuntutan sosial. Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tetap berhak mendapatkan penghargaan atas perannya. Demikian pula, perempuan yang memilih bekerja di ranah publik tidak seharusnya dibebani anggapan bahwa seluruh pekerjaan rumah tetap menjadi tanggung jawabnya. Kesetaraan bukan tentang menyeragamkan pilihan hidup, melainkan memastikan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya tanpa dibatasi oleh stereotip dan ketimpangan. 

Pembicaraan mengenai kesetaraan gender sering berfokus pada kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan posisi dalam pengambilan keputusan di ruang publik. Semua itu penting, tetapi kesetaraan juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui pembagian tanggung jawab di dalam keluarga. Perubahan tidak cukup hanya diukur dari semakin banyaknya perempuan yang memasuki dunia kerja, tetapi juga perlu dilihat dari sejauh mana mereka memperoleh dukungan dan kesempatan yang setara dalam kehidupan rumah tangga. 

Keluarga merupakan ruang pertama tempat nilai-nilai tentang gender dipelajari. Cara orang tua membagi pekerjaan rumah, memberikan tanggung jawab kepada anak, dan menghargai kontribusi setiap anggota keluarga dapat membentuk cara pandang generasi berikutnya terhadap kesetaraan. Karena itu, perubahan perlu dimulai dari kesadaran bahwa pekerjaan domestik merupakan bagian dari kehidupan bersama yang harus dikelola melalui komunikasi, kesepakatan, dan pembagian tanggung jawab yang adil. 

Dalam perspektif kesejahteraan sosial, keluarga merupakan salah satu lingkungan penting yang memengaruhi kualitas hidup individu. Kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup kondisi fisik, psikologis, hubungan sosial, serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Ketika tanggung jawab domestik dibagikan secara lebih seimbang, setiap anggota keluarga memiliki peluang yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhannya, menjaga kesehatannya, dan mengembangkan kemampuan diri. Dengan demikian, pembagian tanggung jawab yang adil bukan hanya menguntungkan perempuan, melainkan juga mendukung kesejahteraan seluruh anggota keluarga. 

Kesetaraan di dalam rumah bukan berarti setiap anggota keluarga harus melakukan pekerjaan yang sama persis. Pembagian tugas dapat disesuaikan dengan kondisi, kemampuan, dan kesepakatan bersama. Hal terpenting adalah memastikan bahwa tanggung jawab tersebut tidak secara otomatis dibebankan kepada satu pihak hanya karena jenis kelaminnya. Keadilan dalam keluarga bukan tentang siapa yang melakukan lebih banyak pekerjaan, melainkan tentang bagaimana setiap anggota keluarga saling mendukung dan mengambil bagian sesuai kesepakatan. 

Perempuan telah berjuang untuk mendapatkan ruang yang lebih luas dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Namun, perjuangan tersebut belum sepenuhnya terwujud apabila setelah kembali ke rumah, mereka masih harus menanggung sebagian besar pekerjaan domestik seorang diri. Kesetaraan gender bukan hanya tentang membuka pintu bagi perempuan untuk memasuki ruang publik, tetapi juga memastikan bahwa mereka tetap memiliki hak atas waktu istirahat, kesehatan, pengembangan diri, dan kehidupan sosial. 

Perempuan tidak seharusnya terus dituntut menjalankan berbagai tanggung jawab sekaligus tanpa dukungan yang memadai. Rumah semestinya menjadi ruang tempat setiap anggota keluarga saling mendukung, bukan tempat ketimpangan diwariskan sebagai kebiasaan. Sebab, kesetaraan yang sesungguhnya tidak hanya terlihat dari seberapa jauh perempuan dapat melangkah ke luar rumah, tetapi juga dari seberapa adil tanggung jawab dibagi ketika mereka kembali ke dalamnya. 

Artikel ini merupakan publikasi UTS Mata Kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP dan Dra. Berlianti M.SP

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.