Penulis: Beby Cahya
Suara USU, Medan. Di era digital yang berkembang pesat, fenomena phubbing telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Phubbing, kombinasi dari kata “phone” dan “snubbing”, merujuk pada perilaku mengabaikan orang-orang di sekitar karena lebih fokus pada ponsel. Fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan sosial umum, tetapi juga merambah ke dalam interaksi yang seharusnya bersifat komunikatif, seperti dalam hubungan keluarga maupun pertemanan. Dampak phubbing terhadap relasi sosial tidak dapat diabaikan, karena secara perlahan dapat menggerus kualitas interaksi antarmanusia.
Salah satu dampak utama dari phubbing adalah terganggunya komunikasi tatap muka. Padahal, bahasa tubuh, kontak mata, dan intonasi suara merupakan elemen penting dalam komunikasi langsung. Namun, dengan adanya phubbing, komponen-komponen ini sering diabaikan, sehingga interaksi sosial kehilangan fondasinya. Akibatnya, pesan yang disampaikan tidak terserap dengan baik, yang kerap menimbulkan kesalahpahaman. Dampak jangka panjangnya, hubungan sosial menjadi lebih dingin dan jauh dari kehangatan serta kedekatan yang seharusnya tercipta.
Phubbing muncul sebagai dampak dari ketergantungan manusia pada teknologi, khususnya handphone dan sosial media. Biasanya, notifikasi, chat, ataupun beberapa update dari sosial media terus menarik perhatian manusia. Hal inilah yang menciptakan siklus kecanduan dan takut untuk ketinggalan informasi (FOMO), dimana orang merasa bahwa ia perlu untuk terhubung dengan dunia handphonenya,bahkan ketika sedang bersama orang lain di dunia nyata. Kebanyakan dari manusia tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan phubbing.
Baik dalam lingkungan keluarga maupun pertemanan, phubbing memiliki dampak buruk terhadap hubungan sosial didalamnya. Jika kita memposisikan diri sebagai orang diabaikan disaat lawan bicara terlalu sibuk dengan ponselnya, pasti  timbul rasa kecewa, merasa tidak penting dan tidak dihargai. Hubungan sosial yang sebelumnya kuat dapat merengggang apabila komunikasi tidak efektif di dalamnya. Hubungan sosial memerlukan komunikasi yang saling menghormati dan perhatian penuh dari kedua belah pihak, namun adanya phubbing justru merusak pondasi hubungan sosial.
Untuk mengatasi fenomena ini, kesadaraan diri menjadi kunci utama. Setiap manusia harus menyadari dampak buruk dari phubbing terhadap hubunga sosial mereka. Langkah awal yang efektif untuk diterapkam adalah mengatur batasan penggunaan handphone, terutama saat berinteraksi dengan orang lain. Kemudian, dengan menciptakan suasana yang lepas dari handphone saat makan atau berkumpul bersama teman atau keluarga dapat mengembalikan hubungan sosial menjadi baik. Manusia sebagai makhluk sosial dapat memperkuat kembali hubungan sosial dan menjaga hubungan baiknya dengan orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, phubbing mengingatkan kita tentang keseimbangan yang perlu kita perhatikan, yaitu antara dunia digital dan dunia nyata. Teknologi yang hadir seharusnya menjadi alat yang mendukung interaksi sosial, bukan sebagai penghalang ataupun penggerus.
Redaktur: Afrahul Fadhillah Parinduri
Leave a comment