
Reporter: M. Ghozi Muzakki
Suara USU, Medan. Microsleep adalah kondisi ketika seseorang tiba-tiba tertidur dalam waktu singkat, biasanya beberapa detik, tanpa disadari. Bagi mahasiswa, microsleep sering kali terjadi saat sedang belajar, mengikuti perkuliahan, atau bahkan saat berkendara. Kebiasaan ini terjadi karena kurangnya waktu tidur yang cukup dan pola hidup yang tidak teratur. Padatnya jadwal kuliah, tugas yang menumpuk, serta aktivitas sosial sering kali membuat mahasiswa harus begadang. Akibatnya, mereka kurang tidur dan lebih rentan mengalami microsleep.
Mahasiswa yang mengalami microsleep biasanya akan mendadak tertidur ketika sedang beraktivitas, seperti duduk di kelas atau di perpustakaan. Ini tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan, terutama jika terjadi saat mengendarai motor atau mobil. Menurut penelitian dari lembaga keselamatan lalu lintas AAA Foundation (Amerika Serikat), 1 dari 10 kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh pengemudi yang mengalami kantuk. Meskipun berlangsung singkat, microsleep saat berkendara dapat menyebabkan pengemudi kehilangan kontrol atas kendaraannya, sehingga mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Penyebab utama microsleep pada mahasiswa adalah kurang tidur. Dalam kehidupan mahasiswa, jam tidur sering terpotong karena harus menyelesaikan tugas, menghadiri kegiatan organisasi, atau sekadar bersantai bersama teman-teman hingga larut malam. Kebiasaan begadang ini lambat laun mengurangi durasi tidur ideal, yang seharusnya berkisar antara 7-9 jam per malam. Tubuh yang kekurangan istirahat memicu otak untuk mencari “istirahat” singkat dalam bentuk microsleep.
Microsleep dapat diatasi dengan menerapkan beberapa kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, saat berkendara, maupun di tempat kerja atau kuliah. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
- Tidur yang cukup. Pastikan tidur selama 7–9 jam setiap malam untuk menghindari rasa kantuk berlebihan di siang hari.
- Hindari minuman berkafein atau beralkohol sebelum tidur. Konsumsi kafein dan alkohol sebelum tidur dapat mengganggu kualitas tidur. Sebaiknya perbanyak minum air putih menjelang waktu tidur.
- Ciptakan suasana tidur yang nyaman. Matikan lampu kamar, atur suhu ruangan agar tidak terlalu panas atau dingin, dan buat lingkungan tidur yang tenang agar bisa mendapatkan tidur berkualitas.
- Dengarkan musik atau podcasts. Musik dengan tempo cepat atau podcasts dengan cerita menarik dapat membantu menjaga konsentrasi dan mengurangi rasa kantuk saat berkendara.
- Cobalah meregangkan tubuh atau berjalan-jalan sebentar setiap 30 menit untuk melancarkan aliran darah dan mengurangi rasa kantuk.
- Cuci muka atau berbicara dengan teman. Aktivitas ini bisa membantu mengalihkan rasa kantuk dan mengembalikan konsentrasi.
- Tidur singkat selama 20–30 menit bisa membantu mengembalikan energi dan meningkatkan fokus. Namun, pastikan tidak tidur lebih dari 30 menit agar tidak merasa lebih mengantuk dan linglung setelah bangun.
- Jika kegiatan belajar mengharuskan duduk lama, beristirahat sejenak dan bergerak membantu melancarkan aliran darah, sehingga otak lebih aktif dan rasa kantuk berkurang.
Kesadaran akan pentingnya tidur yang cukup, pola makan sehat, dan manajemen waktu yang baik sangat diperlukan bagi mahasiswa untuk mengurangi risiko mengalami microsleep. Dengan menjaga kebiasaan-kebiasaan ini, mahasiswa tidak hanya akan meningkatkan kesehatan fisik dan mental, tetapi juga dapat lebih fokus dalam menjalani kegiatan perkuliahan dan aktivitas sehari-hari. Perubahan gaya hidup yang positif ini juga berperan dalam meningkatkan performa akademik, membantu mahasiswa lebih produktif, serta menciptakan keseimbangan hidup yang lebih baik secara keseluruhan.
Redaktur: Feby Simarmata
Leave a comment