Home Tulisan Ketimpangan Gender dalam Pembagian Pekerjaan Domestik di Lingkungan Keluarga
Tulisan

Ketimpangan Gender dalam Pembagian Pekerjaan Domestik di Lingkungan Keluarga

Share

Oleh: Rahma Aisyah Br Barus 

Memasak, mencuci, menyapu, mengurus anak, hingga memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi merupakan pekerjaan yang terus berlangsung setiap hari. Pekerjaan tersebut kerap hadir tanpa banyak disadari karena menjadi bagian dari rutinitas rumah tangga. Namun, di balik rutinitas tersebut terdapat persoalan pembagian peran yang masih sering menempatkan perempuan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pekerjaan domestik.

Pandangan tersebut tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, perempuan dan laki-laki dapat menerima pembelajaran yang berbeda mengenai peran dalam keluarga. Anak perempuan lebih sering diarahkan untuk membantu memasak, mencuci piring, atau membersihkan rumah, sementara anak laki-laki tidak selalu memperoleh tuntutan yang sama. Kebiasaan yang berlangsung berulang dapat membentuk pemahaman bahwa pekerjaan domestik merupakan tanggung jawab perempuan.

Memasak, mencuci, menyapu, dan mengurus anak sebenarnya merupakan keterampilan yang dapat dilakukan siapa saja. Namun, konstruksi sosial mengenai peran gender membuat pekerjaan tersebut lebih sering dilekatkan kepada perempuan. Soebiyantoro (2015) menunjukkan bahwa dalam rumah tangga buruh tani yang ditelitinya, pekerjaan domestik masih dilekatkan kepada perempuan sebagai bagian dari tanggung jawab rumah tangga. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembagian kerja di dalam rumah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan, tetapi juga dipengaruhi oleh pandangan sosial mengenai peran perempuan dan laki-laki.

Konstruksi tersebut juga berkaitan dengan budaya patriarki yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan keluarga. Laki-laki cenderung ditempatkan sebagai pencari nafkah, sedangkan perempuan lebih dekat dengan peran domestik. Safriyanto et al. (2024) menjelaskan bahwa budaya patriarki dalam rumah tangga dapat berhubungan dengan ketidaksetaraan dalam pembagian peran.

Ketika pekerjaan rumah dianggap sebagai “pekerjaan perempuan”, keterlibatan laki-laki di dalamnya bahkan dapat dipandang sebagai bentuk bantuan. Padahal, membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan mengurus anak merupakan bagian dari aktivitas yang menopang kehidupan seluruh anggota keluarga. Karena itu, pekerjaan tersebut semestinya tidak hanya dipahami sebagai kewajiban salah satu pihak.

Persoalan pembagian kerja domestik menjadi semakin kompleks ketika perempuan juga bekerja di luar rumah. Memiliki pekerjaan atau menjalankan aktivitas ekonomi tidak serta-merta menghilangkan tanggung jawab perempuan di dalam rumah. Setelah menyelesaikan pekerjaan di ruang publik, pekerjaan domestik tetap menunggu.

Azmi (2022) menunjukkan bahwa perempuan yang menjalankan peran di ruang publik tetap menghadapi tanggung jawab domestik dalam keluarga. Kondisi tersebut membuat perempuan harus membagi waktu dan tenaga antara pekerjaan produktif dan pekerjaan rumah tangga. Situasi ini dikenal sebagai beban ganda (double burden), ketika perempuan menjalankan tanggung jawab ekonomi sekaligus domestik dalam waktu yang bersamaan.

Beban tersebut juga dapat ditemukan pada perempuan yang menjalankan aktivitas ekonomi secara mandiri. Arfa et al.(2023) menunjukkan adanya peran ganda pada perempuan pedagang kaki lima yang menjalankan aktivitas ekonomi sekaligus tanggung jawab dalam rumah tangga. Sementara itu, dalam rumah tangga pelaku UMKM kuliner, perempuan dapat terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan, tetapi pekerjaan domestik tetap menjadi bagian dari keseharian mereka (Suherman & Wahyuni, 2026).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pekerjaan berpenghasilan tidak selalu diikuti dengan pembagian pekerjaan rumah yang lebih seimbang. Ketika berbagai tanggung jawab berjalan bersamaan, waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas bagi diri sendiri dapat menjadi semakin terbatas.

Padahal, pekerjaan domestik memiliki peran penting dalam keberlangsungan keluarga. Ketika tidak ada yang memasak, makanan tidak tersedia. Ketika tidak ada yang mencuci, pakaian menumpuk. Ketika tidak ada yang membersihkan rumah, lingkungan tempat keluarga beraktivitas menjadi tidak terawat. Meskipun tidak selalu menghasilkan pendapatan secara langsung, pekerjaan domestik tetap membutuhkan waktu, tenaga, dan perhatian.

Karena itu, pekerjaan rumah tidak semestinya dipandang sebagai pekerjaan yang kurang bernilai hanya karena tidak memberikan penghasilan secara langsung. Pekerjaan tersebut justru memungkinkan anggota keluarga menjalankan aktivitas lainnya dengan lebih baik. Perawatan rumah, pengasuhan anak, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas pekerjaan rumah? Jawabannya tidak semestinya hanya perempuan ataupun laki-laki. Pekerjaan domestik merupakan bagian dari kehidupan bersama sehingga tanggung jawabnya dapat dibagi kepada seluruh anggota keluarga sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing.

Pembagian tersebut tidak harus selalu dilakukan dengan porsi yang sama. Setiap keluarga memiliki kondisi, kebutuhan, dan kesepakatan yang berbeda. Namun, pekerjaan rumah sebaiknya tidak otomatis diberikan kepada perempuan hanya karena ia perempuan. Laki-laki yang memasak, mencuci, membersihkan rumah, atau mengurus anak bukan sekadar sedang “membantu” perempuan, melainkan turut menjalankan tanggung jawab sebagai anggota keluarga.

Pembagian peran yang lebih setara juga dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Bergantian mencuci piring, membersihkan rumah, memasak, atau mengurus anak merupakan langkah kecil yang dapat membentuk pola baru dalam keluarga. Kebiasaan tersebut juga dapat menjadi pembelajaran bagi anak bahwa pekerjaan domestik bukan berdasarkan jenis kelamin.

Kesetaraan gender selama ini sering dibicarakan melalui akses pendidikan, kesempatan bekerja, dan keterlibatan perempuan di ruang publik. Namun, kesetaraan juga berawal dari lingkungan paling dekat, yaitu keluarga. Rumah menjadi salah satu tempat pertama bagi anak untuk mengenal bagaimana perempuan dan laki-laki menjalankan peran mereka.

Jika sejak kecil anak melihat pekerjaan rumah hanya dilakukan ibu atau anak perempuan, pemahaman tersebut berpotensi terbawa hingga dewasa. Sebaliknya, ketika seluruh anggota keluarga terbiasa berbagi pekerjaan domestik, pembagian peran yang lebih setara dapat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pekerjaan rumah bukan sekadar urusan siapa yang memasak, mencuci, atau membersihkan rumah. Di dalamnya terdapat cara sebuah keluarga memandang peran, tanggung jawab, dan kesetaraan. Jika manfaat dari pekerjaan domestik dirasakan bersama, tanggung jawabnya pun layak dipikul bersama. Kesetaraan gender dapat dimulai dari rumah, dari mengubah pekerjaan domestik yang selama ini dianggap sebagai “tugas perempuan” menjadi tanggung jawab keluarga.

Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Gender dan Pemberdayaan Perempuan dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan 

Referensi:

Azmi, L. (2022). Analisis gender peran ganda perempuan pekerja (studi kasus di Kelurahan Pancor, Lombok Timur, NTB). Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming, 16(1). https://doi.org/10.20414/qawwam.v16i1.5256

Safriyanto, R., Ningsih, F., Frederick, J. R., & Isyanawulan, G. (2024). Analisis budaya patriarki terhadap kesetaraan gender perempuan dalam rumah tangga. Jurnal Ilmiah Publika, 12(2), 166–174. https://doi.org/10.33603/publika.v12i2.10182

Soebiyantoro, S. A. (2015). Praktik penindasan pada rumahtangga buruh tani berdasarkan perspektif feminis Marxis. Paradigma, 3(1).

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.