Home Kuliner Klappertaart Khas Manado, Manisnya Warisan Kuliner yang Tak Lekang Waktu
Kuliner

Klappertaart Khas Manado, Manisnya Warisan Kuliner yang Tak Lekang Waktu

Share
Sumber: Kompas.com

Oleh: Siti Aisyah

Suara USU, Medan. Manado sering kali membuat orang langsung membayangkan deretan hidangan pedas yang menggugah selera. Cakalang fufu yang diasap dengan aroma khas laut, bubur tinutuan yang sarat sayuran sehat, hingga rica-rica yang dikenal mampu membakar lidah, semuanya telah melekat sebagai ikon kuliner dari ibu kota Sulawesi Utara ini. Namun, di balik dominasi cita rasa pedas yang begitu kuat, ada satu kejutan manis yang tak kalah menggoda, yaitu klappertaart. Kudapan lembut berbahan dasar kelapa muda ini tidak hanya menawarkan rasa yang menenangkan setelah santapan pedas, tetapi juga menyimpan kisah panjang mengenai pertemuan budaya, perjalanan sejarah kolonial, hingga lahirnya identitas kuliner Manado yang terus bertahan sampai sekarang.

Nama klappertaart berasal dari bahasa Belanda yang menggabungkan kata klapper yang berarti kelapa dan tart yang berarti kue. Hidangan ini diperkirakan lahir pada masa kolonial Belanda di Manado pada awal abad ke-20. Saat itu Belanda memperkenalkan tradisi membuat kue, roti, dan aneka pastry ke tanah jajahan termasuk Sulawesi Utara. Resep-resep khas Eropa tersebut kemudian beradaptasi dengan bahan lokal yang melimpah terutama kelapa muda yang menjadi komoditas utama masyarakat pesisir.

Awalnya klappertaart hanya disajikan di kalangan keluarga Belanda atau kelompok elite yang terhubung dengan budaya Eropa. Seiring waktu, masyarakat lokal mulai mengembangkan variasi resepnya. Dari sinilah terjadi akulturasi yang mempertahankan teknik memanggang ala Eropa sekaligus menghadirkan sentuhan tropis berupa kelapa muda, susu, dan rempah-rempah seperti kayu manis. Kini klappertaart bukan hanya simbol peninggalan kolonial, melainkan bagian penting dari identitas kuliner Manado yang mendunia. Kudapan ini bahkan menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Utara.

Daya tarik klappertaart terletak pada teksturnya yang lembut serta perpaduan rasa manis dan gurih. Bahan utamanya terdiri dari kelapa muda, tepung terigu, telur, mentega, dan gula yang diolah hingga menghasilkan adonan kental. Setelah itu adonan dipanggang hingga lapisan atasnya berwarna kecokelatan. Beberapa resep juga ada yang dikukus atau disajikan tanpa pemanggangan sehingga menghasilkan tekstur lebih lembut menyerupai puding.

Kombinasi segarnya kelapa muda, creamy-nya susu, dan aroma kayu manis menciptakan sensasi rasa yang khas. Tak jarang kacang kenari atau kismis ditambahkan sebagai topping sehingga memperkaya rasa gurih dan manis sekaligus menjadikan klappertaart cocok sebagai hidangan penutup setelah menyantap sajian pedas khas Manado.

Meski resep klasiknya tetap digemari, klappertaart terus berinovasi mengikuti selera zaman. Kini banyak toko kue dan usaha rumahan di Manado menawarkan variasi rasa mulai dari keju, cokelat, durian, hingga blueberry. Bentuk penyajiannya pun semakin praktis, dari loyang besar tradisional menjadi cup sekali makan yang lebih cocok untuk generasi muda.

Lebih dari sekadar makanan manis, klappertaart memiliki makna sosial yang mendalam. Dalam tradisi masyarakat Manado, kue ini kerap hadir pada perayaan keluarga, hari Natal, atau acara besar lainnya. Hal ini menunjukkan keterbukaan masyarakat Manado terhadap pengaruh budaya asing sekaligus kemampuan mereka menjadikannya bagian dari identitas lokal.

Klappertaart adalah contoh nyata bagaimana kuliner dapat menjadi catatan sejarah yang hidup. Makanan yang dulunya hanya dinikmati kalangan terbatas kini menjelma menjadi simbol kuliner bersama yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Tidak berlebihan jika klappertaart disebut sebagai warisan kuliner yang berhasil dilokalisasi dan diwariskan lintas generasi.

Dalam perjalanan panjangnya, klappertaart membuktikan diri lebih dari sekadar kue manis. Ia adalah saksi perjumpaan budaya, wujud kreativitas masyarakat Manado, sekaligus identitas kuliner yang tetap bertahan di tengah gempuran tren modern. Dengan tekstur lembut, cita rasa gurih, dan manis yang khas, klappertaart terus menjadi pilihan favorit pecinta kuliner.

Karena itu, ketika berkunjung ke Manado jangan lewatkan kesempatan mencicipi klappertaart. Di balik setiap sendokannya tersimpan jejak sejarah kolonial, kekayaan bahan lokal, dan kehangatan budaya Sulawesi Utara. Sebuah bukti bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, melainkan juga cerita yang hidup dari masa ke masa.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.